Prof. Ini Tanya Letak Otak Orang yang Ingin Impor Pangan

0
749

JAKARTASATU– Mohon maaf, saya itu benci dengan impor. Tentunya pangan gitu, ya. Apapun impor, garam pun termasuk. Otak kita ini di mana? Kok tidak bisa berupaya dulu. Soal data, mana yang benar: Bulog, BPS, dan Kementerian Pertanian. memang jika mendata selalu berbeda. Tetapi kira-kira berapa konsumsi beras untuk rakyat indonesia per hari/kapita? Saya tidak permasalahkan perbedaan data ini.

Kita pernah dihantam tetapi kita tidak impor. Kok sekarang seperti cetek otak kita: langsung impor, impor. Dan kesalahan fatal itu saat impor adalah diberikan ke salah satu perusahaan, bukan ke bulog. Dan itu mestinya ke bulog.

Saya memperhatikan saat ini pemerintah kurang memberdayakan bulog. Mestinya kalau soal beras bulog itu nomor satu. Persis seperti di era Pak Harto.

Ada yang aneh bin ajaib, saat kita ingin panen setidaknya 2 juta ton di bulan februari. Maret ada sekitar 2 juta ton lagi. Anda mesti tahu jika kita putuskan impor beras, itu membutuhkan waktu satu setengah sampai dua bulan. Baru setelah itu.

Mentan dan mendag ini harus dibedakan. Sebab di masa lalu yang paling ngebet ingin impor beras adalah Mentan, ingin ke Pakistan. Untuk apa? Saya kritisi karena kok tiba-tiba dari Pakistan 5 juta ton. Tetapi akhirnya tidak jadi.

Sepertinya diimpor ini ada apa-apanya begitu. Benar yang dikatakan Pak Jusuf Kalla beras ini komuditi yang sangat strategis. Beras ini bisa menjatuhkan pemerintahan. Sebab di Indonesia ini rakyatnya kultur nasi. Termasuk saya jika makan belum srek kalau belum makan nasi. Kalau beras naik, dan kalau kekurangan beras dalam waktu lama maka rakyat bisa teriak dan berontak. Sehingga janganlah permainkan masalah beras. Saya tidak setuju. Namun demikian yang saya ketahui dan akui bahwa sudah dua tahun ini pemerintahan Jokowi-JK tidak pernah impor beras. RI

*Pengamat Komunikasi Politik, Prof. Tjipta Lesmana