Soal Pangan, Soal Hidup dan Mati, Mantan Rektor IPB: Bukan Pencitraan dan Klaim Semata

0
148

JAKARTASATU– Persoalan pangan ini persoalan yang sangat serius. Bung Karno ketika meletakkan batu pertama kampus Ciwidei di Baranangsiang mengatakan persolan pangan ini persoalan hidup atau mati. Tidak boleh main-main soal pangan ini.

Pengambilan keputusan itu benar-benar ingin menyelamatkan dan menata cara pikir ulang, tentang swasembada, tentang subsidi, harus dikaji ulang. Pastikan setiap penduduk mendapatkan akses pangan, terutama mereka yang berpendapatan sangat kecil.

Kita perlu mengembangkan model agrobisnis optimal dan modern. Sehingga kita bisa menghasilkan trust dengan harga pokok produksi yang efisien, yang rendah, dan mutunya bagus. Bisa bersaing. Efisiensi berkeadilan di situ. Konsolidasi bersama.

Tadi Pak Jafar bercerita di Amerika bisa memasok kebutuhan pangan yang begitu besar karena menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). ICMI ini berkepentingan karena IPTEK ini dari dulu jadi konsern, jadi keganderungan dan jadi obsesi.

Saya mengajukan usulan sebagai konsolidasi usaha. Presiden juga sudah menyampaikan saat orasi di IPB 6 Sepetember tahun lalu. IPB sebenarnya sudah menerapkan agrobisnis yang optimal dan modern sehingga luasannya tidak kecil-kecil lagi dikonsolidasi petani itu diterapkan mekanisasi. Tapi mekanisasi yang tepat, bukan menyebar alat mesin pertanian asal diadakan, apakah dipakai atau tidak urusan belakangan, ini kan tidak benar. Tapi konsolidasi usaha yang bisa mewujudkan willing tim.

Kalau kita main sepak bola itu ada yang penjaga gawang sampai penyerang itu adalah tim terbaik dan pertanian itu harus begitu. Mulai dari petaninya sendiri harus mampu mengamati hama dan menggunakan benih  yang unggul. Banyak sekali. Tapi masalahnya apakah itu dikonsolidasi dengan baik lalu petaninya diberdayakan, diberi subsidi yang baik.

Subsidi ini sekarang subsidi input: pupuk, benih. Padahal sudah lama kita menyampaikan beberapa hal, menyampaikan subsidinya mesti efektif. Dikaji ulang. Subsidi berbasis output. Jadi yang menikmati petani langsung, bukan, katakanlah pihak-pihak tertentu yang tidak berkepentingan. Misalnya industry pupuk. Sebetulnya industry pupuk juga kalau tidak diberi tugas mengahasilkan pupuk yang subsidi mungkin lebih lincah untuk menghasilkan pupuk sehingga bersaing hasil pupuk dari negara lain. Sehingga yang sangat penting adalah bagaimana caranya kita secara keseluruhan sebagai bangsa merancang semuanya berbasis kebenaran. Berbasis ilmu pengetahuan, bukan pencitraan. Bukan klaim. Untuk apa membuat klaim yang tidak benar.

Kalau pertanaman kita sama-sama tahu, kadang menumbuh kadang tidak. Ada yang terserang hama dan sebagainya. Itu suatu hal yang alami, yang harus diakui. Wereng, ini persoalan yang sangat krusial. Sudah kita ingatkan. Tapi dinyatakan sedikit saja masalahnya. Selalu begitu.

Kalau dikonsolidasi itu usaha lalu dilatih petani untuk mengamati hama dan menerapkan prinsip-prinsip pertanian yang berkelanjutan, menggunakan benih unggul kemudian tinggal realisasinya saja. RI

* Prof. Hery Suhardiyanto, Rektor IPB 2013-2017

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.