Walikota Risma di Hari Anak

0
657
antarafotorisma

Raut muka bocah berusia 3,5 tahun, Sukarno Wahyu Agung warga Karangpilang, Kota Surabaya nampak gembira saat membuka bingkisan berupa aneka mainan yang baru saja ia terima dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tak lama kemudian, dia asyik memainkan mainan pesawat dan juga lego bersama dengan teman-teman sebayanya. Sukarno adalah satu dari puluhan anak yang menerima bingkisan dari program Surabaya Peduli Sesama yang digagas oleh Pemerintah Kota (Pemkot Surabaya). Ada sekitar 200 paket bingkisan yang dibagikan Pemkot Surabaya kepada warga Kecamatan Karang Pilang.

“Ide awalnya itu agar anak-anak di Surabaya yang tidak bisa memiliki mainan, bisa merasakan mainan,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat ikut membagikan bingkisan di kantor Kecamatan Karangpilang beberapa waktu lalu.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini juga menyampaikan bahwa Pemkot Surabaya memberikan banyak beasiswa untuk anak anak Surabaya. Harapannya, tidak ada anak Surabaya yang putus sekolah.

Risma juga mengimbau kepada orang tua agar memiliki perhatian lebih kepada anak-anaknya. Sebab, anak zaman sekarang mengalami era yang sangat berbeda dari era orang tuanya.

Godaan bagi anak untuk berbuat yang tidak benar, bisa datang dari mana saja. “Ketika anak belum pulang, bapak-ibu harus mencarinya. Tentunya juga harus rajin berkomunikasi dengan anak,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Rismaharini juga mengimbau kepada guru dan orang tua agar menerapkan pendekatan emosional kepada anak-anak sebagai upaya mencegah kenakalan kepada anak dan remaja.

Risma mengatakan anak-anak di Surabaya tidak hanya perlu dibekali dengan kemampuan intelektualitas saja. Namun, perlu ada pendekatan emosional seperti sentuhan kasih sayang dan empati dalam pengasuhan anak.

“Sebab, pengasuhan anak yang salah, akan berakibat pada meningkatnya kenakalan usia remaja,” katanya.

Peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli adalah momentum bagi guru dan orang tuan dalam memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. “Anak-anak kita bukan hanya dibekali intelektual saja. Kalau itu saja, mereka bisa menjadi orang yang jahat. Harus diberi kasih sayang dan juga empati. Ini penting untuk membentuk karakter anak,” katanya.

Menurut Risma, para guru, orang tua, lurah, hingga ketua Rukun Tetangga (RT) harus memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap tumbuh kembang anak-anak. Mulai di rumah, sekolah dan juga lingkungan tempat tinggal. Orang tua di rumah harus lebih sering berkomunikasi dengan anak. Begitu juga dengan para guru di sekolah.

Pendekatan emosional, sentuhan kasih sayang dan empati perlu dilakukan dalam pengasuhan anak. Sebab, pengasuhan anak yang salah akan berakibat pada meningkatnya kenakalan usia remaja.

Ini karena tantangan dan godaan yang dihadapi oleh generasi sekarang, berbeda jauh dengan tantangan pada masa kecil para guru dan dan orang tuanya. Salah satu parameternya, kejadian yang mengarah pada kejahatan seksual maupun kasus trafficking anak, acapkali bermunculan di negeri ini.

“Banyak sekali godaannya anak-anak sekarang, tidak sama dengan kita dulu. Ada program televisi, gadget dan sebagainya. Ayo kita rangkul mereka. Kalau semua peduli, saya yakin anak-anak kita akan selamat dari semua godaan,” katanya.

Menurut wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini, kegiatan ini tidak berhenti sekali ini. Tetapi akan terus berlanjut dengan melibatkan orang tua, lurah, dan juga ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).

“Saya nanti juga akan ketemu dengan RT/RW untuk penangkalan kejahatan seksual ini. Saya akan lakukan dengan anak-anak, psikolog, BNN dan karang taruna,” sambung ibu dari dua anak ini.

Parenting Mengasah emosional anak perlu cara agar anak bisa terarah dengan baik. Hal ini disampaikan anggota Komisi D Bidang Kesra dan Pendidikan DPRD Surabaya Reni Astuti. Ia mengusulkan agar kegiatan seminar parenting (pola asuh anak) di sekolah-sekolah yang masuk kategori tidak mampu atau miskin bisa dianggarkan dalam APBD Surabaya.

“Selama ini parenting hanya dilakukan di sekolah-sekolah yang sudah maju, sementara sekolah-sekolah miskin yang kebanyakan di pinggiran kota tidak pernah dilakukan,” katanya.

Menurut dia, kegiatan parenting ini cukup bagus karena dari itu orang tua mengetahui bagaimana cara membesarkan anaknya dengan baik. Tentunya lebih memahami perkembangan fisik dan mental yang juga meliputi emosional dan sosial anak.

Jika selama ini sekolah-sekolah maju bisa menggelar seminar parenting, lanjut dia, hal itu dikarenakan sekolah tersebut mampu secara finansial menggelar seminar. Sedangkan sekolah yang tidak mampu akan kesulitan hal itu.

“Tentunya harus ada intervensi dari pemerintah agar menganggarkan parenting untuk sekolah sekolah yang tidak mampu,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Surabaya bisa melibatkan elemen masyarakat atau perusahaan melalui program Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). “Mereka bisa melakukan parenting di sekolah sekitar. Ini bukti pengabdian mereka ke masyarakat,” katanya.

Tentunya, lanjut dia, Pemkot Surabaya harus bisa memetakkan sekolah di wilayah mana saja yang tidak bisa disentuh oleh CSR, baru setelah itu pemkot bisa memutuskan sekolah mana saja yang bisa dianggarkan melalui APBD.

Proses Belajar Psikiater dari Universitas Airlangga (Unair) Nalini Muhdi membenarkan bahwa situasi yang dihadapi anak-anak generasi sekarang, jauh lebih berat dibandingkan anak-anak zaman dulu. Sehingga, anak-anak seolah-olah kehilangan kebahagiaannya dengan banyaknya kewajiban yang harus ia selesaikan.

Seharusnya, seperti di negara-negara maju, pengajaran anak sejak kecil, lebih ditekankan pada kognitifnya, yakni lebih mementingkan pada proses belajarnya ketimbang hasilnya.

“Di negara maju, guru pendidikan dasar itu justru professor dan guru senior. Anak-anak diajari kognitif seperti diajak antre di tempat umum untuk menumbuhkan kesadaran agar sabar menunggu dan tidak mengambil hak orang lain atau juga menyeberang jalan di zebra cross,” ujarnya.

Karenanya, konsultan RSU Dr Soetomo ini menekankan agar para orang tua dan para guru, mampu untuk memposisikan dirinya sebaga pendengar dari anak-anak. Bukan sebaliknya. Seharusnya, orang tua dan guru tidak menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih tinggi dari anak.

“Kita dengar mereka. Sehingga kita tahu permasalahannya mereka. Sebagai guru, juga jangan menempatkan lebih tinggi. Karena anak-anak itu little professor, apa yang mereka sampaikan itu acapkali benar. Bahkan kadang lebih cerdas dari kita,” kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini. -mntr