BAKSOS MURI
by Zeng Wei Jian

Jam 4 sore, 18 Januari 2017, rombongan Jaya Suprana dan MURI tiba di reruntuhan puing Kampung Aquarium, belakang Museum Bahari.

Kampung ini dihapus dari peta. Panca digusur, Kelurahan Penjaringan tidak mengakui eksistensi wilayah dan penduduknya. Aliran listrik dan air diputus.

Kedatangan Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam rangka baksos. Rombongan berseragam hitam-hitam itu disambut warga. Ibu-ibu, anak kecil dan beberapa lelaki keluar bedeng-bedeng reot. Berhamburan. Mereka ingin menyapa Bpk Jaya Suprana.

Aktifis Katolik, Maria Ninis dan Komandan Laskar Luar Batang, Daeng Mansur Amin tampak di sela-sela kerumunan.

Jaya Suprana dan kru MURI diantar warga berkeliling. Masuk lebih dalam komplek puing yang kondisinya lebih tragis dari Kota Allepo pasca digempur tentara Rusia dan Syiah.

Tenda darurat sumbangan Ketua Umum Gerindra (Bpk Prabowo) masih bertengger di sana. Terpalnya sudah 2x diganti akibat robek-robek diserang cuaca panas-dingin dan gempuran air hujan yang asam. Tenda itu menampung paling sedikit 5 KK. Lantainya kasar, tidak rata, hanya ditutup hamparan puing dan serpihan bata merah.

Setelah 9 bulan digusur Gubernur Ahok, ada 159 KK menghuni area puing selebar 3 hektar ini. Dua tower apartemen Mitra Bahari terlihat jelas.

Dari 159 KK tersebut, ada belasan KK ex relokasi rusun. Mereka kembali ke Kampung Aquarium setelah tidak sanggup bayar iuran bulanan dan biaya-biaya lain di rusun. Jumlah mereka yang kembali kemungkinan akan bertambah di masa datang.

Sebabnya, penggusuran Ahok ternyata menghilangkan sumber nafkah mereka. Warga yang bekerja di pabrik sekitar Pasar Ikan harus mengeluarkan biaya transportasi akibat direlokasi 25 kilometer di Rawa Bebek. Mereka yang sebelumnya berdagang alat pancing diberi opsi dagang bakmi. Alhasil, bangkrut total.

Karena itu, mau tak mau, mereka kembali ke Kampung Aquarium. Mereka diusir pengelola rusun.

THE END

Comments

comments