Penolakan Abdul Somad, Agen PKC, dan Kedustaan

1478

JAKARTASATU– Dideportasinya atau diusirnya salah satu tokoh agama Islam dari Hongkong melalui imigrasinya mengundang banyak pengamat atau politisi angkat bicara. Penolakan yang dilakukan oleh negara komunis tersebut bukan tanpa alasan, setidaknya walaupun tidak jelas kenapa Abdul Somad ditolak masuk tetapi nampaknya tidak demikian.

Berikut analisa dari salah satu politisi Golkar Indra J. Piliang atas insiden penolakan tersebut: Dengan dideportasinya Ustaz Somad oleh pihak Imigrasi Negara Tiongkok; terbukti sekali bagaimana detilnya China bekerja menyangkut pekerjaan siapa saja yang menjadi WNI. Rerata yang bekerja itu agen-agen muda PKC yang fasih berbahasa Indonesia.

Pun menerawang socmed. Di Tiongkok: Twitter, Facebook, dan lain-lainnya dilarang alias diban pemerintahannya. China menyediakan sendiri aplikasi-aplikasi sejenis dalam bahasa Mandarin guna melindung kepentingan nasionalnya.

Perlu ada investigasi dan detil dari Ustaz Somad, sebelum politisi banyak bicara di publik. Misal, pas ada pertanyaan untuk keperluan apa ke Hongkong? Berapa lama? Tinggal dimana? Kerabat? Kenalan? Pun pekerjaan di Passport. Kalau jawabannya: “Ceramah agama” dari sekian pertanyaan itu, sudah pasti memunculkan masalah di negara komunis itu.

Idealmya pihak pengundang melibatkan Kemenlu sebelum mengurus segala sesuatunya. Belum lagi kalau melihat cap-cap negara yang pernah didatangi oleh Ustaz Somad sebelum berangkat ke Hongkong.

Semua negara punya alibi dan alasan subjektif untuk menolak seseorang untuk masuk ke negaranya, karena alasan-alasan seperti ini. Disinilah letak kehebatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Belum pernah terdengar ada ustaz, pastor, pendeta, biku, bikuni dan lain-lain yang dideportasi pas sampai di Indonesia. Imigrasi Indonesia lebih “hormat” kepada mereka. Kecuali teroris or ceramah di daerah konflik seperti Papua.

 

Saya pernah tanyakan langsung ke profesor di Shanghai. Dia bilang: “Kami melindungi kebudayaan kami yang jauh lebih tua dari kebudayaan manapun. Setiap sistem aplikasi yang masuk dari negara lain, pastilah membawa misi-mis kebudayaan mereka yang bisa mempengaruhi dan merusak kebudayaab kami.” Saya sih gak percaya sama jawaban diplomatik profesor Shanghai yang merupakan ideologi Partai Komunis Tiongkok itu.

Saya percaya Deng Zio Ping (Paman Deng): “Saya tak peduli kucing hitam atau kucing putih. Saya peduli kalau kucingnya bisa menangkap tikus apa tidak.” Gimana bisa percaya, pedagang-pedagang di Shanghai ternyata tukang tipu. Itupun tahunya saya setelah nyampe di rmh. Buka benda seni yang beli, eh, nyatanya sudah rusak, bukan yang saya lihat dimasukin ke kantong.

Soalnya, perhatian saya dialihkan temannnya yang nawarin kartu remi semi sexi hehehe… Kuncinya China itu ya dagang. Bilang aja mau belanja, bawa kantong kresek. Di imigrasi, cepet kali tuh prosesnya. Pake sandal jepit lagi. Itu yang bisa melakukan, dua anak Pariaman yang turun di Guangzhou bareng saya. Saya ampe malu, bawa branded Pasar Raya.

Coba pelajari gimana cara hidup Tan Malaka selama dikejar-dikejar intelijen Belanda. Tan belagak jadi orang Tionghoa, jadi guru bahasa Inggris di komunitas China Singapore, dan lain-lain. Hilang dia bertahun-tahun. Tak tercium anjing-anjing pelacak Belanda dan Jepang.

Gak perlu jujurlah kalau masuk China. Tipu-tipu aja imigrasinya. Emang dosa, kalau kita menipu imigrasi China, sementara pedagang-pedagangnya nipuin kita? Dari partai kaki lima hingga impor barang. Bilang aja: “Bussiness. Xie xie.” Lalu pasang muka Jackie Chan. Gitu kikira. RI

*Politisi Golkar, Indr J. Piliang