KedaiKOPI: Ini 5 Besar Calon Presiden Alternatif

0
117

JAKARTASATU– Nama Gatot Nurmantyo, Rizal Ramli, Susi Pudjiastuti, Anies Baswedan dan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi muncul dalam lima besar calon presiden alternatif yang dipikirkan masyarakat. Telesurvei yang dilaksanakan Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) 

terhadap 1033 responden di 34 propinsi menunjukkan, nama-nama ini muncul dalam top of mind responden jika Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak mencalonkan diri. 

Responden diberikan pertanyaan terbuka, menurut Anda siapakah calon Presiden alternatif yang paling tepat jika Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak mencalonkan diri pada Pilpres 2019? Maka nama-nama yang muncul adalah; Gatot Nurmantyo (27,4 persen), Rizal Ramli (23,9 persen), Susi Pudjiatuti (9,5 persen), Anies Baswedan 

(9,4 persen), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi (6,4 persen), Zulkifli Hasan (4,6 persen), Abraham Samad (2,3 persen), Muhaimin Iskandar (2,1 persen), Ahmad Heryawan (1,4 persen), sisanya menyebut nama lainnya dan belum memutuskan serta menyatakan tidak akan memilih.

Survei melalui telepon yang dilakukan pada 13 April – 16 April 2018 juga menanyakan tentang penerapan Pancasila dan Trisakti oleh pemerintah saat ini serta pendapat tentang permasalahan ekonomi, hukum dan 

toleransi saat ini. 

Saat ditanya, dari 5 sila Pancasila, sila ke berapa yang paling belum mampu dijalankan oleh pemerintahan saat ini? Terbanyak menyebut sila kelima (48,4 persen). “Tiga alasan teratas sila kelima belum mampu dijalankan pemerintah, menurut responden adalah masih banyak ketidakadilan, ada kesenjangan sosial, 

dan ekonomi belum merata,” kata Founder KedaiKOPI Hendri Satrio.

Lalu sila dari Pancasila lain yang dianggap belum mampu dijalankan pemerintah menurut responden adalah sila ketiga (11,7 persen), sila keempat (8,1 persen), sila kedua (6,3 persen), dan terakhir  sila kesatu (5,6 persen), sisanya menjawab tidak ada. 

Responden juga menganggap pemerintah belum menjalankan Trisakti. Trisakti adalah konsep yang dicetuskan oleh Bung Karno dan dijanjikan oleh Joko Widodo pada kampanye politiknya ketika mencalonkan diri menjadi Presiden RI. Konsep-konsep dalam Trisakti adalah: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. 

“Pada saat ditanya, menurut Anda, apakah pemerintahan saat ini sudah menjalankan Trisakti? 48 persen menjawab belum, hanya 35 persen yang menjawab sudah, sisanya 17 persen menjawab tidak tahu,” jelas Hendri.  

Responden juga ditanyakan mengenai memilih presiden baru untuk solusi masalah di bidang ekonomi, hukum dan toleransi.  

Pada pertanyaan, menurut Anda, apa permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini? Responden menyebut banyak permasalahan ekonomi seperti kenaikan harga (43 persen) sebagai yang teratas, banyak pengangguran (19 persen), kemiskinan (8 persen), kesejahteraan kurang merata (3,1 persen), serta sisanya menyebut sejumlah masalah lainnya.  

Pertanyaan tentang permasalahan ekonomi itu diikuti dengan, apa saran Anda agar Indonesia keluar dari masalah masalah tersebut? Pada lima jawaban teratas, responden menyebut menstabilkan perekonomian (33,1 persen), menciptakan lapangan kerja (22,8 persen), meningkatkan kesejahteraan masyarakat (11,9 persen), harus peduli dengan masyarakat (8,8 persen), dan pemerintah harus dapat mengatur pemerintahannya (4,1 persen). 

“Responden juga ditanya tentang, apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? 70,4 persen responden menjawab iya, 20 persen menjawab tidak, sementara 9,6 persen menjawab tidak tahu,” ujar Hendri. 

Direktur KedaiKOPI Vivi Zabkie mengatakan, pertanyaan yang sama juga diajukan untuk bidang hukum dan tolerasi. Pada bidang hukum, tiga besar yang disebut sebagai masalah adalah penegakan hukum, korupsi di mana- mana, dan tidak adilnya hukum di Indonesia. Kembali responden ditanya, apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? 66,3 persen menjawab iya, 22,5 persen menjawab tidak, 11,2 persen menjawab tidak tahu. 

Sementara untuk masalah toleransi, responden menyebut toleransi beragama yang sebagai masalah utama saat ini (27,7 persen). Kembali untuk masalah di bidang ini, responden ditanyakan apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? 

“Pada masalah toleransi, 59,6 persen menjawab iya untuk pertanyaan yang sama, tidak (24,4 persen), tidak tahu (16 persen),” kata Vivi.

Survei ini dilakukan terhadap 1033 responden di 34 propinsi dengan Margin of Error (MoE) +/- 3,05 persen pada interval kepercayaan 95,0 persen. Responden adalah masyarakat Umum (calon pemilih berusia >17 tahun atau sudah menikah) yang diwawancarai melalui sambungan telepon. RI

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.