Film Pendek Indonesia Tembus Festival Film HAM London

5
905

pendekfilmJAKARTASATU.COM – Film pendek karya sineas muda Indonesia Amanda Valani yang berjudul “A Long Way to Go,” berhasil menarik perhatian dalam festival film bertemakan HAM (Hak-hak Asasi Manusia) di London, awal pekan.

Film dokumenter pendek karyanya berkisah tentang pencarian identitas seorang transgender asal Inggris yang akhirnya memeluk Islam sebagai agamanya.

Amanda Valani, yang sedang mengambil program master dalam bidang dokumenter di Goldsmith University of London kepada Antara London, Kamis mengatakan film berkisah tentang mantan tentara Inggris kini mengalami depresi akibat penolakan dan tindakan intimidasi dari keluarga serta lingkungan sekitarnya.

Lucy (29), yang mengubah namanya menjadi Layla setelah menjadi seorang mualaf, menceritakan bahwa ia mendapatkan kedamaian saat belajar lebih dalam mengenai Islam melalui Al-Quran.

“Very peaceful,” ujar Layla yang dilahirkan di Cirencester dan akhirnya pindah ke Swindon yang senang menikmati nyanyian syahdu kelompok musik Islami dari telepon genggamnya.

Kisah nyata Layla yang kini mengenakan jilbab dan menetap di kota Swindon mengakui bahwa ia menemukan kedamaian dengan menjadi seorang muslimah.

Usaha Layla untuk meyakinkan identitas dirinya sendiri itu sebagai seorang lelaki dilakukannya dengan masuk sekolah militer . Tapi pada akhirnya memutuskan untuk keluar militer karena yakin dia ingin menjadi perempuan.

“Sayangnya pengurus di mesjid tidak mengizinkannya sholat di mesjid bersama jamahah wanita lainnya, akhirnya Lucy hanya menjalankan ibadah sholat lima waktu di rumahnya.

Film “A Long Way To Go” terpilih sebagai delapan nominasi film dokumenter terbaik diantara ratusan film yang masuk dalam kompetisi film antar mahasiswa se-Inggris Raya yang diadakan oleh Human Rights Watch.

Amanda mengatakan membuat film bertemakan muslim transgender sudah menjadi salah satu obsesi saya sejak beberapa tahun lalu, namun baru tahun ini terealisasi.

Menurut gadis yang bekerja di stasiun Metro TV ini, di Indonesia isu transgender sangat sensiif jika dikaitkan dengan agama Islam, sehingga sulit untuk ditayangkan secara luas.

Salah satu tantangan membuat film ini adalah perbedaan budaya antara dirinya dan subyek film tapi pada akhirnya bisa berjalan lancar karena Layla menaruh kepercayaan besar terhadap saya dalam membuat film mengenai hidupnya, demikian Amanda Valani.