Produsen Stephallen Guitar Bersama Gitaris Edi Kemput Lakukan Even Silaturahmi

1
764
Edi Kemput & Julius Sulaka / Foto : Beng

JAKARTASATU.COM – Produsen gitar customize bermerek dagang Stephallen melakukan ajang silaturahim dengan pemain dan pecinta musik  di Cafe Guitar Freakz di Jl Fatmawati No 9, Jakarta Selatan pada Rabu, 23 April 2018.

Acara yang digelar dibulan Ramadhan bertujuan mengumpulkan para pelaku musik baik produsen, penggemar dan pemain musik khususnya gitaris sebagai ajang apresiasi terhadap gitar bermerek dagang Stephallen.

Gitar Stephallen telah hadir sejak tahun 1997 merupakan salah satu produk gitar anak bangsa yang sudah merambah dunia Internasional dan menjadi salah satu merk berkelas alat musik di Indonesia.

“Ajang silaturahim ini diadakan sekedar ingin tahu dikalangan para pecinta musik khususnya para pemain alat musik gitar. Masih eksiskah ketertarikan temen-temen terhadap produk ini. Dan juga dimaksud dalam konteks sekaligus menggali keingintahuan terhadap  demand market kedepannya seperti apa,” ujar Julius Salaka (23/5/2018), CEO Stephallen sekaligus pencipta gitar bermerk Stephallen yang resmi meluncurkan produknya pada November  tahun 2000 di sela-sela acara silaturahmi Family Gathering Stephallen guitar .

Jamzsession Edi Kemput dkk / Foto : Beng

Menurut Julius, gitar Stephallen awal diciptakan atas dasar hobby dan lebih pada unsur customize (based on order). Sekarang ia mulai berpikir ke arah mass product dalam market midle and low. “Stephallen tidak mengkhususkan pada genre rock. Stephallen gitar juga bisa digunakan pada all genre,” ungkap Julius Salaka jebolan Teknik Sipil Universitas Brawijaya Malang yang memulai membuat karya gitar karena hobby saat krismon terjadi dan sulitnya usaha.

Awalnya iseng, karena banyak yang tertarik akan hasil karyanya. Julius akhir nya meneruskan menjadi sebuah bisnis serius dan juga sebagai bentuk perwujudan ke inginan dan impiannya.

Menurut Julius, sepanjang dunia musik masih diminati dan masih berkembangnya musik, walau kondisi industri musik sedang mati suri dan bermusik lebih menghasilkan hanya lewat ajang off air /peforma live. Namun ke hidupan bermusik lewat musisi masih bisa hidup dalam ekspresi bermusik lewat berbagai cara dalam berkarya.

“Kondisi bisnis musik memang berdampak namun untuk bisnis didunia musik harus punya terobosan atau inovasi agar produk yang dikembangkan tetap bisa bersaing,” jelasnya.

Even ini baru pertama kali dilakukan Stephallen dan di harapankan menjadi sebuah starting poin dan kedepan rencananya dari even ini bisa membuat hal yang reguler. Even ini juga bisa saling membagi dari musisi yang sudah mapan bermusik pada mereka yang baru masuk kedunia musik sekaligus membangun sharing ke generasi generasi yang baru tentunya.

“Kelangsungan bermusik itu tidak bisa berdiri sendiri.Harus saling mendukung, baik penikmat musik, pemain dan juga industri musiknya. Dimana didalamnya ada manufaktur/produsen  sebagai suport alat bermainnya  dan sekaligus sebagai usaha meregenerasi musisi agar ada kesinambungan,” ujar Julius

Stephallen adalah brand gitar asal Sidoarjo, Jawa Timur yang  menyasar pada peminat musik secara khusus. Kelebihan produk gitar dari Stephallen adalah dimasalah soundnya yang sangat menentukan feel bermusik. Stephallen bisa memetakan taste keinginan atau karakteristik pecinta musik khususnya player di gitar. Stephallen yang dibuat awalnya karena permintaan khusus atau customize bertujuan agar player bisa lebih mudah beradaptasi dari alat yang dimainkan .

Untuk itu Stephalen terus menciptakan terobosdan dan inovasi baik dari sisi bentuk maupun kebutuhan karakteristik masyarakat musik agar lebih pas menggunakan alat bermusiknya. Pencipta sekaligus CEO Stephallen Guitar itu menganggap pemasaran secara digital tidak bisa dihindari.

“Meskipun banyak tansaksi online, namun sekitar 70% lebih orang masih menyukai pembelian secara offline untuk sebuah instrument musik. Mereka bisa datang ke toko mencobanya dan mendapatkan feel. Hal ini tidak terlalu berpengaruh ke sisi marketing untuk instrumen musik di era digital,” ungkapnya.

Edi kemput

Menanggapi pertanyaan terkait even silaturahim yang menggandeng jawara gitar Tri Witarto Edi Purnomo alias Edi Kemput pada hajat Familly Stephallen Gitar ini, Edi  merasa ini even bagus dan harus ada agar  silaturahmi pelaku musik baik pemain dan produsen dan juga penikmat musik menjadi makin akrab dan saling sharing atau berbagi dan juga sekaligus ajang pengenalan produk.

“Ini pengalaman pertamaku. Sebagai seorang gitaris dibelakang layar diberbagai even dan additional player. Untuk event jamz session ini cukup excited dan menegangkan awalnya karena saya tidak merencana kan konsep materi dan hanya mengikuti alur on the spot dari permainan lagu yang ada saja,” ungkap Edi Kemput (23/5/2018), gitaris grup band rock ternama Indonesia Grass Rock.

Edi Kemput – gitaris Grass Rock Band / Foto ; Beng

Menurut Edi, profesionalitas sebagai seorang player memang sudah harus  siap disegala acara untuk bermain sebuah musik yang bisa jadi tak terduga pilihan lagunya. Memakai produk Stephallen di akui edi, banyak hal yang membuat dirinya makin pede karena banyak lingkungan bermusik bermain yag mengajaknya berkolaborasi seperti Twilight Orchestra, Magenta Orchestra merasa happy dengan sound yang diciptakan produk Stephallen, baik clean sound maupun distorsinya.

”Stephallen produk juga sudah go International merambah pasar amerika serikat. Adanya acara ini juga bagian mensosialisasikan bahwa Indonesia punya produk  berkelas di Industri musik khususnya gitar. Harapan kedepan lebih banyak lagi produsen alat musik Indonesia berkembang dalam penciptaan alat musik berkelas,” ujar Edi Kemput seusai ngejamz diacara Stephallen Guitar Family Gathering  yang diikuti oleh musisi lain seperti Tarash Bistara-Triad Band, Zondy Kaunang, basist Grass Rock, Tino Jumper Fee, Ambang Powerslaves Band, Reza Ryan dan Yudhi S.  |JKST/*Beng Aryanto

Comments

comments

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.