Siapa yang Bohong: POLISI, HOTMAN PARIS atau SAKSI KUNCI?

402
1516

LamboHotman_0JAKARTASATU — Saksi kunci dalam kasus kecelakaan di Kilometer 17 Tol Wiyoto Wiyono-Jakarta Utara yang menewaskan sopir mobil boks Dedy Sulaeman pada Ahad padi (5/10) membantah keterangan yang selama ini dikatakan polisi dan pengacara Hotman Paris. Mulyono (33 tahun), yang merupakan kernet dari Dedy dan korban selamat pada kecelakaan itu, juga emoh ditemui Hotman di rumah sakit.

“Saya tidak mau ketemu dengan Pak Hotman di rumah sakit. Kalau mau ketemu saya di rumah saja,” ujarnya.

Ketika kecelakaan maut itu terjadi, katanya, dirinya dalam keadaan tertidur. “Saya kaget waktu mobil yang dikemudikan rekan saya terguling,” tuturnya.

Mulyono juga mengatakan, tidak ada pecah ban pada mobil boks yang dikemudikan Dedy saat kejadian. “Enggak ada pecah ban. Enggak seperti yang selama ini diceritakan Pak Hotman dan media,” katanya.

Ia mengatakan, ketika kecelakaan terjadi, dirinya langsung tak sadarkan diri, yang kemudian ditolong oleh seseorang dan dilarikan ke rumah sakit.

Mulyono kini sudah di rumah kembali, setelah dirawat tiga hari di rumah sakit. Ia keluar dari RS Sari Asih Ciputat, Tangerang, Banten  dengan mendapatkan pengawalan ketat dari pria besar berbadan tegak.

Anehnya, belum lagi Mulyono dimintai keterangan karena masih terbaring sakit, Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan cepat menyatakan kecelakaan yang melibatkan Hotman Paris Hutapea itu merupakan kecelakaan tunggal. “Itu kecelakaan tunggal sehingga tidak ada tersangka dalam kasus ini,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta, Ahad (5/10).

Menurut Rikwanto, tabrakan itu berawal saat mobil boks bernomor polisi B 9642 BCL mengalami pecah ban. Tepat di belakang mobil boks itu, meluncur kencang sebuah mobil jenis Lamborghini hijau dengan nomor polisi B 333 NIP, yang dikendarai pengacara yang juga kolektor mobil mewah itu. Karena tidak memungkinkan, kata Rikwanto, pengacara itu tidak dapat menghindar sehingga menabrak mobil boks tersebut.

Akibatnya, Dedy Sulaeman, sopir mobil boks itu, meninggal dunia dengan luka di kepala dan patah tulang, sedangkan kernet truk Mulyono dan Hotman mengalami luka ringan. Seusai kecelakaan itu, Hotman bersama beberapa saksi lainnya diperiksa secara intensif di Polres Metro Jakarta Utara.

Lain lagi apa yang dikatakan Satlantas Jakarta Utara AKBP Sudarmanto. Ia mengatakan,dugaan sementara soal kecelakaan yang melibatkan mobil Lamborghini Hotman Paris Hutapea dengan truk (boks) dan sebuah bus. Saat kejadian, katanya, ada tiga mobil yang melaju di Tol Wiyoto Wiyono Kilometer 17. Lajur paling kiri melaju truk bertuliskan JNE, lajur tengah ada bus Damri, dan lajur paling kanan mobil Lamborghini Hotman. “Hasil investigasi, truk pecah ban, terus terguling ke kanan, dan menabrak guard rail (pagar pengaman jalan), diduga ada bus Damri satu arah yang juga ikut oleng ke kanan karena tersenggol truk. Lajur paling kanan itu ada mobilnya Hotman Paris,” kata Sudarmanto.

Di lajur dua terdapat bus Damri melaju dengan kecepatan sedang. Sopir bus yang melihat truk oleng ke arahnya langsung menghindar ke lajur paling kanan atau lajur satu. Secara bersamaan, di lajur satu ada Lamborghini yang dikendarai Hotman Paris. Kecelakaan pun tak bisa dihindarkan, mobil mewah seharga kira-kira Rp 7 miliar itu langsung menabrak bagian belakang bus.

“Saat menabrak bagian belakang bus, mobil Lamborghini sempat oleng dan berhenti mendadak di lajur kanan,” ujar Sudarmanto.

Sudarmanto melanjutkan, saat bagian belakang ditabrak, sopir bus bukan menghentikan laju kendarannya, tapi tetap tancap gas dan langsung melarikan diri ke arah Pluit. Hingga kini, keberadaan bus dan sopirnya masih diburu petugas. “Sopir dan bus yang mengalami kecelakaan kami masukan ke daftar pencarian orang dan daftar pencarian barang,” ujar Sudarmanto.

Sementara itu, truk langsung oleng ke bagian kanan hingga menyerempet pembatas jalan yang terbuat dari beton. Akibatnya, truk yang dikendarai Dedy dan ada kernetnya, Mulyono, kembali oleng ke sisi kiri jalan dan langsung terbalik dengan posisi kanan truk di bawah dan posisi kiri truk di atas. Sopir truknya langsung terpental lewat kaca depan dan kepalanya membentur aspal jalan hingga mengalami pendaharan.

“Jadi, sopir truk tewas bukan karena ditabrak Lamborghini, melainkan karena truknya menyerempet guard rail ,terus sopirnya langsung terpental sebelum truknya terguling,” ujar Sudarmanto.

Sebelumnya, tak lama setelah kecelakaan tersebut, okezone.com mengutip informasi yang dilansir TMC Polda Metro Jaya bahwa tewasnya sopir truk bukan karena terbalik, melainkan ditabrak mobil Lamborghini yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi.

“Menurut informasi, sopir truk saat kecelakaan keluar dari truk, namun dirinya malah ditabrak Lamborghini yang melaju kencang. Setelah menabrak, mobil mewah tersebut kabur,” kata petugas TMC Polda Metro Jaya, Brigadir David, sebagaimana diberitakan okezone.com, Ahad (5/10).

David juga mengatakan, mobil mewah yang melakukan tabrak lari tersebut bernopol B 999 NIP dan berwarna hijau—yang belakangan diketahui dikemudikan Hotman Paris.

Hotman sendiri dalam keterangan kepada wartawan setelah menjalani pemeriksaan di kantor polisi pada Ahad lalu mengatakan, kecepatan sedan mewahnya yang ia kendarai hanya 60 kilometer per jam, karena baru saja bayar tol. “Mobil saya menyeruduk di bawah belakang mobil pariwisata itu. Mobil itu kayaknya enggak apa-apa dan langsung jalan aja,” ujarnya.

Menurut Hotman, saat melintas di Jalan tol Wiyoto Wiyono KM 17, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, mendadak ia panik lantaran mobil bus pariwisata yang ada di depannya banting setir ke kanan hingga tabrakan terjadi. Hotman mengaku tak bisa menghindar. “Saya dalam posisi tidak bisa menghindar karena posisi saya berada paling kanan. Mobil pariwisata itu langsung kabur setelah saya tabrak dari belakang. Di depan saya sudah terguling mobil boks. Saya baru tahu dari penyidik mobil itu terguling akibat ban pecah,” ujar Hotman.  ***( ASN-DJE/JKST/TY)

– See more at: http://asatunews.com/hukum-kriminal/2014/10/08/siapa-bohong-polisi-hotman-paris-atau-saksi-kunci#sthash.enU8H3c0.dpuf