Ini Catatan Organda Tentang Kebijakan Solar B20

0
58

JAKARTASATU.COM – Kebijakan peme­rin­tah mewa­jib­kan penggunaan solar bercampur mi­nyak Ke­lapa Sawit 20 persen (B20) ber­laku pada 1 September 2018 men­datang. Ke­bijakan ini bila akan ber­dampak positif terhadap CPO In­donesia yang kini bersaing ketat di pa­sar global. Lantas bagaimana dampak pada industry angkutan di bawah naungan DPP Organda?

Salah satu alasan pemerintah menerapkan kebikajan penggunaan B20, transportasi umum bahan ba­kar berbasis biodisel (solar) berdampak turunnya tarif angkutan. Diakui oleh Pemerintah saat ini kon­disi solar dan premium sering mengalami kelangkaan dipasaran atau hilang di Stasiun Pengisi Bahan Bakar Umum (SPBU).

Menyikapi kebijakan diatas Sekjen DPP Organda Ateng Aryono sangat mengapresiasi langkah pemerintah tersebut. Sebagai asosiasi pengusaha angkutan, DPP Organda mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah , apalagi kebijakan pemakainn B20 dapat menekan cost bahan bakar.

Lebih lanjut Ateng Aryono menegaskan penggunaan biodiesel merupakan produk pertanian, sehingga dapat diperbaharui. Sehingga emungkinkan diproduksi dalam skala industri kecil, sehingga dapat menggerakkan ekonomi pedesaan. Biodisel lebih mudah terurai (biodegradable) oleh mikroorganisme dibanding minyak mineral. “Pada akhirnya akan menghemat penggunaan minyak solar, sehingga mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minya” ungkapnya

Langkah diversifikasi energi ini tentu patut didukung dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM, dalam hal ini Solar.Namun apakah langkah ini cukup aman, mengingat Bahan Bakar Nabati (BBN) memiliki kandungan asam.

Dalam hal ini DPP Organda menunggu rekomendasi resmi dari Angota Pemegang Merk (APM), GAIKINDO, dan kalangan Akademisi dalam implementasi penggunaan B20. Minimal kalangan industry dan pemerintah memiliki kesepakatan sekaligus ikut berpartisipasi aktif dalam penyelenggaran dan penggunaan B20, baik dari sisi tehnis, ekonomis dan ketersediaan.

Menurut Ateng Aryono tujuan akhir dalam industry transportasi adalah melayani penumpang dengan menjamin unsur keamanan dan kenyamanan konsumen, “Jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu pelayanan akibat kebijakan pemerintah,” kata ateng mengakhiri

Operator Bus

Salah satu anggota Organda dari PO SAN Putra Sejahtera, Kurnia Lesani Adnan menjabarkan lebih rinci soal pengalamannya. Dirinya menegaskan bahwa kebijakan pemerintah kedepan akan menerapkan Solar B20 sangat bertolak belakang akan perkembangan teknologi otomotif saat ini.

Pria yang akrab disapa Sani menghawatirkan, Saat ini armadanya menggunakan solar B10 dengan kualitas bio bisa membuat performa mesin pada kendaraan bus mengalami problem yang cukup krusial.  Akibatnya terjadi blocking pada filter atau penyaring bbm (solar) pada mesin bus. Ketika terjadi blocking pada filter,  resiko kecelakaan sangat tinggi, ketika bus dalam posisi jalan menanjak dengan kecepatan tinggi jika kualitas solar yang tidak sesuai dengan kriteria mesin membuat tenaga mesin menjadi drop /low compretion secara mendadak akibat filter bbm tersumbat (terjadi blocking karena gel).

“Saat ini kami menggunakan solar B10 harus sering mengganti filter bbm lebih cepat dari jadwal yang di rekomendasikan oleh pabrikan (15.000km). Bisa dibayangkan jika kami sebagai operator lalai akan hal ini,” ungkapnya
Lebih jauh Sani mengatakan pertumbuhan infrastruktur yang sangat pesat, pihaknya harus merubah spesifikasi kendaraan bus dgn berkapasitas (mesin) besar dan semua sdh berstandart euro 3 minimal bahkan beberapa pabrikan sudah mulai dengan standart euro 4.

Dari sisi tehnis Biodiesel atau disebut Fatty Acid Methyl Ester (FAME) merupakan minyak solar campuran minyak sawit 20 persen dan solar minyak bumi 80 persen. Bahan baku pencampur biodiesel pun bisa dikatakan dapat diperoleh dari produk-produk pertanian, gampangnya adalah minyak goreng.

Proses pembuatan biodiesel adalah dengan mengurai molekul trigliserida menggunakan metanol atau etanol dan dibantu katalisator. Reaksi ini menghasilkan ester metil atau etil asam lemak yang sifat fisiknya mirip dengan minyak solar. Untuk mendapatkan campuran yang homogen antara FAME dengan minyak solar maka dilakukan di kilang.

Masalahnya, apakah bisa dijamin campurannya bisa konsisten? Campuran FAME dengan solar dikawatirkan tidak konsisten. Bisa saja nanti didaerah tertentu campurannya lebih banyak FAME diatas 20 persen.

Sementara memasuki tahun 2020 pemerintah Indonesia mencanangkan standart euro 4, saat ini kendaraan bus yang masih menggunakan std euro 2 saja sudah kesulitan akan solar B10“Kami minta pemerintah bersikap realistis dalam membuat kebijakan Saat ini supply bbm solar sudah mulai langka.

Seperti di Bengkulu bus kami antri mulai jam 7:00 baru dapat isi bbm jam 16:00… Apa yang di harapkan pemerintah?

Mengurangi subsidi koq malah nambahin bio nya yg mana harga minyak sawit lebih mahal sebagai bahan tambahan ke solar ini” kata pria pelmilik Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) | AHM/JKST

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.