OLEH AENDRA MEDITA*)

Dalam Pilkada DKI 2017 hari ini adalah putaran dua, pertarungan panas. Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat vs Anies Baswedan- Sandiaga Uno adaah pasangan yang berlaga. Jauh sebelumnya Agus Harimurti dan Silvi terjungkal di putaran pertama.

Ada yang menarik dalam putaran dua dalam masa kampanye  tenang kampanye, tapi seakan tak tenang kondisi politiknya. Muncul politik sembako hingga politik sapi, bentuk lain dari politik uang. Padahal kalau ditilik kebelakang katanya politik jamgan dicampurkan adukan dengan agama. Lalu kini bagaimana politik dicampur sembako?

Apa mau sembako itu dicap sebagai politik?

Saya setuju dengan Effendi Saman aktivis Prodem yang juga ahli hukum yang mengatakan
bahwa kecurangan itu tak mudah bisa dibuktikan, walaupun ini terjadi dengan telanjang penglihatan mata.

Rupanya Effendi  sebagai ahli hukum melihat ini memang pada akhirnya kecurangan itu hanya sebuah syarat aduan agar dipenuhi. Dan hasilnya banyak hukum dikesampingkan.

Kalimat ini jelas menohok. Jika ada laporan dana kampanye saya rasa masing-masing calon diduga hanya pemantas belaka, jauh dari dana riil di lapangan.

Lantas jika kita menebak siapa yang akan jadi  pemenang dalam pelkada Jakarta hari ini?

Untuk memprediksi siapapun boleh. Media sosial menjadi ranah empuk mengoreng apapun yang terjadi.

Hasil survei jadi parameter untuk ciptakan  elektabilitas tapi apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta bukan yang ini. Ada banyak situasi-situasi sehingga penyebabkan snagat kompleks.

Bulan April, semuanya memperlihatkan kemenangan pasangan Anies-Sandi. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil elektabilitas Anies-Sandi dan Ahok-Djarot hanya terpaut 1%. Responden disurvei pada 31 Maret-5 April 2017 dan diwawancara secara tatap muka. Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapat 47,9% dukungan, sementara Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat 46,9%. Yang belum menentukan sekitar 5,2%.

Dengan margin of error survei sebesar 4,7%, keunggulan Anies-Sandi menjadi nyaris tidak berarti. Bahkan, tren dukungan kepada Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan dukungan untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Meskipun unggul 1%, berdasar pada survei ini, Anies-Sandi kemungkinan akan kalah karena trennya turun, sedangkan Ahok naik.

Survei kedua dari Media Survei Nasional (Median), yang mencatat elektabilitas Anies-Sandi mencapai 49,8 persen sementara Ahok-Djarot hanya 43,5 persen dan 6,7 persen responden belum menentukan pilihan. Survei ini dirilis pada 10 April dengan margin of error sebesar +-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Median mencatat elektabilitas Ahok-Djarot mencapai 42,96 persen pada 15 Februari dan kemudian turun pada 21-27 Februari mencapai 39,7 persen. Pada 1-6 April, elektabilitas Ahok-Djarot naik menjadi 43,5 persen tapi masih di bawah Anies-Sandi. Dengan performa seperti ini, ditambah keunggulan Anies cukup jauh meninggalkan Ahok dengan angka mendekati 50 persen, keunggulan ada pada pasangan Anies-Sandi.

Survei ketiga dirilis oleh Lingkatan Survei Indonesia pimpinan Denny JA yang melakukan pengumpulan data survei pada 7-9 April 2017. Survei ini menyimpulkan bahwa  Anies-Sandi memimpin di angka 51,4 persen, sedangkan Ahok-Djarot hanya 42,7 persen, dengan pemilih yang masih ragu sebanyak 5,9 persen.

Dengan dukungan di atas 50 persen, sementara swing voter sebanyak 5,9 persen dengan simpang kesalahan 4,8 persen, Anies-Sandi keluar sebagai pemenang jika survei ini menjadi acuan.

Berdasarkan survei LSI sebelumnya pada 23 Februari-3 Maret 2017 dengan jumlah responden 440 orang, elektabilitas Anies-Sandiaga Uno mencapai 49,7 persen sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot 40,5 persen, dan belum menjawab 9,8 persen responden. Dari sini suara Anies dan Ahok sama-sama mendapat tren menanjak secara berimbang. Jadi, paduan antara jauhnya pautan suara ditambah tren yang relatif sama, kemenangan Anies-Sandi tak terelakkan.

Sayangnya, pada putaran pertama, LSI Denny JA melakukan kesalahan prediksi yang cukup fatal. Mereka mengumumkan hasil survei pada 5 hari sebelum hari pencoblosan, Jumat (10/2/2017). Berdasarkan survei itu, Agus- Sylviana memiliki elektabilitas 30,9 persen, Ahok-Djarot 30,7 persen, dan Anies-Sandi 29,9 persen dengan pemilih rahasia sebanyak 8,5 persen. Hasil survei ini meleset dari hasil rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU DKI, yang menetapkan Agus-Sylvi memperoleh suara 937,955 atau 17,07 persen, Ahok-Djarot sebanyak 2.364.577 atau 42,99 persen, dan Anies-Sandi memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen. Dengan jejak seperti ini, mendasarkan prediksi pada survei LSI menjadi meragukan. (dari rimanews)

Kini kita kata Tras Rustamaji dalam timeline FBnya ini sebuah pelajaran yang paling berharga selama saya “mengikuti” pilkada ini adalah bagaimana pembentukan opini itu dilakukan. Bagaimana Ahok yang sebetulnya prestasinya biasanya saja bahkan cenderung di bawah par diopinikan sebagai sangat berprestasi.

Tentu saja dukungan dari media-media besar dan uang sangat berperan dalam pembentukan opini ini. Apalagi kalau didukung sama penguasa, sempurna sudah.

Beruntung sekarang era media sosial, era informasi, era transparansi, di mana kebohongan-kebohongan akan mudah terdeteksi. Klaim bisa segera dibantah dengan bukti lainnya.

Dalam era keterbukaan spt sekarang sandiwara-sandiwara yg dulu sangat meyakinkan seperti kasus terorisme sekarang jadi tampak janggal lucu seperti bom panci.

Kita berhutang kepada teknologi informasi, khususnya media sosial yg terbukti membawa kita ke era transparansi.

Sedangkan tulisan dari Syahganda aktivis senior dengan judul Anies Baswedan dan Beban Revolusi Sosial.

Ada dua hal yang menurut saya begitu revolusioner dalam pikiran Anies Baswedan saat ini. Pertama, soal reklamasi. Kedua, soal perumahan tanpa DP (uang muka).

Baru2 ini saya diundang tim Anies Sandi lintas alumni perguruan tinggi berbicara Reklamasi. *Reklamasi adalah suatu skandal tentang power* yang melibatkan uang ratusan bahkan ribuan triliun. Ariesman Podomoro sendiri sudah mengakui di pengadilan, mengeluarkan uang “illegal” untuk memuluskan Projek reklamasi cakupan/bagian Podomoro triliunan rupiah. Belum lagi kelompok bisnis lainnya. Rizal Ramli terguling dari kekuasaan karena antara lain ingin menghentikan reklamasi. Bagaimana pula Anies Baswedan masuk dalam putaran isu ini: menolak reklamasi?

Pikiran Anies Baswedan untuk membuat rakyat miskin Jakarta bisa memiliki rumah tanpa DP adalah cita cita revolusioner. Hal ini memang di luar pikiran normal atau common sense (bukankah common sense itu sesungguhnya bagian dari sebuah ideologi?)

Pikiran pikiran revolusioner Anies Baswedan sesungguhnya menunjukkan bahwa *Anies tengah kembali berada dalam lingkungan revolusioner.* Namun, sekaligus juga memberikannya beban pekerjaan revolusi sosial yang besar. Revolusi sosial maksudnya perubahan besaran besaran ke arah kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan rakyat. Fundamental dan bersifat struktural.

Dan mari kita lihat siapa yang akan jadi Gubernur Jakarta baru untuk lima tahun ke depan? Kita lihatlah sejarah Pilkada saat ini.  ***

*)Aendra MEDITA pemimpin redaksi Jakartasatu.com

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here