Baju Adat 17an di Istana

0
1386

Yang mengganggu benak saya, memakai baju daerah atau adat itu harusnya memancarkan wibawa dan kesakralan dari si pemakai baju daerah. Yang kemudian saya lihat malah seperti nggak pas di badan.

Saya lihat yang lumayan pas di badan dan memancarkan aura wibawa cuma Pak SBY. Dan menariknya, justru baju yang dikenakan SBY malah bukan khas daerah. Tapi khas keindonesiaan yang biasanya selama ini corak baju tersebut untuk acara acara resmi kenegaraan. Meski sering juga buat acara resepsi lainnya.

Mungkin masalahnya lebih pada niat atau hajatan sesungguhnya dari instruksi untuk memakai baju adat dan daerah tersebut. Sehingga yang terpancar bukannya kesakakralan dan wibawa, melainkan yang serba nggak pas atau mengesankan apa yang orang Jawa bilang Wagu. Atau istilah lainnya, nggak kuku.

Jangan jangan, ini juga bagian dari Perang Asimetris asing di ranah budaya. Mendangkalkan penghayatan kearifan lokal bangsa nusantara melalui strategi pemanfaatan busana secara tidak pas.

Yang mereka lupa, pakaian daerah atau adat, ada energi spiritualnya yang bersenyawa dengan kearifan lokal masyarakat nusantara. Jadi ga boleh buat main-main. Anda tahu, para leluhur ketika menenun kain-kain aneka corak dari berbagai daerah di nusantara, ada yang harus puasa dulu 40 hari. Ada yang tirakatan dulu pantang makan ini makan itu. Jadi pastinya ada energi spiritual yang terpancar dalam kreasi para pencipta aneka corak pakain daerah atau adat tersebut.

Alhasil, ketika pakaian aneka daerah dan adat itu dikenakan oleh orang orang yang punya itikad tidak lurus atau malah bertabrakan dengan energi spiritual dari ketulusan para pembuat kain kain dari aneka corak kedaerahan dan adat tersebut, maka apa yang dituju dengan tampilannya, jadi tidak pas. Bagaimana menurut teman-teman?

Monggo, dibahas dengan santun.

– HENDRAJIT