Masihkah Kita Layak Menyebut Pertumbuhan Ekonomi?

0
2515
Abu Muas Tardjono

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Banyaklah sebenarnya sinonim kata, “tumbuh” dalam bahasa Indonesia di antaranya berkecambah, bersemi, bertunas, hidup, muncul, terbit, timbul, berkembang, bertambah, maju, mekar, menanjak, dan atau meningkat. Antonimnya “mati” jika dalam dunia tanaman atau dalam istilah lain bisa disebut tenggelam.

Jika kita mau merujuk seabrek sinonim kata tumbuh seperti di atas, masih layakkah kita mengatakan, “pertumbuhan” ekonomi jika realitanya minus lima koma tiga puluh dua? Apakah tidak sebaiknya istilah pertumbuhan ekonomi negara kita yang sedang kolep ini kita ganti dengan antonimnya, misalnya dengan istilah penenggelaman atau kejeblokkan ekonomi atau yang lainnya?

Permasalahannya, jika kita masih menggunakan istilah pertumbuhan padahal realitanya kondisi ekonomi negara tenggelam malah tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah baru. Masalahnya para penentu kebijakan ekonomi masih merasa enjoy dengan istilah pertumbuhan padahal kondisi ekonomi sudah babak-belur.

Bahkan dari penentu kebijakan negeri ini ada ajakan agar memborong produk lokal biar RI tidak jatuh ke jurang resesi, sementara telah berjuta-juta pekerja dalam negeri harus mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19, tapi di lain sisi realitanya berkloter-kloter tenaga kerja asing (TKA) masih berdatangan ke negeri ini?

Kondisi ekonomi negara yang tenggelam hingga -5,32, diakui atau tidak, para penentu kebijakan ekonomi negeri ini terindikasi sudah mulai bingung, linglung atau limbung sehingga dalam mengambil kebijakan malah cenderung dapat menjerumuskan ke jurang resesi yang lebih dalam lagi?

Kita tunggu solusi cerdas dari penentu kebijakan ekonomi negeri ini untuk layak kembali menggunakan kata “pertumbuhan ekonomi” jika bisa keluar dari kondisi tenggelam -5,32 ke arah plus sehingga kita layak atau pantas lagi berucap dengan kata “pertumbuhan ekonomi”, bisakah?