JAKARTASATU – Kalau dulu yang dikejar banyak dosen adalah jam mengajar,  namun sekarang ini dosen tidak hanya mengajar namun juga  harus bisa menulis karya ilmiah,  demikian yang disampaikan oleh Dr. Puji Lestari, MSi, Ketua Umum APJIKI (Assosiasi Penerbit Jurnal Konunikasi Indonesia) dan Ketua Jurnal ASPIKOM (Assosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi) saat mengawali  materinya pada acara yang diselenggarakan STIKOM Interstudi  dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertajuk, ‘Workshop Klinik Publikasi Ilmiah Untuk Jurnal terAkreditasi.” Di kampus Stikom Interstudi, kemarin (9/9/2017)

“Dosen juga harus bertanggungjawab dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Antara lain dosen harus melakukan penelitian, penulisan karya ilmiah dan publikasi. Penelitian itu tidak ada manfaatnya kalau tidak adas publikasinya. Yang kedua untuk mengembangkan ilmu kalau tidak terpublikasi dan mengembangkan ilmunya maka perkembangan ilmunya akan lambat. Setelah terpublikasi itu maka banyak orang tahu sehingga menjadi ajang untuk diskusi para ilmuan seperti yang sudah banyak dilakukan di luar negeri, di kita ini belum meluas. Karena tidak setiap dosen itu bisa menulis artikel atau jurnal di bidangnya. Dan salah satunya adalah assosiasi harus lebih mensosialisasikan  kegiatan ke kampus-kampus maupun dari kampus itu sendiri.” Ujar Puji  di kampus STIKOM-Interstudi, Jakarta,(9/9).

Itulah yang menjadikan alasan STIKOM-Interstudi malakukan kegiatan ini. Kegiatan yang juga dihadiri oleh Nyoman Puspadarmaja SE.M.Si, Direktur Pelaksana STIKOM-Interstudi dan Dr. Marlinda Irwanti, Msi. Ketua STIKOM-Interstudi. Marlinda dalam sambutannya dan membuka acara itu mengatakan,  Bahwa,  Jurnal yang sudah  terakreditasi itu masih sedikit jumlahnya terlebih pada jurnal komunikasi, ia berharap akan menjadi semangat untuk membuat dan meramaikan lagi jurnal komunikasi di STIKOM-INterstudi yang sudah ada ini. ‘Membaca jurnal mendapatkan  konsep, tapi kalau membaca buku mendapatkan  teorinya.’ Ujarnya.  Ia juga menyambut baik kegiatan yang dibuat oleh  ketua LP2M Stikom_Interstudi dan berharap kegiatan ini bukan yang pertama dan terakhir tapi juga berkelanjutan nantinya.

Sedangkan menurut  Dr. Poppy Ruliana, Dra.M.Si, ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKOM-Interstudi mengatakan, “ Di dalam Perguruan Tinggi itu sangat penting untuk melakukan penelitian dan membuat karya ilmah selain karena sesuai dengan program pemerintah bahwa semua Perguruan Tinggi itu harus lebih konsentrasi pada riset  dan penelitian itu harus diutamakan selain pendidikan, pengajaran dan juga pengabdian pada masyarakat. Kalau untuk kepangkatan dosen sekarang ini nilainya jauh lebih besar dengan menulis karya ilmiah. Sehingga bisa dikatakan wajib dilakukan oleh para dosen untuk naik kepangkatan dan terakreditasi.” Paparnya menjelaskan.

Lebih jauh dalam presentasinya, Puji mengatakan, bahwa ketika mau menulis, kita harus punya rancangan dan harus sudah punya data. Jurnal terakreditasi harus berdasar hasil penelitian. Dan menemukan implikasi dari hasil penelitian tersebut. Banyak jurnal yang ditolak karena hanya pemaparan deskriptif aja. Apa sumbangan idenya karena tidak ada bahasan atau penelitian yang mendalam. Misalnya ‘Pengaruh Sinetron Terhadap Anak Menjadi Tinggi.”  Ketika sudah menemukan itu lantas berhenti sampai disana. Harusnya digali lagi apakah sudah bermakna?  Menjadi bermakna kalau kita memberikan literasi misalnya jangan menonton sinetron, apalagi jika berdampak negatif. Bagaimana menganalisis perilakunya lebih sosial atau anti sosial. Jadi tidak terkesan Jurnal berhenti sebelum memiliki ide.

Dengan kata lain Ia menjelaskan, “ Banyak berkala ilmiah Indonesia gagal terakreditasi karena penyebab utamanya Karena pencarian, pengidentifikasian, dan perumusan masalah penelitian atau penelaahannya tidak memenuhi persyaratan minimum, sehingga pendekatan pemecahannya juga tidak menjanjikan dihasilkannya simpulan yang bermakna untuk disumbangkan demi kemajuan ilmu dan teknologi.” ungkapnya

Puji yang juga dosen UPN Yogyakarta dan memiliki empat orang anak itu memberikan tips bagi para dosen dan audience yang mengikuti seminar itu antara lain berasal  dari Bandung, Trisakti, Universitas Indonesia selain juga para mahasiswa S2 Stikom_Interstudi. Tips itu antara lain dalam menyiapkan artikel itu 1. Jangan sekedar menambahkan hasil, pembahasan dan simpulan pada naskah proposal penelitian, 2. Jangan ‘membonsai tesis/disertasi’, 3. Mulailah dengan menulis simpulan, 4. Cari benang merah—naskah yang disiapkan oleh penulis ialah dari simpulan ke tujuan penelitian, 5. Memahami sikap dan alur kerja mitra bestari (reviewer), 6. “Benang merah” penelaahan naskah bagi mitra bestrai ialah tujuan (& state of the art) ke simpulan, 7. Taati petunjuk bagi penulis (Guide for Authors)

Ia menambahkan,”Dalam  membuat karya ilmiah  harus ada Tujuan penelitian, Pendahuluan, metoda, hasil bukti umum, Abstrak bukan pengantar tetapi jendela bagi pembaca untuk mengetahui apa inti masalah penulis. Di latar belakang masalah jangan melihat apa-apanya yang bagus. Abstrak cukup hanya 200 kata saja dan di dalam abstrak harus ada tujuan  penelitian, teori,  konsep, metode penelitian,  pembahasan dan simpulan. Dan untuk bisa masuk ke jurnal ilmiah terakreditasi juga harus memahami gaya selingkung dari karya ilmiah ini.” Jelasnya

Dari workshop ini diadakan juga perjanjian kontrak kerjasama antara antara Pengelola Jurnal InterKomunika-STIKOM Interstudi yang diwakilkan oleh Dr. Agus Kardiman dengan APJIKI  (Assosiasi Penerbit Jurnal Komunikasi Indonnesia) yang diketuai oleh  Dr. Puji Lestari., didampingi dan disaksikan oleh Dr. Poppy Ruliana, Ketua LP2M STIKOM-Interstudi.  Semoga Sukses terus ke depannya, tercipta civitas akademia dan melahirkan dosen-doden yang terus belomba  dalam penelitian dan menulis jurnal serta dalam mengusung Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berkualitas.
(SUN)

Comments

comments

1 COMMENT

  1. […] “Dosen juga harus bertanggungjawab dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Antara lain dosen harus melakukan penelitian, penulisan karya ilmiah dan publikasi. Penelitian itu tidak ada manfaatnya kalau tidak adas publikasinya. Yang kedua untuk mengembangkan ilmu kalau tidak terpublikasi dan mengembangkan ilmunya maka perkembangan ilmunya akan lambat. Setelah terpublikasi itu maka banyak orang tahu sehingga menjadi ajang untuk diskusi para ilmuan seperti yang sudah banyak dilakukan di luar negeri, di kita ini belum meluas. Karena tidak setiap dosen itu bisa menulis artikel atau jurnal di bidangnya. Dan salah satunya adalah assosiasi harus lebih mensosialisasikan  kegiatan ke kampus-kampus maupun dari kampus itu sendiri.” Ujar Puji  di kampus STIKOM-Interstudi, Jakarta,(9/9). Read More […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here