Yang Tidak Ada di Kepemimpinan Jokowi sehingga Mandeknya Cara Berpikir Urus Negara

0
616

JAKARTASATU– Kerugian terbesar kita jika presiden tidak suka bicara seperti  Bung Karno menurut Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah adalah matinya jalan pikiran. “Kita bersyukur diberi pendiri bangsa yang memiliki kemampuan berpikir kelas dunia; Bung Karno,” katanya, di akun Twitter pribadinya, Senin, 6 Nopember 2017.

Mereka adalah pemikir sekaligus juga orator dengan kemampuan bicara memukau pendengarnya. “Saya sarankan anak-anak muda milenial yang gemar media sosial gemar juga menonton pidato mereka. Masih ada. Supaya kalian jangan sibuk dengan keren dan ‘Gue Banget’ dan lain-lain dari masa kini yang dangkal.”

Sungguh, menurutnya masa-masa formasi bangsa ini seperti mendapat anugerah besar. Para pemimpin pengelola. Di masa itu, sedikit sekali jembatan dan jalan raya. Tapi kita merasa tersambung oleh bicara pimpinan kita.

“Coba baca pidato Bung Karno 1 Juni 1946 yang terkenal itu. Bagaimana sang fajar meramu percakapan pemimpin bangsa jadi Pancasila. Lalu, pemimpin bersatu dan bersepakat meski ada sedikit perbedaan tetapi jalan tengah bisa dirumuskan.

Lahirlah sebuah bangsa yang ajaib. Beragam dan aneka warna tapi bersatu dan menjadi satu. Ini semua karena ada tradisi pidato dan berdebat serta diskusi menemukan jalan tengah dari pikiran yang berserak. Itulah yang tidak ada sekarang, pimpinan tidak gemar pidato apalagi berdebat. Jalan Pikiran mandek.”

Fahri, lanjutnya, sangat disayangkan ketidakhadiran presiden dalam dialektika penting tentang agama dan negara belakangan ini. Presiden lupa bahwa sebuah bangsa bubar bukan karena jalan dan jembatan juga pelabuhan. Tapi karena jalan pikiran.

“Di Eropa yang infrastrukturnya sempurna itu, ada setidaknya 2 fenomena yang akibatnya besar ke depan; isu Brexit dan Catalan. Sebelum itu di Inggris juga ada referendum orang-orang Skotlandia yang ingin berpisah. Meski gagal tapi itu perlambang perceraian.

Jalan yang tersambung tidak bisa menyambung Jalan Pikiran begitu saja. Jalan pikiran juga perlu perhatian utama. Maka, setelah 3 tahun pak Jokowi marilah bangun infrastruktur pikiran kita bersama. Jalan dan jembatan yang tersambung tanpa jalan pikiran yang sama bisa bikin kita jadi bangsa tawuran.”

Namun, mungkin menurut dia ini sulit bagi yang tidak gemar pidato seperti Bung Karno sehingga perbedaan dibiarkan. Jalan yang telah ditempuh melalui Perpu Ormas dan sekarang ormas pro pemerintah berburu ormas lain adalah bahaya.

“Dalam suasana Pasca411 ketika rakyat melakukan protes damai atas sikap tidak adil pemerintah mari kita buka Jalan Pikiran. Mari kita mengikuti cara Bung Karno dan para pendiri bangsa. Gemar pidato, debat dan dialektika. Supaya kita tahu kita mau kemana. Dan supaya kita bisa saling mengenal dan menerima.” RI