DOKTRIN MANDAT LANGIT
by Zeng Wei Jian
Tanggal 11 Juni 2016, fitnah kembali marak. Pasca saya broadcast foto Tommy Winata bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka sedang lepas anak macan Sumatera di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

TWNC adalah hutan konservasi seluas 45 ribu hektar di Lampung. Pemiliknya Tommy Winata. Tanggal 16 July 2014, TWNC menerima Panthera award akibat sukses melestarikan eksistensi Macan Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Majalah TIMES pernah mencibir taman ini sebagai tempat latihan Kopassus. Amerika ngga suka.

Tapi saya suka. Pantas aja, Kopassus jadi elite troops. One of the best. In the world. Mereka latihan survival di hutan penuh macan. Salah sedikit, bisa tewas dimakan macan.

Seakan mendapat pelor baru, orang sirik serang saya (again) sebagai “Antek TW”. Padahal, sudah dibilangin saya “orangnya” Letnan Jenderal Prabowo Subianto. Tapi tetep aja mereka ngeyel. Malah sekarang mereka serang Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka benar-benar absurd.

Mereka heran, kok saya dan Lieus bisa dengan mudah ngobrol dengan Tommy Winata. Padahal menurut mereka, para pejabat dan aktifis kesohor saja sulit ketemu Tommy Winata.

Saya ngga tau soal itu. Tapi ya mungkin saja sulit kalo tujuannya minta proyek atau menjilat.

Tommy, Lieus dan saya sama-sama Buddhist. Tommy sempat bergurau. Dia bilang, “Gua rasa kalian berdua (Lieus dan saya) sulit bisa kaya. Sebabnya, kalian “Anak Buddha”. Mestinya, punya hubungan lebih dekat dengan Buddha. Bukan sekedar “anak”. Seperti gua.”

Beberapa teman kuatir, Tommy Winata bakal pengaruhi sikap dan keberpihakan saya.

Saya kira, itu berlebihan. Tommy Winata ada di barisan pro Ahok. Saya kontra Ahok. Dan Ahok sudah tumbang. Case is closed. Saya puji Tomny Winata karena bersikap satria. Ngga ngambek seperti ahoker lain. Lagipula, bagaimana mungkin pihak yang kalah mempengaruhi pihak yang menang. Lieus dan saya ada di pihak yang menang pilkada. Yang ada mungkin sebaliknya.

Hal lain terkait Tommy Winata adalah dia pro Jokowi. Baginya, siapa pun presidennya, mesti dia dukung total. Sebabnya karena dipilih rakyat. Jadi siapa pun yang dipilih rakyat, Tommy Winata merasa wajib loyal.

Saya kira, sikap ini bersumber pada etika Confucianism. Kongzi mengajarkan rakyat harus patuh dan loyal kepada Kaisar (presiden). Karena Kaisar memiliki Mandat Langit atau tianming (Mandate of Heaven doctrine). Doktrin ini mirip prinsip ‘divine right of kings’ di Eropa.

Salah satu varian dari doktrin “tianming” adalah filosofi Legalist atau Fǎ-Jiā (法家). The First Emperor (Qin Shi Huangdi) menerapkan prinsip-prinsip Legalistik. Saya kira, Tommy Winata menganut filsafat Fa-Jia ini. Ngga heran bila dia sangat patuh konstitusi. Karena itu, dia loyal kepada Mr. President.

Saya juga penganut Confucianism. Leluhur saya, Zengzi (曾參) adalah murid Konghucu yang paling setia. He is revered as one of the “Four Sages” of Confucianism. Zengzi adalah penulis kitab-kitab suci Konghucu seperti “Classic of Filial Piety”.

Menurut Yao Xinzhong, “Confucianism was not merely a passive tool of government. It functioned, to a considerable extent, as a watchdog for ruling activities”.

Sama seperti Tommy Winata, saya juga menganut doktrin “Mandate of Heaven”. Bedanya, bila Tommy Winata merasa harus selalu loyal kepada presiden, saya mengadopsi “the right of rebellion”. Menurut Kongzi, Mandat Langit bisa dicabut bila “the emperor and his government failed to govern responsibly, mistreated the people or abused their power, their authority to rule could be withdrawn”.

Menurut Prof Ching Yip, salah satu indikator seorang kaisar yang mulai kehilangan mandat langitnya adalah pemberontakan petani. Dalam konteks modern, maraknya demonstrasi mahasiswa, buruh dan elemen masyarakat lain adalah indikator seorang presiden mulai kehilangan Mandat Langit.

THE END

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here