Gempa Palu dan Donggala

0
995

JakartaSatu.COM – Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 pada pukul 17.02.44 WIB. Gempa tersebut mengakibatkan tsunami di beberapa wilayah pantai Donggala dan pantai Talise Palu.

Tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu, pantai Barat Donggala. Tingginya 0,5-3 meter dan menerjang permukiman di sepanjang pantai. Bahkan disebut ketinggian ada yang mencapai 6 meter.

Banyak bangunan ambruk, rata dengan tanah. Jembatan pun roboh memutus akses jalan. Komunikasi terputus, listrik padam.

Berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB),  korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah mencapai 384 jiwa. Mereka tersebar di sejumlah rumah sakit.

“Ini hanya tercatat di kota Palu,” kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Jumlah korban yang meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda Kota Palu tercatat 420 orang hingga Sabtu malam, kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei.

“Itu baru yang di Kota Palu, belum yang di Kabupaten Donggala dan Sigi,” katanya di Posko Satuan Tugas Khusus Penanggulangan Bencana di halaman rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tengah di Jalan Moh Yamin Palu, Sabtu malam.

Selain itu, kerusakan akibat gempa di Kabupaten Donggala dan Sigi cukup signifikan, namun belum ada laporan mengenai korban dan tingkat kerusakan karena sulitnya komunikasi. Satuan Tugas Khusus Penangulangan Bencana saat ini fokus melakukan pencarian dan penyelamatan serta penanganan pengungsi di daerah-daerah terdampak bencana.

“Sampai malam ini, ditaksir 10.000 pengungsi yang tersebar di 50-an titik dalam Kota Palu. Mereka akan diberi bantuan tempat berlindung, makanan dan obat-obatan bagi yang sakit,” kataya.

Saat ini jenazah sebagian korban yang meninggal dunia masih ada di rumah sakit-rumah sakit, sebagian sudah dijemput oleh keluarganya. Kepala BNPB mengatakan jumlah korban jiwa masih bertambah karena banyak reruntuhan gedung seperti hotel-hotel besar, ruko, gudang, perumahan dan lainnya yang belum bisa tersentuh upaya pencarian.

“Kami kesulitan mengerahkan alat-alat berat untuk mencari korban di bawah reruntuhan gedung karena jalur jalan menuju Kota Palu banyak yang rusak,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa bahkan untuk menyediakan makanan siap saji dari Kota Palu ke tempat para pengungsi pun cukup sulit sehingga ribuan dus makanan harus didatangkan dari Surabaya menggunakan pesawat.

Mengenai perawatan korban yang sakit, ia menjelaskan, TNI telah mengerahkan bantuan medis serta tenaga medis-paramedis ke daerah terdampak bencana. Di samping itu, Kapal Rumah Sakit akan merapat ke Koa Palu dalam satu dua hari ke depan.|DS/dtn