Oleh  Ferdinand Hutahaean

Agus Harimurti Yudhoyono : “Beginilah kalau pemimpin selalu curiga pada rakyatnya,berpikir memenjarakan rakyatnya.”

Kalimat tersebut meluncur dari AHY saat menanggapi pertanyaan Ahok tentang bagaimana cara AHY mengatasi supaya atas dana RW 1 Milliar dalam program  AHY tidak menjadikan para pengurus RT / RW masuk penjara. Sangatlah menjengkelkan pertanyaan tersebut.

Benar jawaban AHY diatas, Ahok tampaknya mencurigai rakyat yang menjadi pengurus RT RW. Mencurigai mereka dengan negatif dan sepertinya Ahok  berpikir hanya dia sendiri yang baik dan para pengurus RT RW itu tidak baik dan bila diserahi amanah mengelola dana RW sebesar 1 M akan cenderung dikorupsi sehingga masuk penjara.

Begitu juga Ahok mencurigai rakyatnya bahkan menuding seorang ibu sebagai maling. Beginikah mental Ahok yang sesungguhnya?

Jika pemimpin sudah menanamkan stigma bahwa rakyatnya tidak bisa dipercaya dan harus dicurigai, maka siapapun itu sangatlah tidak layak menjadi pemimpin dan tidak layak juga dipercaya.

Curiga bahwa orang lain itu jahat adalah perbuataan tidak baik dan dosa. Sesungguhnya Ahok sedang menunjukkan watak aslinya pada saat itu. Watak yang suka menuduh, mencap negatif, bahkan seorang yang munafik dalam fakta.

Apakah Ahok sudah lupa dengan kasus RS Sumber Waras? Semoga Ahok masih ingat kasus itu karena hingga saat ini kasusnya masih bergulir di KPK dan segala kemungkinan bisa menempatkan Ahok sebagai tersangka.

Keunikan dan kemunafikan lainnya adalah saat Ahok sang calon gubernur petahana yang menyampaikan jawaban atas pertanyaan dari moderator Ira Koesno tentang integritas. Ahok sang calon gubernur nomor 2 memberikan jawaban bahwa integritas itu adalah memimpin dengan santun. Itulah setidaknya sebuah kesimpulan pendek dari jawaban Ahok selama setengah setengah menit menjawab perntanyaan tersebut.

Publik tentu mengenal karakter Ahok selama menjabat memimpin DKI Jakarta selama ini.

Publik tentu tidak akan lupa ketika disebuah stasiun TV Ahok bicara kasar berkali-kali menyebut kata (maaf) “yang sesungguhnya sangat tidak patut diucapkan oleh siapapun apalagi oleh seorang kepala daerah. Publik juga tentu ingat bagaimana Ahok memaki seorang ibu dengan menyebutnya dengan kata “Ibu maling”</b>.

Publik juga saya yakini masih ingat berbagai macam kata dan kalimat Ahok yang tidak santun.
Dengan demikian, Ahok sesungguhnya sedang mengampanyekan dirinya untuk tidak usah dipilih, karena Ahok tidak santun. Menjadi pemimpin harus santun itu kata Ahok tadi malam, padahal dirinya tidaklah santun.

Selain sifat curiga dan tidak santun tersebut, Ahok juga menciptakan kemelut yang menyinggung dan mengganggu kebinekaan dengan mengusik keimanan agama Islam tentang Surat Almaidah 51 yang kini menempatkan Ahok sebagai terdakwa di Pengadilan. Curiga, tidak santun dan menciptakan kemelut ditengah rakyat, itulah sikap tak layak untuk jadi pemimpin, maka tidak layak jugalah rakyat memilihnya jadi pemimpin.

Terakhir ketika pertanyaan dari moderator yang sesungguhnya pertanyaan tersebut tidak patut ada dan dipertanyakan karena terkesan mengamputasi hak politik warga negara yaitu pertanyaan tentang capres 2019.

KPUD blunder dalam hal ini karena pertanyaan tersebut diluar substansi debat dan merupakan jebakan politik.

Diluar ketidak patutan pertanyaan tersebut, satu hal yang menjadi fokus pengamatan adalah tidak beraninya Ahok menjawab pertanyaan tersebut dan menugaskan wakilnya Djarot untuk menjawab.

Ada apa dengan Ahok? Mungkinkah sudah bermimpi untuk jadi Capres atau Cawapres 2019 nanti? Hanya Ahok yang tahu.

Jakarta, 14 Januari 2017

Comments

comments