Pencitraan Jokowi Tak Lagi dapat Membius Rakyat

0
61

JAKARTASATU- Kepemimpinan Pak @jokowi tidak bisa mengobati luka Ummat Islam, meski nampak sekali berusaha. Karena beliau tidak paham luka Ummat Islam yang ia timbulkan kemarin-kemarin. Maka luka terus menganga. 

Ini bukan soal 212 tetapi sesuatu yang mengalir dalam rasa. Kepemimpinan memerlukan narasi. Sebuah bangsa tanpa narasi tinggal tunggu waktu tenggelam. Itulah yang mencemaskan dari kepemimpinan sekarang. 

Nggak pernah menjelaskan kita mau ke mana. Sibuk kerja bagi sepeda dan kerja yang harusnya kerjaan Lurah dan pemborong. Ada yang anggap ini benar. Kesibukan presiden dianggap kesibukan yang benar padahal itu kesibukan salah arah. 

Presiden itu presiden bukan Walikota. Dia tidak boleh nampak sibuk menjadi mandor atau  petugas pelayanan birokrasi. Kesibukannya adalah Presidensial. 

President dan Presidential adalah istilah yang di-nisbatkan kepada jabatan dan standar kapasitas tertentu. Makanya muncul istilah “Presidential Look” karena dia harus juga nampak dan dapat dilihat. Bukan saja akibat sistem pemerintahannya tapi standar tindakannya.

Saya tidak mau meneruskan nasehat ini tapi percayalah bahwa ujian pada Pak @jokowi adalah itu. Seleksi rakyat akan semakin presidensial. 

Sementara beliau semakin tidak nampak dibantu untuk tampil dengan standar Presidential. Itulah salah satu alasan beliau bisa tertolak.

Ekspektasi rakyat terhadap figur Presidens makin tinggi. Dan citra makin tak berguna. 

Sepandai-pandai sembunyikan wajah asli tetaplah akan tersingkap. Empat tahun cukup untuk membaca siapa presiden kita sebenarnya. RI

*Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.