Pilkada 2018, Masih Kredibelkah Lembaga Survei?

0
88

JAKARTASATU– Mumpung sedang ramai membahas perbedaan hasil survei dengan quick count, saya mau nimbrung tapi bukan untuk membahasa metodologi dan statistik yang saya yakin banyak yang lebih ahli daripada saya. Hasil survei pilkada atau pemilu merupakan berita yang nilainya tinggi sehingga tidak akan dilewatkan media untuk publikasi hasil survei. Di sisi lain lembaga survei butuh visibilitas dan terjadilah simbiosis mutualisme antara lembaga survei dan media.

Hasil survei yang dipublikasikan media memiliki efek terhadap pemilih, seperti halnya bentuk komunikasi massa lainnya. Perlu dicatat yang saya bahas adalah hasil survei sebelum pencoblosan dan bukan quick count. Jenis efek yang pertama adalah efek publikasi hasil survei terhadap partisipasi pemilih, walaupun bukti empiris untuk jenis efek ini lemah tapi bbrp penelitian mendeteksi efek ini.

Jika hasil survei menunjukkan selisih yang tipis, partisipasi pemilih cenderung tinggi karena taruhan untuk memenangkan kandidat jagoan semakin besar. Pemilih akan merasa bersalah jika dia tidak memilih dan jagoannya kalah. Jika selisih antara pemenang dan yang kalah besar, pemilih cenderung untuk tidak mencoblos karena relatif aman bagi pendukung pemenang dan relatif ‘tidak ada gunanya’ bagi pendukung yang kalah.

Sekali lagi bukti empiris untuk efek partisipasi atau turnout ini relatif lemah dan masih banyak perdebatan tentang kesahihan dan keajegan efek publikasi hasil survei terhadap partisipasi pemilih untuk mencoblos. Jenis efek dari hasil survei yang kedua adalah efek preferensi atau perilaku memilih di hari pencoblosan. Efek ini penting dan mengundang kontroversi tentang publikasi hasil survei.

Bandwagon/contagion effect: warga akan memilih kandidat yang unggul dalam survei sebelum pencoblosan. Kita punya kecenderungan untuk mengikuti crowd wisdom dan mengikuti mayoritas demi konformitas. Underdog effect: pemilih cenderung mencoblos kandidat yang kalah dalam survei karena kasihan atau mengharapkan kejutan. Mitos David vs. Goliath ada di setiap budaya dan membuat kita berempati dengan underdog.

Strategic voting: pemilih yang jagoannya kalah dalam survei cenderung untuk memilih kandidat yang menjadi alternatif kedua (jika calon lebih dari 2 dan jika calon alternatif kedua tersebut memiliki peluang menang yang memadai. Ketiga efek ini didokumentasikan secara lengkap dalam riset komunikasi politik, bahkan beberapa meta-analisis mencatat efek underdog lebih sering muncul daripada efek bandwagon.

Efek underdog ini mungkin menjelaskan mengapa ASYIK dan Said-Ida meraup banyak suara selain tentu saja variabel politik lainnya seperti faktor religiusitas dan mesin partai (walaupun perlu bukti empiris atas hipotesis2 ini) @satriohendri. Jenis efek lainnya dari publikasi hasil survei adalah efek atas ekspresi opini atau disebut juga spiral of silence. Mereka yang beropini berbeda dengan hasil survei akan cenderung diam, tidak berpendapat, atau bahkan menyetujui suara mayoritas jika ditanya.

Hasil survei membuat orang yang memiliki opini berbeda diam atau menjawab sesuai dengan suara mayoritas menurut hasil survei. Akhirnya terjadi lingkaran setan antara hasil survei pertama dan berikutnya, kandidat yang menang akan terus menang di survei. Hillary dominan di survei karena pendukung Trump cenderung diam atau berbohong ketika diwawancarai, namun pada hari pencoblosan mereka tetap mencoblos Trump adalah salah satu bentuk efek spiral of silence dari publikasi survei.

Kultwit ini bukan pledoi atas lembaga survei di Indonesia, masih banyak kelemahan lembaga survei baik secara metodologi maupun transparansi dan etika. Transparansi penting karena bias survei tidak hanya dari sampling, apalagi kebanyakan lembaga survei masih mengganti sample (sample terpilih yang tidak bisa diwawancarai diganti dengan tetangga) yang akan membuat hitungan Margin of Error tidak berarti.

Saya masih percaya bahwa lembaga survei punya tanggung jawab untuk menyuarakan mereka yg biasanya tidak dihiraukan dalam proses politik. Hanya ketika pemilu/pilkada suara rakyat kecil didengar dengan perantara lembaga survei yang tentu saja beretika dan transparan. RI

*Direktur Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo, @wowoxarc, 30 Juni 2018

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.