Elaborasi

0
457

Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni.

Ketika semarak warna semusim penggayaan membentangkan diri pada kelam di sunyi adaptif. Sampailah pesan kepada marun, sekalipun mencoba bersegera meretas diri dibalik hitam. Musim telah menulis cuaca kepada waktu. Jika mungkin badai akan datang kepada marun, di transisi, entah mungkin di waktu kapan pun.

Ketika itulah awal dari degradasi menuju titian kelahiran pesona aktualitas nila pada secercah noktah di antara sepia meski tak serupa coklat muda. Kabarkan kepada nyanyian, tentang sembunyi di senyap temaram warna daun, bahwa prosesi baru saja dimulai, meski hujan memberi makna, namun surga dianggap tak ada, lebih baik memilih neraka, sebab karma pun telah dianggap fatamorgana.

Tentang warna sekunder atau primer, sekadar memenuhi keinginan dari komposisi sebelum di kanvaskan menjadi lukisan halusinasi serupa surealisme Salvador Dali, atau mungkin kelabu tak perlu risau, hibitat akan segera terbentuk ketika nirmana degradasi menawarkan cahaya kelam, seolah-olah pertemuan kehidupan di antara pelangi, sekalipun bersifat kesementaraan waktu tenggat, parodi tonil hua-hihi-hi.

Mungkin, ketika itulah metabolisme pewarnaan nila setitik rusak susu sebelanga, hitam berevolusi semakin pekat sempurna, melibas, putih pun merana, molekuler toksik telah melebur pewarnaan metahistoris, neogenetika–bersegera absolut, barangkali.

Meski tak seiring musikalisasi partitur pujangga dalam gelap, akan tetap mengisahkan lagu tentang asmaradahana bercadar Casanova ataupun Cleopatra, di zaman bintang kelabu ber-zodiac cuaca ramalan para empu di tarih masehi zaman. Kresna, akan memanah matahari jika insan semesta, enggan memahami makna tentang bening.

Simfoni lagu asmara, menulis cinta di bawah bayang-bayang, berkisah pada musim bahwa warna bara dalam sekam bermakna magma, menyulut langit birahi neraka, berserentak euforia alegori menari-nari di siang bolong.

Alur semarak dramaturgi, monolog kaki langit sosio alfanumerik, meraih bintang meminjam rembulan, sekalipun langit berbeda peradaban bumi–cinta dibeli dengan setangkai mawar berduri.

Cinta, mungkin hanya ada di langit, sejak waktu berjalan dalam detik cuaca tanpa limit. Bumi tampak indah dari sudut pandang atmosfer, senantiasa memberi kesejateraan oksigen, konon, Salam sehat Indonesia.

Jakarta Indonesia, Maret 2, 2021