Abdul Harris Nasution Gantikan Jalan Mampang-Warung Buncit

0
91
Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga Anies Baswedan meneropong menggunakan tangan usai memberikan hak pilih pada Pemilihan Gubernur di TPS 28 Cilandak Barat, Jakarta, Rabu (19/4). Pilkada putaran kedua yang diikuti dua pasang cagub dan cawagub DKI Jakarta periode 2017–2022 digelar serentak di seluruh wilayah Jakarta. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17

JAKARTASATU.COM – Maksud Pak Gubernur Ada Baiknya juga; Rencana pergantian nama Jalan Warung Buncit Raya ( WBR ) – Mampang menjadi nama dari salah satu Pahlawan era revolusi kemerdekaan yang juga Tokoh Militer, Abdul Harris Nasution.

Mampang – WBR ini membentang dari arah Perempatan Kuningan Setiabudi menuju arah Selatan sampai mentok di lampu Merah Ragunan. Kalau diperhatikan WBR ini adalah Terusan jalan dari Hadji Rangkayo Rasuna Said kearah Jakarta Outer Ring Road ( JORR ) Tahi Bonar Simatupang di kenal TB Simatupang.

Jika melihat Taktik ataupun Geopolitik sekarang, Pak Gubernur sudah ada pada jalur yang benar dalam merencankan wacana pergantian nama jalan ini, baik dari kebesaran peran tokoh yang akan dijadikan suksesor dari WBR itu, dan juga dari kisah dramatis perjuangan serta perlawanan Sisingamangaraja X raja Batak pemilik wilayah Tapanuli Raya melawan ekspansi Pasukan Tuanku Rao dari Wilayah Minangkabau.

Dalam sejarah yang dilatarbelakangi Politik Adu Domba Belanda, Sisingamagaraja dan Tuanku Rao harus berdarah darah saling membunuh selain menaklukan Daerah kekuasan masing masing. Pasukan Tuanku Rao berhasil mengabil Mandailing dan Angkola, dua daerah Batak yang direbut kemudian berhasil mengislamkan Penduduknya.

Keberhasilnya merebut dua daerah batak tadi belum menyurutkan Tuanku Rao merasa menang, malah ekspansi sampai merangsek ke Sipirok dimana wilayah ini adalah perbatasan dari Tapanuli selatan yang udah ditaklukan pasukan Tuanku Rao dan Tapanuli Utara yang masih diamankan oleh para pengikut Sisingamagaraja.

Pertempuran tak bisa dhindari hingga bergugurnya Sisingamangaraja oleh Saudaranya sendiri, yaitu Tuanku Rao. Setelah berhasil menaklukan Raja Batak tadi, Tuanku Rao kena siasat dari yang punya hajatan yang tidak lain adalah sutradara dari provokasi ini, ialah Belanda dengan taktik Devide et Impera. Tuanku Rao harus tunduk jua sama kolonialis ini dan Tapanuli Utara kemudian disetir dengan Zendinnya Nomensen.

Keberadaan Orang orang Angkola dan Mandailing yang sudah mengikuti syariat paskah penaklukan oleh Tuanku Rao, mengabil sikap sebagai juru damai atau perantara dari sesama saudara yang beeselisih tersebut.

Karena kedudukan Wilayahnya sebagai penengah dan juga akses Terusan, Mandailing dan Angkola menjadi Jembatan persaudaraan utuh diantara korban siasat jahat Belanda itu. Sehingga perdebatan atupun perseteruan tidak timbul lagi semenjak adanya dua wilayah yang menjadi penengah tersebut.

Kembali lagi ke Rencana Pak Gubernur, dengan menerawang peristiwa dipertengahan Abad Sembilan Belas Masehi itu, Abdul Haris Nasution yang merupakan Putra Mandailing-Angkola tersebut selain sebagai prajurit tangguh dan Prawira berjiwa Ksatria yang harus diteladani.

Mengingat rencana pak gubernur tidak lain adalah mengubah nama dari Jalan WBR ke Jalan Terusan Abdul Haris Nasution, yang menghubungkan Jalan Hadji Rangkayo Rasuna Said dan Tahi Bonar Simatupang.

Jadi bukan adanya dorongan dari kelompok Boru Nasution yang Kaya Raya dan Buncit Buncit akibat menyedot Lemak Besannya itu, tapi ini memang inisiatif dan strategi langsung dari pak gubernur DKI ikhwal penggantian nama jalan. Dan juga sebagai Jalan Terusan menuju konsiliasi dari apa yang jakarta rasakan paska adanya provokasi yang mengkotak kotakan persaudaraan Orang Jakarta. |Kusnandang

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.