JAKARTASATU — Arus besar publik saat ini melihat bahwa yang paling punya kendali di Istana adalah klik KMP (Kalla-Mega-Paloh).Ada yang luput dalam pandangan publik, bahwa ada kekuatan politik dan ekonomi yang sudah awal menyusup dan memegang jaringan kuat di Istana. Padahal Mega Paloh sendiri cenderung sudah ditutup aksesnya ke lingkaran istana, Jokowi sendiri masih diam dan mengamati siapa-siapa pemain di Istana, pasca ditutup akses PDIP ke Istana.

Dihembus-hembuskannya istilah KMP (Kalla-Mega-Paloh) menguasai Istana bahkan tiap intelektual dan aktivis yang ke istana untuk diundang pengurus istana (setkab) kemudian dibangun isu seakan-akan ada KMP yang membelit Jokowi, sebenarnya adalah pelaburan pengamatan public, kaum aktivis dan intelektual diarahkan persepsinya bahwa Megawati-lah yang selalu mengganggu Jokowi, padahal secara persis tidak ada kekuatan politik di garis Megawati yang berada dalam lingkaran Jokowi, justruada tiga kekuatan yang berada di luar garis politik Megawati, yang amat berpengaruh dan ini tidak ada kaitannya dengan kekuatan politik Megawati, tapi kekuatan yang bermain bebas dan amat neoliberal, mereka ini disebut kelompok Trio Macan di Istana.

Trio Macan Membelit Istana

Trio Macan yang menjajah Istana Merdeka saat ini adalah : Rini Soemarno, Luhut Panjaitan dan Andi Widjojanto, merekaadalah orang-orang yang saat ini secara riil punya kekuatan politik yang bisa langsung mengakses kepada kebijakan-kebijakan penting Jokowi.

Arah politik Trio Macan ini berada pada garis edar “Liberalisme Ekonomi” yang menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat kekuatan politik. Kelompok ini dengan cerdik berhasil menghancurkan kekuatan-kekuatan pokok PDI Perjuangan yang berhaluan Nasionalis-Sukarnois, dan juga dengan cantik mengarahkan persepsi public bahwa PDIP adalah “Partai yang harus dicoreng dalam pandangan public”.

Sebelum masuk kepada kiprah kekuatan “Trio Macan Istana” baiknya kita lihat peta dialektika perebutan pengaruh dalam konstelasi politik Internasional.

Konstelasi Politik Internasional

Wilayah Asia Tenggara adalah wilayah yang paling diincar oleh kekuatan politik raksasa. Sukarno sendiri melihat Asia Tenggara juga sebagai wilayah yang harus dibebaskan oleh pengaruh imperialisme . Sebelum masuk ke dalam dan membongkar imperialisme, Sukarno membentuk agenda politik apa yang Indonesia sebagai pemain kuat di Asia Tenggara.

Peta geopolitik inilah yang masih menjadi kaidah penting strategi diplomasi saat ini: bahwa masa depan dunia berada di Pasific. Siapapun yang menguasai dunia, harus menguasai Indonesia. Akibatnya Indonesia berada di dua pertarungan kepentingan besar, yakni Amerika Serikat dengan jejaring zionisnya dan China. Peta geopolitik ini harus dilihat sebagai factor eksternal yang setiap saat akan berebut memengaruhi kebijakan Jokowi-JK.

Gerakan Rini, Luhut dan Andi di Istana

Rini Soemarno – Dikenal sebagai orang dekat Megawati, namun belakangan hubungan dengan Megawati memburuk dan naiknya nama Rini Soemarno masuk ke dalam kabinet Presiden Jokowi bukan berasal dari Megawati. Posisi politik Rini Sumarno ini sangat penting dilihat. Sebab Rini akan dipandang sebagai orang dekat Megawati yang kemudian memilih menyeberang dari Megawati untuk membangun kesan bahwa Megawati keras kepala dan cenderung memaksakan kehendaknya. Megawati sejak awal menolak Rini untuk duduk di kabinet Jokowi, tapi Rini terus mendesak agar Jokowi memasukkan namanya di BUMN. Tujuannya adalah menguasai sektor-sektor energi di BUMN.

Disinilah Aktor di belakang Rini ini akan memainkan peran penting di dalam perebutan sumber daya Migas di Indonesia. Sikap megawati yang tidak mencalonkan Rini memang mengherankan, namun mungkin itulah indera keenam yang dimiliki Megawati. Kepekaan akibat penderitaan yang terlalu lama karena menyandang nama Soekarno.Atas dasar kepekaan indra ke enam pula yang kemudian mendorong megawati menyodorkan nama Susi Pudjiastuti yang kelak menjadi “Menteri Paling Berbakat” di dalam Pemerintahan Jokowi. Bisa dikatakan Menteri Susi inilah yang paling dekat dengan Megawati saat ini.

Awalnya Rini memang dekat secara personal dengan Megawati, namun kedekatan Rini ini hanya sifatnya persahabatan dan menjadi bagian dari scenario besar menguasai industry migas. Rini memang sengaja disusupkan. Memang Ia sahabat Megawati, namun intensitas huungan baru meningkat pesan, bahkan tiada hari tanpa RiniSumarno dalam kehidupan Megawati, setelah Jokowi terpilih sebagai Gubernur DKI. Selanjutnya, kemana-mana Rini bersama Megawati, disanalah kemudian pengaruh politik Rini mulai dijalankan. Setelah mendekati kampanye Pilpres 2014, Rini mempengaruhi Megawati agar membuka kantor kampanye 2014 di kantornya, wilayah Mega Kuningan.

TriomacanIstanaBahkan Rini pula yang awalnya memfasilitasi kegiatan sukarelawan intelektual untuk menjadi alat politiknya dalam posisi tawar menawar dengan Megawati. – Di pihak lain Megawati membentuk apa yang disebut “Tim Sebelas”. Tim ini bukan terdiri dari sebelas orang, tapi berganti-ganti yang masuk ke dalam tim, namun yang paling jelas tim sebelas ini dikomando oleh Andi Widjojanto,sebagai pihak yang paling dipercaya Megawati saat itu memegang jaringan sukarelawan.

Tim Sebelas dibentuk tahun 2013, bukan tahun 2014 seperti yang diucapkan Andi Widjojanto di salah satu media – tujuannya apa Andi mengucapkan 2014, ini untuk mengacaukan logika waktu, bahwa sebenarnya AW itu ditugasi menaikkan Megawati tapi hal itu gagal dilakukan, dia tidak punya kemampuan politik sama sekali yang bisa mengcreate sebuah tim untuk membentuk kekuatan politik.

Tim ini Sebelas untuk membuka jalan bagi Megawati sebagai Presiden RI, dan memantau perkembangan suasana hati rakyat, bisa lewat survey ataupun pemberitaan di media. Namun kemudian di bulan November 2013, Jokowi saat itu sudah muncul. Kemunculan Jokowi di Kuningan membuat Rini Soemarno langsung melekat. Lekatnya Rini dan Jokowi malah memundurkan wacana Mega-Jokowi, dan hanya satu yang muncul : “Harus Jokowi”. Pertanyaan selanjutnya, siapa di belakang Rini sehingga memiliki kemampuan membuat skenario politik, dan berani memilih sikap berseberangan dengan Megawati,. Megawati seperti “habis manis, sepah dibuang” dulu tiap hari ngintilin Megawati kemana-mana, sekarang malah menganggap Megawati “tidak ada”.

Publik harus mencatat, bahwa di belakang Rini berdiri sosok Ari Soemarno. Maestro dunia Migas, yang menyiapkan langkah cadangan dengan merapat ke Jusuf Kalla. Ari Sumarno, yang dikenal sebagai arsitek awal SBY di dalam mempersembahkan Blok Cepu kepada Exxon Mobil sebagai hadiah atas dukungan politik Amerika terhadap SBY. Ari Soemarno adalah eks dirut Petral , sesuai kapasitasnya sebagai Dirut Petral, Ari Soemarno sungguh tahu permainan jual beli minyak, dan sangat mengenal bagaimana sepak terjak Mohammad Reza yang ikut dibesarkannya. Namun Ari Soemarno memiliki skenario sendiri. Keberhasilannya memberikan Blok Cepu, membuka jalan lebar untuk memainkan kepentingannya sendiri. Ari-pin merancang integrated supply chain (ISC), yang pada dasarnya adalah memusatkan poros mafia Migas di tangannya. Intelijen SBY pun menangkap niat tersembunyi ini, Ari dianggap berkhianat, dan selesailah nasibnya, hanya dalam waktu beberapa bulan setelah Blok cepu berhasil mulus diserahterimakan.

Sebagai seorang Maestro di Migas, Ari tidak kehilangan akal. Langkah mundur dua langkah pun dijalankan. Srategi wait and see dengan mendekati poros kekuasaan. Rini ditugaskan ke Megawati dan dirinya sendiri merapat ke JK, sosok yang dikemudian hari terbukti menjadi pendamping jokowi.

Maka ketika semua skenario berjalan, secara cepat Rini melepaskan dirinya dari Megawati. Alasan populis sengaja diambil: melindungi Jokowi dari boneka Megawati. Bahkan dengan cepat Rini mengkonsolidasikan kekuasaaannya. “Rini ingin menguasai semuanya”. Hal ini terungkap dalam kasus pemilihan Pertamina, dimana jago Rini, Hanung Budya ditolak oleh kelompok Nasionalis di Istana, akhirnya jaringan Nasionalis memunculkan nama seorang yang tidak punya pengalaman di Pertamina tapi punya kendali politik kuat untuk memperkuat agenda “Trisakti”.

Rini sangat sensitive dalam soal penempatan orang-orang di BUMN dalam sektor energy, prinsipnya seluruh orang Rini berada di BUMN Energy. Selain itu dengan cerdik Rini melakukan lobi politik untuk menempatkan pos dana sebesarRp. 5,6 Trilyunke Bank Mandiri. Pertanyaannya kenapa ke Bank Mandiri, yang secara keuangan sehat masih diguyur dana Rp. 5,6 T? kenapa nggak diguyur ke Bank BTN untuk memperkuat struktur pembiayaan murah rumah rakyat?. Jawabannya sederhana saja, silahkan dicek hutang Rini Soemarno di Bank Mandiri? Juga deal antara Rini dengan Dirut Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, dimana Budi dijanjikan akan menjadi Dirut Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bak setali tiga uang, ambisi Rini membatasi bisnis JK di energy pun dijalankan. Maka sosok Sofyan Baasir yang mulai kehilangan patron politiknya pun dirangkul. Tanpa sepertujuan Jokowi, sosok yang tidak ramah di kalangan relawan Jokowi ini melesat cepat menjadi Dirut PLN. Akses Ari Soemarno pun makin luas. Lowongnya Dirut BRI, menjadikan Rini semakin percaya diri sehingga Budi Gunadi Sadikin mulus melenggang ke BRI. Secara politik Rini menggaransi Budi Gunadi, bahwa penguasaan BRI sangat penting untuk menjaga jiwa kerakyatan Jokowi. Namun bak udang dibalik batu, ini hanya akal2an menutupi hutang Rini di Mandiri, yang juga dikompensasikan dengan PMN 5.7 T ke Mandri.

Ketika Rini ingin menguasai semuanya, maka harus ada jalan menutup akses kebijakan politik partai pengusung Jokowi, bahkan terlepas dari amatan publik, PDIP sebagai partai utama pengusung Jokowi sama sekali tidak mendapatkan akses ke Istana, bahkan tidak ada petinggi-petinggi PDIP di Istana, namun diluaran publik menilai Jokowi disetir Megawati? Bagaimana bisa bila petinggi PDIP sama sekali tidak punya jabatan politik dan kekuatan politik di dalam ring satu Jokowi.

Dalam kasus Sonangol, yang secara cepat disodorkan Surya Paloh. Awal Rini sempat kalah start. Disinilah dia piawai memainkan perannya. Inilah awal kerjasama Trio Macan tercipta. Luhut dengan ambisi kekuasaanan dan bisnis minyak dan senjatanya; Andi sebagai agen LSM internasional liberal dan Rini sebagaiwakil kaum professional “tanpa kepentingan”.

Maka Rini pun selalu tampil ke depan terkait kebijakan migas. Setiap ada pembangunan kilang minyak pasti ditikung Rini, saat ini Jusuf Kalla juga sedang mengetest kekuatan Rini dalam soal pembangunan kilang minyak lewat jalur Korea Selatan lewat kelompokbisnis yang cenderung lemah bernama Saga, sampai saat ini Rini belum beraksi atas tindakan Jusuf Kalla.

Perlu dicatat “Rini-lah yang paling bertanggung jawab atas kebijakan harga BBM sesuai dengan harga pasar”Rini juga yang membawa ekonomi Indonesia masuk ke dalam ekonomi pasar, sehingga rakyat digebuki oleh modal asing, tanpa ada sesuatu yang kuat untuk membangun ekonomi berbasis kerakyatan.

Rini-lah yang merancang dana injeksi BUMN sebesar 67 Trilyun, dana ini jelas disiapkan untuk kepentingan politik. Inilah kudeta paling brutal dari arah Nawacita, mustinya dana 67 Trilyun digunakan untuk membangun lapangan pekerjaan untuk rakyat.

Andi Widjojanto – Munculnya AW ke dalam gelanggang politik sebenarnya tak jauh dari kiprah ayahnya, Mayjen Theo Syafe’iyang memang dekat dengan Megawati. Dan dari Megawati pula-lah kiprah sukarelawan dalam pilpres 2014 diserahkan pada Andi Widjojanto, namun dalam perjalanannya kemudian hari justru AW berbalik arah, dan merasa bisa bermain sendiri. Megawati sama sekali tidak punya kendali atas AW, bahkan sampai saat ini penempatan di Istana dilakukan oleh orang-orang AW yang sama sekali kurang berpengalaman politik, tidak punya akar massa, hanya rajin bergosip di Sosial Media, dan bukan petarung-petarung politik seperti yang dimiliki garis Megawati.

Kelemahan dasar AW adalah ketidakmampuan dia menghadap prediksi gelombang politik, tidak punya kecakapan dalam komunikasi politik, dan gagal membangun tim yang tangguh dalam menggelorakan semangat massa dalam agenda politik “TRISAKTI”. Bahkan AW sendirilah yang menikung nama kabinet “Trisakti” menjadi hanya “Kabinet Kerja”.

Harapan Megawati sebenarnya dalam kabinet Jokowi adalah dilakukan pembentukan kabinet yang militant dengan menjalankan “Pesan-Pesan Revolusi Bung Karno” apa itu pesan revolusi Bung Karno , yaitu tiga hal : “Mandiri dalam Ekonomi, Berdaulat dalam Politik dan Berkepribadian dalam Kebudayaan”tiga hal ini yang menjadikan dasar atas kemauan Bung Karno agar Indonesia lebih jaya dan kuat di masa depan.

Namun AW nampaknya tidak paham “Garis Politik Sukarno” ini,ia menempatkan orang-orang di semua lini istana yang nggak kapabel dan tidak paham apa itu pesan politik Megawati, disinilah kemudian AW banyak melakukan blunder politik.

Blunder pertama, AW tidak punya jaringan komunikasi politik ke arah massa, sehingga kerap membiarkan Jokowi digebukin sendiri, mulai dari kasus BBM sampai kasus Jenderal BG. AW tidak melakukan langkah-langkah koordinasi yang bisa melindungi Presiden RI dari salah langkah tindakan politik.Blunder kedua, AW gagal menaikkan gelora semangat Nasionalisme dalam agenda-agenda pembangunan politik Jokowi, bahkan gaya bicara sok “Di Moerdiono-Moerdionokan” justru memberikan kesan orang linglung, ketimbang menjadi nara sumber yang cerdas dan jelas dalam bicara. Bukan karakter Jokowi berkomunikasi politik gaya AW, Jokowi cenderung mengungkapkan secara jelas apa maunya dan hal yang abstrak bisa dikomunikasi dengan gaya bicara yang membumi dan simple. AW sama sekali tidak punya kemampuan itu.

AW juga selalu mengesankan bahwa Jokowi tersandera oleh Megawati, padahal secara fakta politik Megawati sekarang sedikit demi sedikit sudah ditutup aksesnya oleh jaringan politik AW. Ini kenapa? Karena garis politik Megawati sebenarnya bukan garis politik AW,yang berpaham Neoliberal sementara Megawati tetap berada di dalam garis Nasionalis yang menolak Neoliberal.

Paham ekonomi neoliberal AW inilah yang mempengaruhi Jokowi. Tak heran jika AW sering berhubungan dengan KPK yang ia ciptakan sebagai alat politiknya,kelompok ini berhasil menyusup ke Jokowi lewat AW termasuk LSM-LSM yang berbasis liberal.

Kurang ajarnya jaringan LSM berasaskan liberal yang punya corong kuat di media massa ditanggapi oleh Jenderal Hendropriyono dengan rasa marah. Sang Jenderal merasa Istana sudah dikuasai kelompok yang bukan lagi berasaskan pada satu pedoman dasar “Mencintai Tanah Air, Mencintai Republik, Membangun kedaulatan Berdikari di segala sektor” kemarahan ini juga kemarahan besar bagi Wiranto dan Sutiyoso.

Andi juga ditugaskan LSM liberal untuk menyingkirkan kekuatan Jenderal-Jenderal Merah Putih, Wiranto dan Hendropriyono sendiri sebagai pengusung utama Jokowi sama sekali tidak punya peran lagi di Istana, akses Wiranto tertutup sama sekali.

AW memiliki peran besar untuk mengkerdilkan POLRI ditempatkan di bawah kendali menteri. Maka skenario pun dibuat. Hal-hal negative tentang POLRi harus secara piawai diolah oleh Andi. Target pertama berhasil. Andi-lah yang memanggil para penggiat HAM masuk ke rumah transisi. Pesannya tunggal, Hendropriyono dan Wiranto harus tersingkir dari panggung kekuasaan karena pelanggaran HAM. Amerika pun senang, dan LSM mengapresiasi langkah Andi. Andi makin memainkan perannya menggunakan LSM dan relawan sebagai kekuatan alternative seteah berhasil emndepak Wiranto sebagai calon menpolhukam. Sayang skenario sempat bergeser ketika Luhut tidak berhasil menjadi menkopolhukam karena terkena semprit merah oleh KPK akibat transaksi yang tidak wajar. Andi marah besar atas vonis KPK ini. Maka ia pun berteriak keras dan menuduh KPK telah membocokan rahasia Negara. Sungguh sikap loyal yang memuaskan Sang Ayah Angkat Luhut Panjaitan. Permainan tidak berhenti disitu. Luhut harus segera masuk ring satu istana, mengabaikan informasi intelijen yang memberi peringatan kuning atas pergerakan kaum radikal begitu melihat Agen Zionis tersebut masuk ke lingkaran dekat istana. Namun scenario politik Pan Amerika tetap harus dijalankan. Tanpa sepengetahuan para ketua umum Parpol pengusung Jokowi yang menolak Luhut, secara mendadak, melalui operasi rahasia Trio macan, Luhut bisa berhasil dilantik sebagai kepala staf kepresidenan. Inilah awal dimana kegaduhan kekuasaan terjadi.

Luhut Binsar Panjaitan – Luhut adalah inti dari anggota Trio Macan Istana, dia adalah konektor jaringan sebenarnya ke Amerika Serikat. Luhut banyak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat dalam intervesi modal. Luhut memang sosok cermerlang yang selalu bangga mengatakan sebagai murid kesayangan Moerdani. Sikap yang menimbulkan keanguhan kekuasaan. Atas kepercayaan diri yang berlebihan inilah yang kemudian sejarahmencatat Gus Dur terjerumus akibat masukan luhut yang selalu mengklaim isa mengendalikan TNI. Luhut memang dikenal sosok yang lincah, pandai menggunakan tenaga orang untukkepentingan dirinya, sangat ambisius sehingga pernah sakit parah akibat napsunya menjadi juara kelas di AKABRI saat itu. Luhut menampilkan diri sebagai Sang pengendali. Namun priomidialitasnya justru menjadi kelemahannya. Dimana ada Luhut, disitulah merit system berantakan menjadi Batakness System. Pendeknya Luhut adalahsosok yang mau melakukan apa saja untuk kekuasaaanyaa.

Luhut punya hubungan dengan Jokowi cukup romantis, karena inilah yang membuat Jokowi percaya pada Luhut, termasuk dimana Rini dan Andi kemudian mendapatkan posisi amat penting. Luhut memegang banyak perusahaan energy, disinilah kemudian kekuatan modal berkelindan menjadi kekuatan modal yang memperbolehkan sak-mau maunya modal asing menguasai negeri ini.

Luhut punya kepentingan yang sama, menjauhkan Megawati dan Surya Paloh dari Istana. Maka Nico Harjanto melalui Vox Populi yang mengeluarkan jargon “Pemisahan Jokowi dari Mega” dibiayai oleh Luhut sendiri.

Dimanakah Posisi Jokowi

Posisi Jokowi saat ini adalah “diam menunggu”

dia melihat semua keadaan, tim Solo-pun masih belajar menyesuaikan dengan kondisi yang penuh intrik kekuasaan.

Blusukan tidak lagi jadi berita penting, sementara Jokowi selalu diserang oleh konflik-konflik yang seharusnya tidak perlu, sampai tahap ini Jokowi sedang digerus oleh media, ratingnya turun drastis, satu persoalannya adalah “Karena Andi Widjojanto memberikan nasihat agar Jokowi bersifat normatif” padahal dalam titik ini, Jokowi harusnya punya kemampuan sebenarnya, seperti konflik Hasto vsSamad, konflik BW dan BG, Jokowi yang dikenal sebagai juru damai yang komunikatif, seperti ketua RT peragu yang gagal tampil, hal ini karena ulah Andi Widjojanto, yang entah goblok apa tidak paham komunikasi politik, menyarankan agar Jokowi konservatif.

Karakter Jokowi yang amat mirip Sukarno dalam memecahkan masalah krusial dengan dia tampil sudah direndahkan oleh manajemen komunikasi ala Andi Widjojanto yang dungu dan gagal melihat arah politik serta bagaimana mengelola mood publik.

Namun bukan membela Jokowi yang ia pentingkan, tapi justru “operasi penghancuran Megawati dan PDIP-lah yang terjadi”. Seharusnya AW bisa mengamankan agar Jokowi jangan diserang, namun AW malah mengondisikan, LSM-LSM dan Media untuk terus menggebuk Megawati dan PDIP.Mereka malah membiarkan konflik membesar.

Dibalik semua itu, ada SBY yang berdiri menunggu. Mengintai dengan seksama apa yang terjadi. Pertemuan antara Samad dan SBY pada Bulan Desember 2014 yang meminta penangkapan Megawati harus diperhatikan secara serius dalam pertarungan-pertarungan politik ke depan. Ucapan Ibas SBY, soal “orang-orang” SBY adalah sebuah sinyal politik memang SBY amat berkepentingan terhadap konstelasi politik yang sekarang berkembang, SBY ingin dirinya dan keluarganya aman dari serangan politik dan hokum.

Megawati sebagai Sasaran Kebencian Publik

Yang perlu diperhatikan disini adalah “gegap gempitanya” rakyat bahwa “Megawati”membuat diri Jokowi seperti tidak punya kepribadian-nya yang otentik. Perlu ditanya ulang kembali, – kenapa petinggi PDIP di Istana tidak banyak, kenapa akses PDIP tertutup –Bahkan Rieke Diah Pitaloka salah satu politisi hebat PDIP sama sekali tidak punya akses ke Istana, ia bahkan teriak-teriak di twitter, bayangkan seorang Rieke tidak mampu menembus Istana? Sementara ada sekelompok akademisi yang culun secara politik gampang mengakses Jokowi.Bisa ditanyakan juga kenapa Rieke tidak jadi Menteri Tenaga Kerja, padahal dialah kader Partai paling brilian dalam persoalan-persoalan tenaga kerja, juga ditampiknya Budiman Soedjatmiko dalam Kementerian yang berkaitan dengan Kesejahteraan Desa, memang PKB menguasai jaringan kementerian itu, tapi PDIP mengalah. Ada apa ini?

Kepada pengamat politik, coba dikaji kenapa Megawati selalu dijadikan sasaran kebencian publik, padahal dirinya diam. Dan ini yang perlu diungkap ke luar, Megawati sama sekali tidak mendukung Rini masuk ke dalam kabinet, juga berjarak dengan Luhut, sekarang “melepaskan AW”, Megawati sudah menganggap AW bukan bagian dari wilayah politiknya, apa yang terjadi sebenarnya.

Seluruh rakyat berteriak kepada Megawati sebagai “Pengendali Jokowi”? punya apa Megawati mengendalikan Jokowi, secara kekuatan ekonomi politik pengendali Jokowi sebenarnya adalah pada kelompok Trio Macan Istana ini, kelompok inilah yang harus diperhatikan oleh media massa.

Pada akhirnya benar kata Adian, salah satu kader paling tangguh milik PDIP

“Politik di sekitar Istana memang mengerikan, ada penjilat, ada para munafik, ada pembisik informasi palsu, ada yang diam-diam tapi pengkhianat, ada yang manggut-manggut tapi menikam dari belakang, ada mata-mata, ada agen rahasia, ada yang mengancam dengan kata, ada yang dengan senjata, ada yang dengan guna-guna, si jahat bekerja di dunia nyata hingga maya. Di Istana ada ribuan kepentingan yang bekerja dengan jutaan cara,”

Ucapan Adian ini merefleksikan, PDIP yang mengalah luar dalam, tapi masih terus digebuki termasuk dicurigainya Jokowi dirusak oleh PDIP, kenapa kebencian pada PDIP sedemikian besar, bahkan PDIP terus-terusan dihajar oleh sasaran kebencian publik…………

Politik selalu memberikan jawaban kemudian. Karena itulah pertarungan politik diukur pada keyakinan dan keteguhan dalam prinsip. Mari kita lihat siapa yang akan memenangkan pertempuran di hari-hari ini kelompok nasionalis yang sudah menetapkan Trisakti Sukarno dalam jalan hidupnya, ataukah kelompok kepentingan pragmatis yang mendompleng popularitas Jokowi ?

Raden Brandal Lokajoyo/kompasiana 30 Jan 2015 | 16:04

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here