Kebijakan “blunder” Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

0
1061

Menteri Perdagangan Membuang Kewenangan Menteri Perindustrian Soal Impor Baja Turunan.

JAKARTASATU.COM – Kebijakan baru Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito menerbitkan Permendag ( Peraturan Menteri Perdagangan ) nomor 22 tahun 2018 pada 10 Januari 2018 yang merupakan perubahan ketiga dari Permendag nomor 82 tahun 2016 dianggap merupakan kebijakan blunder dan banyak dipertanyakan sesungguhnya tujuannya untuk kepentingan siapa ? , bahkan terkesan kebijakan itu merupakan ” hatrick ” Menteri Perdagangan diawal tahun 2018 setelah secara kontroversial melakukan kebijakan impor beras 500 ribu ton disaat memasuki panen raya dan impor gula 1, 8 juta ton serta impor garam 2,3 juta ton oleh kita sebagai negara yang mempunyai garis pantai terpanjang nomor 2 didunia , akan tetapi semua protes yang muncul dari segenap lapisan masyarakat telah diabaikannya.

Sehingga memunculkan banyak tudingan bahwa semua kebijakan itu diduga lebih mementingkan kepentingan pemburu rente daripada kepentingan rakyat dan ratusan pelaku industri baja turunan yang telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja terancam gulung tikar akibat kebijakan kontroversi Menteri Perdagangan.

Semuanya itu diawali adanya penghapusan pasal 4 dari isi Permedag nmr 82 thn 2016 yaitu untuk memperoleh persetujuan impor sebagaimana dimaksud ayat 3 ayat 1 , bahwa perusahaan harus mengajukan permohonan secara electronik kepada Dirjen Perdagangan Luar Negeri diharuskan melampirkan ” Pertimbangan Tehnis oleh Menteri Perindustrian atau pejabat yang ditunjuk ” , dan ternyata point Pertimbangan tehnis dari Menteri Perindustri itulah yang dihilangkan pada pasal 4 Permendag nmr 22 tahun 2018 .

Oleh sebab itu tentu tak salah publik menilai bahwa kebijakan Menteri diduga tujuannya terkesan untuk menghidupkan peran pelaku importir atau pemburu rente dari pada membesarkan industri dalam negeri , akan tetapi bedanya kalau ” hatrick ” didunia sepak bola adalah keberhasilan menciptkan goal kegawang lawan tiga kali , akan tetapi ” hatrick ” yang dilakukan Menteri Perdagangan ini malah memasukkan tiga bola kegawang sendiri alias bunuh diri , ironis memang.

Asal tau saja kebijakan yg sudah berjalan selama ini yang berdasarkan Permendag nmr 82 tahun 2016 yang sudah berjalan baik dan telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan industri dalam negeri , maka dengan munculnya kebijakan baru berlandaskan Permendag nmr 22 tahun 2018 telah menimbulkan kecemasan baru industri baja turunan pengguna kawat baja yang memproduksi baut , mur , paku, wire mesh, baja pra tekan dan lainnya akan ancaman dibanjirkan oleh serangan produk impor .

Padahal pertimbangan tehnis dari Kementerian Perindustrian selama ini telah menghadang upaya pihak pemburu rente melakukan impor berlebihan , sehingga pertimbangan tehnis harusnya menjadi syarat utama apakah boleh atau tidaknya impor bahan baku , karena Kementerian Perindustrian adalah institusi yang sangat menguasai data antara kebutuhan dan suplai produk industri baja turunan dalam negeri.

Oleh karena itu kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementrian Perdagangan lebih mencerminkan ketidak berpihakan terhadap industri dalam negeri. Contoh seperti rekomendasi anti dumping terhadap Steel Wire Rod (SWR) yang dikeluarkan oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) belum lama ini, yang mana SWR merupakan bahan baku utama untuk berbagai macam produk turunan kawat baja, akan melemahkan daya saing industri turunan kawat baja. Bila bea masuk anti dumping SWR jadi diterapkan dan Permendag 22 tahun 2018 sudah berjalan, berpotensi besar utk merugikan produsen produk-produk turunan kawat baja.

Oleh sebab itu , sudah seharusnya Presiden segera turun tangan untuk meninjau dan mengoreksi kebijakan yang sudah terlanjur dikeluarkan oleh Menteri perdagangan untuk melindungi kepentingan melindungi industri dalam negeri agar bisa tumbuh sehat dan berdaya saing untuk ikut berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Jangan sampai selogan ” Nawacita” yang diusung Presiden jauh api dari panggangnya .

Jakarta 27Januari 2017

YUSRI USMAN,  CERI

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.