Antara DESA dan EDSA

0
190
Adhi Massardi/ist

Oleh Adhie M Massardi

Membaca catatan DESA (Djoko Edhi S Abdurrahman) yang menyoal absurditas hasil survei Indo Barometer membuat saya jadi teringat EDSA. Dan ketika DESA berpadu dengan EDSA rasanya pahit bak empedu. Membuat hati menjasi ngilu.

DESA adalah sohib saya yang konsisten dengan dalil kebenaran hukum yang diyakininya. Sedangkan EDSA adalah akronim dari “Epifanio de los Santos Avenue”, gerakan rakyat (People Power) yang ingin meneguhkan suara rakyat “suara Tuhan” di Matro Manila (22-25 Februari 1986) pimpinan duet Cory Aquino’Kardinal Sin yang kemudian menumbangkan diktator Filipina, Ferdinand Marcos.

People Power yang terkenal itu dipicu oleh Namfrel (National Chairperson) gerakan masyarakat sipil untuk pemilu bersih yang diinisiasi Jose S Conception Jr, “bapak quick count” dunia.

Dengan metoda quick count Namfrel berhasil membongkar hasil pemilu Filipina yang diselnggarakan Comelec (Commission of Election), KPUnya Filipina. Operation quick count ini kemudian menjadi trend di negara-negara di dunia yang menyelenggarakan pemilu, termasuk di Indonesia.

Di Filipina para akademisi dan relawan yang membantu operasional Namfrel adalah kaum intelektual (yang mengolah hasil pemikirannya dengan hati, bukan dengan perutnya!)
Karena itu, bila di Filipina survei dan operation quick count itu dipakai untuk meluruskan Jalan Demokrasi yang dibengkokkan Comelec (KPU), di negeri kita kebanyakan lembaga survei dan penyelenggara quick count justru bekerja untuk melegitimasi jalan demokrasi yang bengkok dan korup.

Lembaga-lembaga survei kita yang digawangi kalangan akademisi (yang bukan intelektual) justru menjadi benalu demokrasi, yang bekerja hanya demi perut mereka, seraya menyesatkan opini masyarakat.

Oleh sebab itu, saya menyarankan DESA menyatukan kalangan intelektual Indonesia (yang jumlahnya terus menyusut) untuk menggalang kekuatan guna melawan jalan sesat kalangan akademisi di lembaga-lembaga survei kita, agar produk-produk survei mereka yang absurd, tidak menjadi virus nasional yang bisa mengansurdkan kesejahteraan dan masa depan bangsa.

Indonesia sudah sangat mendesak untuk dipimpin orang-orang yang cerdas, berintegritas dan berkualutas. Dan orang sekaliber itu niscaya akan digerus temuk oleh lembaga-lembaga survei yang absurd.

Selamat berjuang, DESA.
Jatinangor, 19 Februari 2018.

Comments

comments



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here