Antara Kemerdekaan, G30S/PKI, dan Resolusi Jihad Kiai Hasyim Asy’ari

0
1496

JAKARTASATU– Paska Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tauhun 1945, PKI saat itu tidak menerima. Akhirnya mereke memberontak ke pemerintahan yang sah saat itu.

Di Surabaya, saat itu terjadi peperangan dengan para pemberontak. “Itu disampaikan pada 22 Oktober 1945. Artinya adalah bagaimana kemudian Pancasila dengan proklamasinya yang integrasikan Indonesia, dan modal kongkrit sukses penyelamatan bagi Indonesia ke depan.

Tapi, yang tadi saya sampaikan tadi di depan, belum Indonesia merdeka tahun 1948, tanggal 16 September, PKI melakukan pemberontakan di Madiun dan memproklamasikan berdirinya Negara Republik Uni Soviet Indonesia dengan Presidennya Muso dan Perdana Menterinya Amir Syarifuddin Harahap.

Sebuah pengkhianatan terhadap para ulama. Terhadap integrasi yang dihadirkan oleh para tokoh bangsa–akhirnya sampailah pada peristiwa G30S/PKI,” politisi PKS, Hidayat Nur Wahid menyampaikan, Rabu (27/09/2017), di DPR, Jakarta.

Padahal saat itu, telah menghadirkan Indonesia yang merdeka dengan berdasarkan Pancasila. Dan ketika pada tanggal 18 Agustus diterimalah akhirnya.

“Kemudian kita lihat bagaimana pembelaan para ulama seperti kiai Hasyim Asy’ari mengumpulkan ulama se-Madura, Jawa Timur dan membuat resolusi jihad. Yang isinya ada tiga. Pertama, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang yang diproklamasikan 17 Agustus dengan Pancasila-nya itu.

Hukumnya adalah fardhu a’in. Kewajiban yang bersifat individual bagi mereka yang ada di Surabaya dan sekitarnya karena memang pertempurannya ada di Surabaya. Dan yang ada di luar itu maka hukumnya fardu kifayah.

Yang kedua, siapapun yang meninggal dalm konteks ini, itulah jihad fisabilillah, berjuang di jalan Allah, maka ia mati syahid. Yang ketiga, siapa yang berkhianat, maka dia layak untuk dihukum mati,” ia menjelaskan.

Tentu saja kita sebagai bangsa yang merdeka berdaulat dan mempunyai kesepakatan besar yang bernama Pancasila, bukan hanya sekedar dasar negara tetapi satu hal yang memang menegaskan bagaimana integrasi kita sebagai bangsa terjaga. “Kalau kita baca lagi sejarah pembentukan Pancasila dan kesepakatan tentang berpancasila sejak sidang BPUPK 29 Mei sampai pidat Bung Karno 1 Juni, sejak rumusan Bung Karno sejak 1 Juni dan kemudian disepakati lagi dengan rumusan baru dengan panitia kecil, panitia sembilan yang dipimpin Bung Karno pada 22 September kita akan lihat bagaimana interaksi dari para tokoh founding fathers dan founding mothers,” tutupnya. RI