2019 Ganti Presiden

0
309

JAKARTASATU– Dalam iklim Demokrasi, Tagar 2019 Ganti Presiden seperti yang sedang ngetrend sekarang ini, sah sah saja. Jika ada yang gerah dengan tagar itu, patut di pertanyakan. Apalagi, jika ada partai yang berlabel perjuangan demokrasi emosi dengan tagar itu.

Bahkan saking populer nya tagar Ganti Presiden 2019 di kaos kaos yang di cetak dan menjamur, sehingga mengundang perhatian Presiden Jokowi yang menyinggung dalam sebuah pidato nya. Apakah kaos bisa mengganti Presiden? Memang bukan kaos yang mengganti Presiden. Tapi Rakyat yang pakai Kaos itu yang ingin Presiden di ganti pada 2019.

Tagar 2019 Ganti Presiden yang menggema di medsos, sudah menjadi kekuatan yang di takuti. Masyarakat malah bukan saja mencetak kaos, tapi pin, mangkuk-mangkuk, spanduk-spanduk, poster yang sudah bertebaran di dunia maya maupun dunia nyata. Meski dengan gusar Menko Maratim, Luhut Bibsar Panjaiatan menyebut nya hanya sebgaian kecil. Tapi kenapa di tanggapi Bos nya?

Kalau melihat, semangat Rakyat menyebarkan Tagar #2019GantiPresiden, ini adalah kekuatan dahsyat yang tidak bisa di bendung lagi, meski Pilpres masih setahun lagi. Tagar 2019 Ganti Presiden itu, adalah koreksi total masyarakat atas kepemimpinan Jokowi sejak 2014 sampai sekarang. Rakyat lah yang merasakan. Dan Rakyat telah memberi vonis dengan tagar tersebut. Dan Palu Sosial #2019GantiPresiden sudah di jatuhkan. Dan penulis kira itu menjadi kekuatan dan pukulan telak atas rezim ini.

Setelah menontot di ILC, semalam, selasa, 10 April, Bang  Mursalin Dahlan, Senior dalam Dunia Gerakan, menulis di sebuah WAG, “…Kita tidak mau terlibat dalam serang menyerang antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Karenanya kita batasi sampai di situ. Namun, kita berkewajiban menyelamatkan NKRI dari perpecahan, pertarungan ambisi kekuasaan, korupsi, manipuiasi, intervensi dan invasi Asing dan Aseng, pemimpin yang lemah. Karena nya hak kita sebagai rakyat secara bebas mengganti Presiden 5 tahun sekali melalui Pilpres.

Ada Puisi menarik yang di tulis oleh seorang Alumni ITB Mesin 98. Puisi yang di tulis oleh Achmad Akhyar cukup mewakili, rintihan Rakyat:

Kau ini bagaimana?

Kau janji tidak bagi bagi kursi

Aku lihat di tivi

Kau malah bagi bagi ke mentri

Aku harus bagaimana?

Kau bilang kita harus mandiri

Aku cape cape nanam padi

Kau impor lagi impor lagi

Kau ini bagaimana?

Kau bilang dana ada,

tinggal kerja kerja kerja

aku mau kerja dananya tidak ada

Aku harus bagaimana?

Kau bilang kita harus berdikari

Aku lihat di koran tiap hari

Kau malah utang sana sini

Kau ini bagaimana?

Kau bilang kita harus cabut subsidi

Aku sudah makan hati

Konglomerat malah kau kasih subsidi

Aku harus bagaimana?

Kau bilang aku harus kerja

Aku susah cari kerja kau malah impor

pekerja dari Cina

Kau ini bagaimana?

Kau bilang aku harus kreatif

Aku coba bikin kaos

bisa bisa di tuduh subversif

Aku harus bagaimana?

Aku kritik kau bilang harus pakai data

Aku kasih data kau bilang harus ada solusi

Aku kasih solusi malah aku dibuli

Kau ini bagaimana?

Kau janji ekonomi bakal meroket

Yang ada hidupku tambah sereeertt

Kau ini bagaimana

Atau aku harus bagaimana?

Apa kau berhenti saja

Atau aku ganti saja? RI

*Pengamat Politik, Muslim Arbi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.