Buzzer MedSos dan Uang yang Melimpah

0
108

Saat media asing membongkar adanya buzzer bayaran, banyak yang mingkem. Situs berita online terbesar di Inggris The Guardian iru memang bukin gempar mereka mempublikasi sebuah berita, terkait permainan buzzer media sosial Twitter di Indonesia.

Dalam hal ini, situs tersebut mewawancarai seorang buzzer yang dibayar untuk ‘mengamankan’ bahkan ‘menyerang’ balik pengguna Twitter yang tidak suka pada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sebelum dan saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Dalam artikel yang ditulis oleh Kate Lamb dari Jakarta, dirinya mewawancarai pria yang namanya ia samarkan, Alex di sebuah kafe di Jakarta.

Berdasarkan pengakuan Alex pada Kate, ia diminta membuat masing-masing lima akun Facebook dan Twitter, serta satu akun Instagram palsu, yang tujuannya untuk ‘perang’ dan menyerang lawan-lawan politik Ahok.

Selain itu, Alex mengaku dibayar 280 USD per bulan. Menurut pengakuannya ia bekerja dari sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam berita berjudul “I felt disgusted: inside Indonesia’s fake Twitter account factories” itu, ditulis juga bahwa Alex diminta untuk merahasiakan pekerjaannya tersebut. Mereka, menurut Alex dalam artikel tersebut, juga meminta jika waktunya perang maka ia dan buzzer lainnya harus menjaga medan perang.

Tak sungkan-sungkan, Alex mengakui bahwa dia harus perang kata-kata di media sosial melawan buzzer milik Agus Harimurti Yudhoyono serta Anies Rasyid Baswedan.

Menurut pengakuan Alex, operasi pengamanan dan penyerangan telah dikoordinasikan melalui grup messenger WhatsApp. Dalam grup itu, Alex mengatakan ada sekitar 80 anggota yang tergabung.

Dalam grup itu, isu atau konten yang harus dimainkan telah disiapkan. Termasuk membuat hastag harian untuk dipromosikan.

Bukan hanya itu, akun-akun anonim buatan Alex dan buzzer lainnya, diminta untuk menggunakan gambar atau foto agar tidak terlihat anonim. Dia pun diminta menggunakan akun cewek-cewek cantik agar dapat menarik perhatian saat menyebarkan materi atau isu yang sedang dimainkan sesuai pesanan.

Kendati demikian, Alex mengaku jijik dengan dirinya lantaran menjalankan pekerjaan sebagai buzzer Twitter. “But sometimes I felt disgusted with myself,” tulis The Guardian mengutip ucapan Alex. |JKST/The Guardian

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.