JAKARTASATU – Spirit dan ruh Pancasila dari aspek keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sejatinya adalah sosialisme. Sosialisme Indonesia dalam praktek. Kalau Bung Karno bilang itu Marhaenisme. Sosialisme yang berkepribadian Indonesia.

Jadi sebuah kedangkalan berpikir jika Marhaenisme itu disama-artikan dengan komunisme. Komunisme itu memandang satu satunya tulang punggung perubahan adalah buruh industri atau buruh tani. Di Rusia memandang buruh industri sebagai tulang punggung revolusi, sedangkan Cina mengandalkan tani sebagai garda depan revolusi.

Marhaenisme Sukarno memandang bahwa di Indonesia itu belum benar-benar memasuki era industri, sehingga peran buruh atau buruh tani sebagai garda depan perubahan sama sekali tidak relevan.

Di Indonesia, kenapa lebih tepat disebut Marhaen? Karena baik kelas pengusaha, profesional,.pengrajin, tukang sate, tukang cukur, pada hakekatnya bukan berderajat buruh atau alat produksi. Mereka semua itu pada dasarnya punya alat produksi atau pemilik alat produksi. Jadi mereka merupakan tuan bagi dirinya sendiri. Dan semua kelas tersebut berasal dari lintas agama dan lintas kesukuan.Juga intas profesi.

Hanya saja, karena sistem kolonialisme dan kaipilisme begitu meraksuk ke tulang sumsum masyarakat Indonesia, maka alat produksinya itu hanya bisa sekadar menyambung hidup mereka sehari-sehari. Modalitas ekonominya itu tidak bisa meluas dan mengembang.

Tukang sate, punya alat produksi, seperti pikulan atau gerobak, alat bakar sate, sampai ke daging sate, tapi hasil yang diperoleh ya sekadar buat makan sehari sehari aja.

Petani, mereka punya tanah milik sendiri tapi paling beberapa petak sawah saja. Hasil yang mereka panen, buat sekadar menyambung hidup saja.

Mereka itu semua, sampai hari ini masih seperti itu, sehingga Marhaenisme sebagai sosialisme yang berkepribadian Indonesia barang tentu masih relevan.Sehingga berbeda dengan komunisme atau bahkan sosialisme liberal ala Eropa Barat, yang mengandalkan pertentangan kelas yang abadi antara kaum kapitalis pemilik modal versus kaum buruh.

Marhaenisme justru menwawarkan suatu perjuangan lintas-kelas atas dasar sama-sama jadi korban kolonialisme dan kapitalisme global asing dan aseng. Dan hakikinya sama-sama pemilik alat produksi dan merupakan kekuatan kreatif sosial-ekonomi, tapi karena dizolimi kaum kapitalis, kepemilikan modalnya itu sama sekali tidak mampu mengangkat harkat dan derajat mereka ke tingkatan yang lebih tinggi baik material maupun spiritual.

Yang berbahaya sekarang ini, sepertinya kaum kapitalis dan kaum komunis, sepertinya sedang bersekongkol mengepung dan menjempit hidupnya kembali paham Marhaenisme sebagai sosialisme yang berkepribadian Indonesia, Termasuk mengait-ngaitkan Bung Karno dan PKI dalam satu paket.

Menurut saya ini juga bagian dari Perang Asimetris untuk melumpuhkan potensi-potensi kekuatan nasionalis Indonesia untuk bangkit dan bersatu melawan neokolonialisme dan neo-kapalitisme baik dari asing maupun aseng.

Jadi Marhaenisme seharusnya merupakan agenda strategis semua elemen bangsa, baik yang berbasis sosial-budaya dan keagamaan maupun berbasis kelas ekonomi.

Sebab success story dari keberhasilan Iran dan Venezuela, merskin terkesan berbeda secara ideologis, namun hakekat keberhasilan mereka sama. Menggunakan kerangka berpikir Marhaenisme sebagai landasan pergerakan sosial politik dan sosial ekonominya. Meskipun menggunakan konspesi dan peristilah mereka masing-masing.

HENDRAJIT

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here