Infrastruktur Rezim Jokowi Ini Diprediksi Gagal

0
761

JAKARTASATU– Ada kehendak lain yang nampaknya bukan kehendak para bawahannya Joko Widodo selaku Presiden terkait pembangunan infrastruktur. Salah satuny saja soal bagaimana proses dari infrastruktur atau pembanguna kereta api cepat yang sepertinya akan gagal.

Berikut pandangan dan atau pernyataan dari Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagyo saat acara diskusi di bilangan Gambir, Jakarta, Rabu, 15 Nopember 2017:

“Ujung-ujungnya pembiayaannya tidak ada. Saya katakan pada pembantu-pembantunya kalian tidak, ketika membangun dengan menyatakan siap lalu dia kembali membuat studi, katakanlah tiga alternative lalu dipresentasikan kepada Presiden, ‘Pak, ini ruginya dan untungnya, dst… Bapak silahkan pilih.’ Dari situ lalu  bisa diturunkan soal pembiayaannya. Biaya infrastruktur mahal. Sekarang kan dipakai dana subsidi BBM, makanya itu subsidi BBM itu hilang. Tetapi kurang.

Kita lihat pembangunan di Jawa lumayan massif. Saya bertanya kenapa di Jawa lagi? Katanya Nawacita? Sekarang, LRT itu, terus terang saya deg-degan, ada tidak uangnya Rp. 2,8 triliun? Desember ini Adhi Karya akan nagih ke PT. KAI. Uangnya ada atau tidak? PT KAI sudah menunda pembeliaan keretanya karena uangya dipakai untuk kereta cepat. Sementara jadinya kapan kita belum tahu.

Kemudian ada banyak pelabuhan atau beberapa pelabuhan yang ternyata tidak ada kapal singgah. Jadi, susah. Artinya, menurut saya harusnya direncanakan dengan baik. Ini karena pembantu-pembantunya dahulu itu langsung menyatakan siap. Saat ditanya dari mana biayanya malah dijawab ‘gampang nanti dicari’.

Itukan besar biayanya. Ini, sekali lagi banyak visitelnya muncul belakangan. Ini karena pernyataan ‘siap, Pak’ tadi. Inilah yang saya soroti dalam 3-4 tahun kenapa jadinya begini. Kenapa tidak dijabarkan dengan baik lalu Presiden bisa saja langsung mengerti kalau itu tidak mungkin (terlaksana).

Jadi menurutnya saya, perintah itu diasumsikan harus dijalankan. Padahal kan tidak demikian. Harusnya bilang saja tidak bisa. Sebab saya yakin jika Presiden paham akan mengatakan ‘ya, sudah ganti’.” RI