Antara Zhōng Wànxué dan Jhon Lenon judul aslinya

Antara Ahok dan Jhon Lenon.
(Imam Widodo).

Kita peringati Kesaktian Pancasila yang katanya sebagai dasar negara Republik Indonesia. Dalam sejarahnya digambarkan musuh utama Pancasia adalah PKI yg idiologinya komunis konon tidak mengenal tuhan.

Dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sangat dimengerti kalau bangsa ini sangat anti terhadap komunis. Maka agar Pancasila tetap sakti siapapun yang anti Tuhan pada zaman rezim Pak Harto dibumi hanguskan.

Seluruh bangsa beradab didunia ini menghargai Tuhan sebagai sesuatu yg pantas dihargai walau di negara komunis Cina atau Rusia sekalipun. Maka ketika seorang legendaris musik dunia Jhon Lenon mengatakan : “Saya lebih terkenal dari Yesus”.

Reaksi spontan hampir seluruh kota besar dunia berdemo membakar poster dan album Jhon Lenon. Bandingkan ketika seorang Ahok berkata dengan lantang : “Tuhan pun akan saya lawan, kalau ngaco”.

Seluruh bangsa ini tertunduk takzim penuh kekaguman tentang keberaniannya yang luar biasa. Bahkan melupakan kalau ini adalah tumpah darah Indonesia yg katanya negeri Pancasila, bangsa religius yg menghargai Tuhan sebagai dzat yang suci dan agung.

Dalam kajian bahasa dan moral, ungkapan Jhon Lenon lebih sopan daripada ungkapan Ahok. Terus dimana saat ini letak penghargaan bangsa ini terhadap Pancasila. Kalau seorang pejabat publik berani melecehkan Tuhan yg merupakan dasar negara ini.

Bangsa ini, pantas diduga, saat ini telah punya falsafah baru faham hedonistik. Orang yg dengan garang menggugat eksistensi keTuhanan secara kasar, justru dijadikan tuhan baru. Akan dijadikan tokoh yang akan menentukan merah hijaunya Jakarta dan hitam putihnya Indonesia.

“Tuhan saja akan saya lawan, kalau ngaco”. Adalah ungkapan yang jauh dari norma Pancasila. Kalau norma normanya dilawan tidak ada pembelaan, pantaskah saat ini Pancasila disebut sakti. Sesuatu yg sakti akan ditakuti paking tidak disegani.

Namun itulah demokrasi, setiap pemimpin ada jaman nya, setiap jaman ada pemimpinnya. Bisa jadi kepemimpinan model yg berani menantang tuhan inilah yg diyakini membawa sukses negeri ini. Toh, RRT berfalsafah komunis menjadi negara maju dan kita hutang kesana. Terus apa untungnya kita menjunjung tinggi norma norma Pancasila. Apakah kita masih memerlukan Pancasila ?.

Imam Widodo

Comments

comments