Bertanya Soal Pelantikan Gubernur Baru DKI yang Molor

0
1024

JAKARTASATU–  Catatan ini, adalah adalah adospi dari 10 tweet yang diposting pagi ini. Saya heran, dengan pelantikan Gubernur Kepala Daerah Ibu Kota Negara dan Ibu Kota Pemerintahan yang terkesan molor? Ada apa gerangan? Maka sebelum menulis catatan ini, saya sebelum nya membuat beberapa tweet. Sebelumnya saya baca di republika.co.id, Gubernur dan wakil nya Anis Sandi baru akan di lantik pada sore nanti jam 16.00. Saya pun bertanya tanya. Kok molor? Kena tidak dari pagi? Bukan kah  Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno terpilih sudah harus segera mempimpin Ibu Kota Negara secepat nya? Kenapa pelantikan di perlambat?

Tidak dapat dipungkiri, jika pelantikan Gubernur baru Jakarta, sebagai Daerah Khusus dan Ibu Kota negara, rada molor-molor ini, dipresepiskan publik, sebagai kekalahan jago Istana dan masuk penjara karena kasus penistaan Agama. Oleh karena nya semestinya untuk menghapus kesan publik itu, Istana segara melantik Gubernur baru sesegera mungkin. Karena agenda untuk memiliki Gubernur, Kepala Daerah secara definitif adalah hal yang sangat mendesak.

Oleh karena untuk menghapus itu, semestinya Istana harus agenda kan pelantikan Anies-Sandi pagi-pagi. Jika pelantikannya pagi-pagi, maka itu menunjukkan good will presiden Joko Widodo serius dalam hal penanganan Nasib Ibu Kota Negara juga Ibu Kota Pemerintahan. Dan sekaligus menghapus kesan karena kalah jagonya, maka Jakarta diremehkan? Jika dibanding dengan nasib beberapa Kepala Daerah yang menang dalam Pilkada serentak beberapa bulan lalu, Nasib Gubernur Kepala Daerah sepertinya jadi anak tiri. Ini tidak boleh terjadi.

Mengapa pada tahun 2012, saat Jokowi-Ahok menang dari pasangan Cagub-Cawagub, Fauzi Bowo-Nahrawi Romli, segera dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni, tapi kenapa hal demikian tidak terjadi pada pasangan Pemenang, Anies Baswedan, Sandiga Solahuddin Uno? Padahal Jakarta, adalah Kota Proklamasi, Ibu Kota Khusus dan Ibu Kota Negara. Kalau alasannya karena masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat berakhir pada 15 Oktober, yang jatuh pada hari minggu. Dan pelantikan Gubernur baru pada hari ini?

Setelah beberapa bulan menang dalam Pemilihan Gubernur serentak lalu. Lalu, di mana memanandang Jakarta sebagai Kota Proklamsi, Ibu Kota Khusus, Ibu Kota Pemerintahan dan Ibu Kota Negara Republik Indonsia? Padahal jika dipandang dari empat hal Istimewa yang disebutkan tadi, maka pelantikan Gubernur Baru Jakarta, tidak perlu menunggu ber bulan-bulan, apalagi, kesannya molor dan dilambat-lambatin.

Ibu Kota Proklamasi 18 Agustus 1945, Ibu Kota Negara Republik Indonesia, jangan disandera oleh kepentingan sesaat oleh Politik sempit, oleh kelompok yang jagonya kalah dalam pertarungan merebut memimpin Jakarta, dalam pilgub lalu, kita semu harus sadar akan hal ini. Jakarta harus di tempatkan dalam konteks itu.

Bukankah Jakarta adalah miniatur dan Ruang Tamu Rumah Indonesia, kenapa sudah ada yang mengurus secara serius untuk lima tahun ke depan, tapi nasib yang mau ngurus itu terkatung katung? Jakarta jangan disandera oleh kepentingan sempit dan sesaat oleh para petualangan politik. Nasib sembilan juta warganya digantung dan terkatung.

Memang sejarah mencatat, pertarungan merebut Kursi Gubernur Jakarta, adalah paling seru sepanjang sejarah pemilihan Gubernur Ibu Kota selama ini. Oleh karenanya, setelah Jago Istana kalah dalam pertarungan, lalu ada ide mau pindahkan Ibu Kota Negara ke tempat lain, dianggap sebagai watak kekanak-kanakan.  Cerminan jiwa yang tidak sportif dan demokratis. Ojo ngono, boy.

Sebagai Presiden dan Kepala Negara, mestinya mencerminkan sikap, watak dan sportifitas dalam alam demokrasi yang sudah demikian susah kita perjuangkan, terimalah secara elegan, dan jadilah demokrat sejati, apalagi partai pengusung di Pilpres dahulu berbenderakan demokrasi dan perjuangan.

Tulisan ini adalah refleksi dan kritikan bagi semua yang mengusung label dan jargon demokrasi tapj berpikir dan bertindak tidak demoratis. Marilah segera melantik Gubernur DKI, agar Ibu Kota  Negara, dan Ibu Kota Pemerintahan segara dibenahi dari segala carut marut yang ada, sesegera mungkin.

Selamat kepada Bang Anies dan Bang Sandi untuk masa Bakti 2017-2022, jika sudah dilantik. Barakallah.

*Muslim Arbi (Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi)

Surabaya, 16 Oktober 2017