Menteri Perindustrian Dianggap Rendahkan Petani, Ini Kata Ketum HKTI

0
671

JAKARTASATU– Ketua Umum Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI), Fadli Zon mengkritisi ucapan Menteri Perindustrian Arilangga Hartarto yang seperti merendahkan profesi para petani dengan membandingkan upah, antara petani dengan upah pabrik. Berikut pernyataan Fadli Zon yang ditulisnya melalui akun Twitter pribadi miliknya, Rabu, 8 Nopember 2017:

“Saya agak terganggu dengan pernyataan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang dikutip oleh berbagai media kemarin, yang mengatakan jika upah bekerja di pabrik lebih tinggi daripada bekerja di sawah. Saya kira, pernyataan semacam itu menyesatkan dan cenderung melecehkan profesi petani.

Pernyataan semacam itu, yang membandingkan profesi hanya dari tingkat upah. Pernyataan semacam itu bisa menyesatkan pemahaman publik dan cenderung melecehkan profesi petani. Kalau gaji astronot lebih tinggi dari gaji pekerja pabrik, misalnya, apakah kemudian semua orang harus jadi astronot? Apa menjadi astronot lebih baik dari menjadi pekerja pabrik?! Atau, menjadi pekerja pabrik menjadi lebih buruk dari jadi astronot?! Tak seharusnya pejabat pemerintah melontarkan pernyataan tak terukur semacam itu.

Ketimbang membandingkan upah buruh pabrik dengan upah petani di Klaten, yang tak sepadan, Menteri Perindustrian mestinya fokus memperhatikan laju deindustrialisasi di Indonesia. Kenapa kontribusi sektor industri terhadap PDB terus mengalami penurunan? Persoalan itu mestinya diberi perhatian utama.

Pada 2004, konstribusi industri manufaktur terhadap PDB kita masih 28,34 persen. Namun, tahun 2014, kinerja industri manufaktur terus turun menjadi 21,01 persen. Di masa pemerintahan @jokowi, laju penurunannya tak berkurang. Pada Triwulan II tahun 2017, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB bahkan tinggal 17,94 persen. Selain itu, pertumbuhan industri kita juga selalu berada di bawah angka pertumbuhan ekonomi.

Soal-soal semacam itu mestinya lebih diperhatikan oleh Menteri Perindustrian @airlangga_hrt. Bahwa sektor industri kita kinerjanya ternyata tak bagus. Jadi, untuk menunjukkan kinerja sektor industri sebaiknya menggunakan data dari sektor industri juga. Jangan hanya demi memoles kinerja sektor yang dipimpinnya lalu membandingkannya dengan sektor lain yang tak ada hubungannya.

Publik yang membaca pernyataan itu bisa salah memahami persoalan, seolah lebih baik jadi buruh pabrik daripada menjadi petani. Jika upah petani dianggap rendah, justru ini tugas pemerintah untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani. Dan bukannya malah merendahkan profesi petani. Apalagi, mayoritas jumlah tenaga kerja kita bekerja di sektor pertanian, yaitu 39,68 juta orang, atau 31,86 persen.

Sementara itu, mereka yang bekerja di sektor industri hanya separuhnya, yaitu 16,6 juta orang, atau 13,31 persen. Saya yakin Pak @airlangga_hrt maksudnya mungkin tak ingin merendahkan profesi petani. Tapi dengan pernyataannya itu, beliau telah menyinggung masyarakat petani.” RI