NGOPIPAGI: UNTUK SAHABAT

0
349

Sahabat waktu kuliah bertemu lagi. Bertemu di Facebook. Saya sama dia sudah lama tak jumpa. Bambang S saya sebut dia. Ia berkerja di sebuah BUMN, ia pencinta kopi ia juga penyair tulisan apik dan inspirasi. Kawan Prabu paling duluan like kalau Bambang bikin status di FB yang berpuisi penuh retorika dan sublim.

Bambang suka yang masih ngopinya juga masih dengan gula. Saya pernah berseloroh gulanya buat semut saja. Minum kopi utuh yang giling. Artinya kopi yang digiling bukan di gunting dalam sachet. Dia bilang belum bisa kopi tanpa gula, terlalu pekat dan pahit. Saya bilang lagi pahit itu herbal, kopi hakekatnya herbal.

Coba hubungi Sukma dia pencinta kopi yang baik minum kopi dengan seduhan yang cita rasa tinggi. Sukma masih kawan kuliah yang sama-sama kita akhirnya mencintai Kopi. Hermana juga pencinta kopi. Kita sering ngopi di Los Tjihapit tanpa Gula. Kedai Los Tjihapit milik Kang Bayu, kang Bayu kawan baik kang Armandria. Kedai ini banyak berkumpul kawan-kawan baik seniman, wartawan, penulis, bahkan artis dan selebritas atau bahkan komunitas sepeda dll. Tempatnya enak selain ada di jantung kota Bandung kedai ini asyik untuk diskusi apapun.

Saya dengar Sukma kini malah punya cafe sendiri saat ini di Naripan dengan Sankara dan CoffeeChannel. Kang Armandria punya kedai kopi Sabaraya di Jalan Tikukur Bandung. dan saya pemilik #234Coffee yang jualannya online untuk Jabodetabek. Prabu pernah saya kirim kopi arabica, kopi saya banyak dari West Java Arabica. Akibat sering bicara West Java Arabica di FB, Bambang penasaran akhirnya dia minat dan bersedia dengan  Kopi Arabica. Baiklah…

Bicara West Java Arabica saya teringat tulisan kawan saya dan mentor saya tentang kopi,  Prawoto Indarto beliau adalah penulis Buku The Road to Java Coffee dalam satu tulisannya ia menulis tengang “Perjalanan Secangkir Kopi, Priangan Sang Legenda”.

Saya sebagian kutip tulisannya: Dalam konstelasi industri kopi dunia, peran Pulau Jawa, khususnya Priangan, tidak mungkin dihilangkan. Priangan, kini Jawa Barat, adalah rumah bagi lahirnya legenda sekaligus ikon industri kopi dunia, Java coffee. Sejarahnya sempat ‘terkubur’ karena peristiwa luar biasa yang saya sebut sebagai Java effect. Akibat serangan penyakit karat daun (hemileia vastatrix) seluruh perkebunan kopi Arabika di Jawa dan Ceylon*) luluh lantak yang mendorong evolusi besar di industri kopi dunia. Produsen kopi Arabika mulai bergeser dari Asia ke Amerika Latin, Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia.

Di Jawa, Priangan sebagai salah satu kebun kopi Arabika tertua di dunia mulai beralih ke tanaman teh. Tananam kopi mulai bergerak ke arah timur pulau Jawa dengan jenis tanaman baru, coffea canephora var, robusta, atau popular disebut kopi robusta. Negeri yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling penting dalam proses penyebaran benih kopi Arabika di benua Amerika termasuk Kepulauan Karibia ini, lalu beralih menjadi produsen dan eksportir kopi Robusta dunia.

Memasuki awal abad 19, Priangan lebih dikenal sebagai wilayah penghasil teh kelas dunia. Dengan kontribusi sekitar 70 persen produksi teh Indonesia, secara perlahan, bayang-bayang Priangan sebagai kebun kopi tertua di dunia itu mulai tereliminasi dari peta industri kopi dunia, bahkan industri kopi nasional.

Secara legal kopi baru ditanam kembali di Jawa Barat (Priangan) sekitar tahun 2001 setelah ada kesepakatan bersama antara masyarakat di sekitar hutan lindung yang tergabung di dalam “Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)” dengan pihak Perhutani melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Sehingga di masa penanaman ulang ini, sekitar 90 persen tanaman kopi di Jawa Barat tumbuh dan dibudidayakan di area Perhutani serta dipasarkan dengan nama Java Preanger coffee.

Asal Usul Kopi

Dari semua legenda dan literatur, Ethiopia disepakati sebagai tempat asal mula tanaman kopi ditemukan. Minuman yang sempat memperoleh predikat sebagai ‘Anggur Arab” tersebut akrab dengan peradaban masyarakat muslim di era kekhalifahan.

Kisah Khaldi dan kambingnya. Cerita gembala Khaldi bersama kambing-kambinnya yang menari-nari riang gembira selalu menjadi awal ketika orang di seluruh dunia membicarakan kopi. Konon pada suatu hari, Khaldi melihat kambing piarannya melompat-lompat kegirangan. Usut punya usut, di bawah tanaman asing Khaldi melihat kulit buah beri merah yang terkelupas. Rasa penasaran mendorong Khaldi untuk makan buah tersebut. Sehabis makan buah tersebut, Khaldi merasa segar dan bersemangat. Kisah Khaldi dan kambing peliharaannya lalu berkembang menjadi cerita yang berkembang menjadi legenda awal tanaman kopi mulai ditemukan. Cerita ini mengalir seiring penyebaran kopi diseluruh dunia. Namun sejak abad 18, Java adalah kata yang selalu disebut bila orang di dunia membicarakan kopi.

Nah cakrawala kopi Java ini menjadi membumi lagi saat ini. Disaat semua orang bicara kopi, mmebuka warung kopi, dll. Saya masih percaya bahwa ada orang-orang eropa saking sukanya kopi Java Arabica ini menyebut ingin kopi ini dengan menyebut: “Saya ingin Java…” sebutan ini bukan halusinasi namun sebuah kenyataan dan sejak abad 18 ini dibuktikan, dalam The Road to Java Coffee adalah buktinya.

Nah Bambang…Kopi sudah saya kirim ya.. silakan nikmati setiap seduhannya. NgopiPagi enak dengan West Java Arabica loh..Ini serius, karena perjalanan secangkir kopi bisa bikin puisi berjumlah-jumlah. Atau hanya sekadar untuk teman membaca novel, begitu sahabatku Bambang…..

17SEPETEMBER2020

#CATATANJAKARTASATU

@aendrahkartadipura