Pengacara RW: Pertemuan Pertama Sunarto Sitok Sudah Gagahi Korban, kenapa kini Mau di SP3?

0
1402

photo 3 (3)JAKARTASATU — Iwan CH Pangka, pengacara RW, yang jadi korban  perkosaan ‘buayawan’ Sunarto alias Sitok Srengenge Jumat Siang (12/9) di Bilangan Tebet Jakarta bertemu segelintir media saja, ia bahkan terlihat enggan mengangkat telepon dari sebuah media besar yang selama ini membela pelku perkosaan dan merugikan korban.

Kami melihat ada sepuluh kali lebih sang penelpon dari media itu yang namanya sudah di Save di HP Iwan Pangka. Nama orang penelpon dan juga medianya telihat jelas, namun Iwan asyik saja terus bercerita pada kami salah satunya. Media yang diundang Iwan memang hanya terpilih itu pun dianggap Iwan masih kelihatan bisa membantu dibanding media yang selama ini merugikan kliennya dalam hal ini RW yang jadi korban.  Iwan memang telah mengundang media terpilih alasannya, saya kalau ngomong ke media yang “itu” tanpa mau–menyebutkannya– selalu diplentir. “Saya kecewa, dan banyak info malah dikirim ke PH pelaku hehehe…”seloroh  Iwan. 

Iwan juga yakin jika telpon yang sudah lebih dari 10 kali telepon ini tetap akan jadi berita, bahwa nantinya akan disebutkan sampai tulisan ini diturunkan pihak IP tak mengangkat HPnya atau apalah….

Saya prihatin media besar telah berulang kali menggiring opini bahwa kasus ini akan dihentikan atau SP3 oleh polisi, jelas Iwan.

Justru kata Iwa saya menghargai polisi agar jangan terjebak opini media, dan harusnya juga bisa menuntaskan kasus ini dan pelakunya dijerat.

Sebelumnya Iwan Ch Pangka sempat mengirimkan rilis kesejumlah media termasuk kami yang menerima (10/9) yang kami sudah muat silakan http://www.jakartasatu.com/2014/09/11/iwan-pangka-sp3-sesat-kasus-perkosaan-buayawan-sitok-dijadikan-kepentingan-ideologi-liberal-humanisme-ui-harusnya-melawan/

photo 1“Sebetulnya issue ini sudah timbul sejak tanggal 22 Juli 2014, yang pertama kali dimuat di Jakarta Post. Dan terus berulang hingga sekarang. Saya tidak  pernah mengerti maksud dan tujuannya apa? Sehingga timbul pemberitaan yang buat saya, sangat tidak menggembirakan karena pemberitaan itu mempunyai potensi menenggelamkan harapan khalayak banyak akan kasus kasus kejahatan seksual di masa mendatang akan terkuak,”ujar Iwan.

Saya berharap pemberitaan yang timbul di media jangan sampai terjadi apa yang dinamakan penggiringan opini, seakan akan masyarakat di giring dengan pernyataan yang sifatnya politis serta masyarakat akan dijejali informasi yang sangat menyesatkan atas kasus Sitok Srengenge ini.

Dampaknya tentu akan berpengaruh pada psikis korban, korban telah “diperkosa” untuk kesekian kali dengan adanya pemberitaan yang sama sekali menunjukkan tidak adanya berpihak pada perspektif terhadap korban dan seolah olah masyarakat digiring pemikirannya bahwa kasus ini sudah pasti di SP3 kan serta Gelar perkara cuma dianggap ritual formalitas saja.

Keadaan ini tentu juga sangat tidak kondusif, sangat tidak produktif buat aparat hukum kepolisian yang sebetulnya mempunyai keinginan  yang baik untuk mengungkap kasus ini secara jelas dan terang benderang serta keinginan untuk melakukan terobosan hukum dengan menggunakan paradigma hukum progresif agar bisa mengejar perbuatan/tindak  kejahatan/kekerasan seksual yang semakin lama semakin canggih dalam hal modus.

Berikut adalah Wawancara Iwan CH Pangka dengan 3 media terpilih:

Bisa diceritakan awal kasus RW yang digagahi oleh penyair itu?

Begini mas, tidak mungkin seorang RW dalam hal ini laki – perempuan dalam satu kamar kalo mereka suka sama suka pasti mereka sama-sama (*maaf) telanjang bulat dua-duanya. RW waktu ‘digagahi’ oleh Sunarto alias Sitok, baju pun masih melekat (dibadannya), dipaksa secara sadis dipeloroti celananya dibawah tekanan.

(Iwan  menjawab pertanyaan kami sambil membiarkan dering telpon puluhan kali dari media besar di Indonesia, kami lihat nama wartawan dari media besar itu berinisial “L”) Lalu ia mengatakan “biarin aja saya tak mau terima yang menelpon ini, saya sudah tidak pernah mau melayani media itu,” jelas Iwan.

Kita lanjut saja ceritanya jadi, Sunarto yang penyair itu  menggiring korbannya dalam empat fase. Tipu daya, penghancuran mental, penguasaan kedaulatan tubuhnya korban dan setelah itu lalu jadi boneka seks dan dia lalu hancur.

Pernah ada satu saksi, korban lain dari Sunarto itu lain yang kita temui dan tak mau dijadikan saksi karena sudah menjadi keluarga yang baik, “Itu masa lalu saya mas” kata korban Sitok yang lain. Trauma samapia ke sana, atau takut tak tahu saya.

Sitok saat diperiksa Polda Metro Jaya (suara.com)
Sitok saat diperiksa Polda Metro Jaya (suara.com)

Ada korban lain? Berapa orang kira-kira?

 Oww banyak… yang ikut sama Kami bikin BAP saja ada dua orang. Anak Bandung dan Jakarta. Tapi sebelum-sebelumnya itu ada korban yang kami temui tidak mau sama sekali. (Korban bilang) “Saya sudah tak mau mengingat masa lalu lalgi. Denger nama Sunarto Sitok ia ngambil (air) wudhu, apa ngak gila itu (korbanya Sunarto Sitok itu! 

Apakah RW diancam Sitok?

Sunarto Sitok punya kebiasaan,  jago caranya menaklukan orang, mungkin punya ilmunya ya. Dan dia (Sunarto Sitok) selalu mengancam, dan mengancamnya lihai.

Tidak ada ditelepon dia mengancam, dia jago, dia punya pengalaman gitu. Jadi kalau dibuka Whatsappnya, BBMnya, telepon tidak ada, ga ketauan. Itu seperti sudah direncanakan.

Tapi, kalo orangnya nggak nurut (Sunarto Sitok) sudah dibentak sama Sunarto  Sitok,  dibawah tekanan, dia menghancuran mental.

Jadi selalu dibawah tekanan?

Dibawah tekanan, penghancuran mental mas, jadi seperti gini lho… pengemis jalanan, anak-anak kecil itu hancurnya bukan karena ‘perut’ aja, tapi dihancurkan mentalnya untuk untuk jadi pengemis. Sama  kaya human trafficing juga begitu, psk-psk kecil itu juga begitu. Kalo mentalnya tidak dihancurkan (mereka) ga mau jadi psk. Kalo tidak ditempiling (ditampar) sama (germo) dia. Itu yang dilakukan Sunarto Sitok.

Sedangkan undang-undang mengenai perkosaan pasal percabulan, asusila itu, jauh tertinggal. Antara Pasal susila dengan lajunya modus kejahatan susila tidak nguber.

Jadi orang seperti Sunarto Sitok ini tidak bisa terjerat, karena harus ada tiga unsur, ada persetubuhan, ada sperma, ada luka disetubuh. Mana ada jaman sekarang model begitu, mas? (Awalnya) dengan cara halus kok.

Mas tau, bukan tabu saya bicara, secara daya tarik seksual RW biasa saja, nah Sitok itu gak mau sama cewek-cewek yang bahenol. Takut dia karena biasanya cewek yang Bahenol berani lawan Gitu lho..

Terus langkahnya gimana anda sebagai Penasehat Hukum (PH)?

Saya berharap polisi segera menyelesaikan kasus ini dan Sunarto Sitok itu diproses hukum, karena saya curiga ada yang memainkan peran lebih dibalik kasus Sunarto Sitok ini untuk mempertahankan Ideologis tertentu. Kalau Sunarto Sitok ini kena maka hancurlah rencana kelompok itu, itu pintu masuk kasus Sunarto yang keji ini.(SON/JKST/NOZ)