Kenapa Paska Aksi Bela Islam Banyak Orang yang Ditangkap?

0
797

JAKARTASATU– Sepertinya modus penangkapan dan penahanan orang zaman Pak @jokowi dan @Pak_JK ini termasuk wartawan senior Asyari Usman kemarin adalah untuk bikin orang takut aja. Padahal penangkapan dan penahan di luar yang diatur KUHAP adalah pelanggaran HAM. SADARKAH, PAK? Sejak kegiatan #ABI atau #AksiBelaIslam yang lalu ada banyak orang ditangkap, ditahan lalu dilepas.

Nama-nama besar; Rahmawati Sukarno, Sri Bintang Pamungkas, dan lain-lain. Mungkin maksudnya adalah untuk menunjukkan kepada publik bawa negara ini hadir dalam hukum. Ini keliru.

Negara hadir dalam hukum ditentukan caranya oleh hukum itu sendiri. Penangkapan dan penahanan adalah peristiwa hukum yang membatasi hak warga negara maka ia didefinisikan secara ketat. Tidak bisa ia diselenggarakan secara sembarangan apalagi kepada mahasiswa dan wartawan.

Dalam KUHAP, penangkapan dan penahan dilakukan dalam proses penyidikan ketika sudah cukup bukti bahwa seseorang telah melakukan tidak pidana. Sehingga dengan kata kain, orang ditangkap jika ia sudah masuk ke tahap penyidikan sebagai tersangka.

Sehingga seharusnya, tidak ada warga negara yang ditangkap atau ditahan jika hanya untuk sebuah penyelidikan. Dalam penyelidikan seharusnya seseorang maksimal dipanggil saja bukan ditangkap atau ditahan. Dipanggil pun sebaiknya diam-diam saja. Bukan diumbar untuk gagah-gagahan negara.

Sekali lagi, negara tidak ditaati oleh warga negaranya karena melanggar HAM ATAU NAMPAK MELAKUKAN TINDAKAN REPRESIF YANG TIDAK ADIL TAPI KARENA MEMBERIKAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM KEPADA WARGA NEGARANYA. Tolonglah Pak @jokowi dan @Pak_JK aturlah keadilan ini.

Apa sih hebatnya kalian bisa menangkap orang hanya karena sebuah tulisan dan berpendapat? Apa gagahnya kalian di depan wartawan dan mahasiswa? Pesan apa yang kalian akan sampaikan kepada Ustadz, mubalig dan ulama? Atau dosen serta aktifis pergerakan? Ayolah, pak! Rakyat ditakuti tidak akan merasa takut ketika rezim kalian tidak mau memeroses orang-orang kaya dan pejabat tinggi yang telah melampaui batas dengan kata-kata dan tindakannya. Toh mereka tidak berani kalian sentuh. Apakah karena mereka partai berkuasa?

Ada batas, Pada semua hal. Sekarang berhentilah. Kalian ingin melindungi diri dengan cara yang salah. Janganlah. Hukum harus tajam semua sisinya. Ia memotong ke segala penjuru dan jangan berat sebelah. Sebab rasa terzalimi bisa melahirkan pemberontakan. Berhentilah.!

Mari kita jaga demokrasi kita. Kebebasan kita ini mahal karena banyak orang mati dalam sejarah Indonesia karena merebutnya. Air mata, peluh dan darah, tulang-tulang berserakan adalah harga dari kebebasan kita. Jangan biarkan upaya sedikitpun untuk merampasnya. Dan apabila ada yang tidak tahan melihat kebebasan ini lalu ingin memutar sejarah ke belakang; memakai Perpu ormas, pasal penghinaan presiden, penangkapan sembarangan, atau apapun.

Berhentilah. Mungkin kalian memang bukan jodoh dari kebebasan kami. Indonesia tidak memerlukan pemimpin yang gemar senyum tetapi bengis kelakuannya. Indonesia tidak memerlukan pemimpin berpenampilan sederhana tapi seolah mempertahankan kemewahan kekuasaannya. Cukuplah. Indonesia memerlukan kepemimpinan otentik. Kebebasan ini bisa kita kelola, sederhana karena dia adalah mimpi kita. Sedungu-dungu manusia adalah yang tak sanggup menjaga mimpinya. RI

*Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah