Komisi MUI: Tak Paham Syariah tapi Merasa Bangga adalah Kecelakaan

0
796

JAKARTASATU- Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH. Cholil Nafis menyatakan bahwa syariah adalah hal yang harus diketahui bagi setiap muslim. “Tak mengerti syariat Islam bagi pemula itu keniscayan tapi bangga dengan tak paham syariah bagi muslimah adalah ‘kecelakan’.

Syariah itu sumber ajaran Islam yang wajib diketahui oleh pemeluknya. Syariah itu original dari Allah SWT,” demikian tulisnya, di akun Twitter pribadi miliknya, Selasa (3/4/2018) dengan hastag (#)PuisiItuAja.

Cadar dan azan pun menurutnya dapat dikatakan bagian dari itu. “Cadar itu produk fikih dari ijtihad ulama yang meyakini sebagai syariah berdasarkan dalil al-Qur’an surat an-Nur: 31, khususnya menurut pendapat Ibnu Mas’d.

Walaupun ulama yang tak mewajibkan cadar. Namun tak soal keindahan semata karena juga soal kepatuhan kepada Allah SWT.”

Azan, lanjutnya, adalah syi’ar Islam untuk memberi tahu dan memangil dan mendirikan shalat. Azan bukan sekedar soal merdu suara muadzdzinnya di telinga, tapi bagi muslim azan itu menembus hati karena berisi keagungan Allah, syahadat dan ajakan untuk meraih kebahagiaan.

“Cadar dan azan menyangkut keyakinan bukan soal keindahan, meskipun keduanya itu tak saling bertentangan. Tak layak membandingkan sesuatu yang memang tidak untuk dibandingkan apalagi wilayah subjektif individu dan pelantunnya. Mana kebhinekaannya itu yang didengungkan.

Azan berasal dari mimpin Abdullah bin Zaid bin Abdi rabbih yang sama dengan mimpi Sayyidina Umar bin Khaththab tentang memberi tahu waktu shalat yang kemudian dibenarkan oleh Nabi SAW dan langsung dipraktikkan oleh Bilal bin Rabah.” Ini mimpi yang benar sebagai hadits taqriri.

“Nabi SAW bersabda: Mimpi orang shalih itu bagian dari 46 jalannya kenabian. Bahwa mimpi bisa berperan sebagai wahyu, sebagaiman mimpi model azan yang dialami oleh Abdullah bin Zaid dan Sayyidina Umar bin Khaththab yang kemudian ditetepkan oleh Nabi saw sebagai hadits Nabi saw.”

Nusantara ini kaya dengan budaya dan nilai. Menilai keindahan tidak boleh merendahkan yang lain.

“Klaim merek kecap nomer 1 boleh saja  asalkan jangan dibandingkan apalagi merendahkan kecap yang lain. Tak elok menyinggung yang lain untuk membangun kerukunan dalam kebhinekaan.” RI