Mengenang 44 Tahun Kepergian Putra Sang Fajar

3
945
Bung Karno
Bung Karno
Bung Karno

JAKARTASATU.COM, JAKARTA – Bulan Juni adalah bulan Bung Karno, demikian ungkapan yang sering lahir dan keluar dari banyak mulut orang. Rasanya tidak salah jika mengidentikkan bulan Juni dengan mantan Presiden Republik Indonesia (RI) sekaligus bapak pendidi bangsa tersebut.

Sebab pada bulan Juni banyak sekali peristiwa sejarah yang berhasil ditorehkan oleh Putra Sang Fajar. Mulai dari perumusan Pancasila yang dibacakan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni, kemudian kelahiran Bung Karno sendiri pada tanggal 6 Juni, hingga kematian Bung Besar pada tanggal 21 Juni 1970.

Tepat 44 tahun lalu, putra Sang Fajar itu terbaring tidak berdaya dan akhirnya menghembuskan nafas akhirnya di rumah tahanan wisma Yaso. Selain menderita penyakit ginjal Penggagas Gerakan KTT Non Blok yang juga Bapak bangsa Indonesia itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah dikucilkan dari hiruk-pikuk situasi politik saat itu.

Setelah peristiwa G30SPKI pesona Bung Karno kian meredup, wibawa dan kharisma besar yang dulu dimilikinya untuk menghipnotis rakyat kian memudar. Sejak saat itu semua kekuatan dan kewenangan Bung karno dilucuti oleh kekuatan militer yang dikendalikan militer, pimpinan Jenderal Soeharto.

Ya, tiap massa akan selalu ada orangnya dan tiap orang mempunyai masa sendiri, Begitulah perumpanaan yang tepat dengan Bung Karno. Setelah perjalanan panjang yang meletihkan untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan, Putra Sang Fajar itu harus kembali ke pangkuan Ilahi dan berpulang selama-lamanya pada tanggal 21 Juni 1970.

Kepergian putra Ida Ayu Nyoman Rai itu disambut isak tangis oleh puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia. Meski tentara menghadiri pemakaman Bung Karno, namun rakyat tetap berdiri, berjejer dan hampir 5 kilometer antrian pelayat yang datang berkunjung ke rumah duka kala itu. Hal itu sekaligus menunjukkan rasa cinta rakyat yang demikian besar dan mendalam kepada sosok Bung Karno. Hingga kini rasa cinta itu masih demikian kuat dan bisa dirasakan dimana-mana.

Kini, Bung Karno sudah pergi dipanggil Tuhan Yang Maha Esa (YME). Jasadnya memang sudah tidak ada dan menjadi tulang-belulang. Namun semangat, spirit, cita-cita besar Bung Karno yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 masih ada hingga kini.

Bung Karno belum bisa meninggal dengan tenang dialam baka sana, selama prinsip keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan persatuan Indonesia belum bisa berjalan dengan baik.

Bung Karno adalah sang pemula, sang proklamator yang posisinya tidak akan bisa digantikan oleh siapapubn juga. Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia, bukan milik golongan atau partai politik tertentu. Darimu kami belajar banyak tentang arti cinta tanah air, arti spirit Islam, dan arti bangsa yang merdeka dan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

Selamat jalan Bung, baktimu akan selalu kami kenang. Semoga Tuhan memberikan tempat layak disisinya. Kami hanya bisa mengiringi kepergian dirimu dengan lantunan doa. Semoga Rohmu diterima dan ditempatkan ditempat paling mulia. Amin..Merdeka !!! (MARC/JAKS).