Atribut Dihancurkan, Jokowi Hadapi Dua Jenderal

0
73

OLEH Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Ribuan bendera, spanduk dan baliho Partai Demokrat di pekan Baru diturunkan, disobek dan dibuang di selokan. HS (22 th) selaku terduga pelaku telah diamankan. Info dari Andi Arief, HS mengaku dapat order dari “oknum” pengurus PDIP. Tapi, Hasto membantahnya. Hasto malah menyindir bus kampanye Demokrat yang lux, mewah dan mahal. Apa hubungan bendera dengan bus ya? Mungkin Hasto menggunakan teori: Menyerang adalah cara efektif untuk membantah. Ini strategi mengalihkan persoalan.

SBY turun tangan. Lihat langsung atribut Demokrat berantakan di jalan dan selokan. Melihat itu, mata SBY berkaca-kaca. Suaranya bergetar. Itu kata media. Ini sungguh menyayat hati, kata SBY.

Kenapa SBY turun langsung? Pertama, ini menyangkut hak dasar dan harga diri partai. Termasuk juga harga diri SBY selaku ketua umum partai. Sebuah bentuk penghinaan. Apalagi di baliho dan spanduk itu ada foto SBY disobek dan masuk selokan. Mantan presiden dua periode, sudah tak lagi menjabat, fotonya dirobek dan dimasukkan di selokan. Sadis! Kita bisa merasakan psikologi SBY. Wajar jika SBY sakit hati dan sangat tersinggung. Bagi SBY, dan juga Partai Demokrat, ini persoalan sangat serius.

Kedua, disadari atau tidak, bahwa turunnya SBY untuk terlibat langsung mengatasi pengrusakan atribut Partai Demokrat berpotensi menaikkan citra positif. SBY dan Demokrat terdzalimi. Apalagi jika yang melakukan pengrusakan tak terungkap, kasusnya menguap atau salah penanganan. Maka, akan semakin menciptakan citra perlawanan Demokrat terhadap penguasa. Ini positif untuk menaikkan elektabilitas Demokrat di pileg 2019.

Ketiga, memperkuat posisioning Demokrat di hadapan oposisi. Gue udah turun, dan ambil risiko. Ini wujud komitmen dukungan Partai Demokrat. Hoax kalau ada yang bilang bahwa SBY abu-abu dan main dua kaki. Itulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan SBY kepada kubu Prabowo-Sandi, dan juga kepada publik.

Menurut info dari Andi Arief, terduga pelaku juga mengungkapkan bahwa pelaku berjumlah 35 orang. Dibagi 5 kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan 7 orang. Setiap orang dapat uang jasa 150 ribu. Jika keterangan ini benar, itu artinya, dilakukan dengan cara terencana dan sistematis. Keterangan ini masuk akal. Baik dari sisi jumlah pelaku, atribut yang dirusak, maupun uang jasa yang diberikan. Tapi, masuk akal belum berarti benar. Perlu pembuktian. Lagi-lagi, masyarakat hanya berharap kepada pihak kepolisian untuk segera membuka fakta ini. Bawaslu? Semoga masih punya energi untuk bekerja. Karena publik sudah mulai kehilangan kepercayaan.

Polisi harus mengungkap kasus ini dengan jelas, transparan dan apa adanya. Jika tidak, maka akan semakin menguatkan persepsi bahwa partai penguasa adalah dalang di balik pengrusakan itu. Menguatnya persepsi ini secara politis, justru akan merugikan kubu Jokowi-Ma’ruf.

Menurut keterangan AHY, sebelumnya juga terjadi aksi pengrusakan bendera Demokrat di Kebumen Jawa Tengah dan Medan Sumatera Utara. Siapa pelakunya? AHY tak memberi penjelasan. Publik butuh penjelasan dari AHY, Bawaslu dan kepolisian. Secara moral ini penting supaya proses pileg dan pilpres 2019 tidak didominasi oleh simpang siur opini tanpa publik tahu faktanya.

Dalam kasus pengrusakan atribut Demokrat, yang menarik justru ungkapan Ferdinand Hutahaean dan SBY. Ferdinand, ketua Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat mengaku punya bukti valid. Bukti itu berupa percakapan terkait pengrusakan bendera dan baliho Demokrat. Terindikasi cukup kuat ada keterlibatan penguasa. (Tempo,, 16/12/2018). Akankah Ferdinand dan Demokrat punya nyali untuk buka rekaman percakapan itu ke publik? Atau itu hanya bagian dari retorika Ferdinand untuk mendramatisir kasus? Atau malah dijadikan sebagai alat pressure dan negosiasi? Kita tunggu.

Apa yang diungkap Ferdinand mirip dengan sindiran SBY. SBY bilang, “pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menghormati pemimpin lainnya.” SBY juga mengatakan: “ini bukan kompetisi saya. Ini kompetisi antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo”.

Ungkapan SBY “seolah-olah” menegaskan bahwa pertama, pengrusakan bendera, spanduk dan baliho adalah kerjaan penguasa. Kedua, aksi pengrusakan itu terkait dengan pilihan politik SBY dan Demokrat di pilpres 2019.

Jika apa yang dikatakan Ferdinand dan sindiran SBY itu benar, maka muncul pertanyaan: mengapa itu dilakukan? Mengapa SBY dan Demokrat yang jadi sasaran? Bukankah pemilih Demokrat dan PDIP tidak beririsan, sebagaimana kata Hasto?

Jika benar asumsi bahwa otak di balik pelaku adalah partai penguasa, maka ini bisa jadi petunjuk. Pertama, SBY benar-benar turun gunung. Bekerja untuk Pilpres 2019. Kedua, SBY masih cukup diperhitungkan.

Ada kabar bahwa SBY sudah turun di Jawa Timur. Dan menurut pengakuan Jokowi, elektabilitas petahana anjlok di Jawa Timur. Apakah ini terkorelasi? Artinya, turunnya SBY di Jawa Timur ikut menjadi salah satu faktor anjloknya elektabilitas Jokowi? Survei yang akan membuktikan. Tapi, bahwa pengaruh SBY masih cukup kuat patut diduga. Dua periode jadi presiden, memungkinkan SBY dengan semua jaringan dan pengalaman politiknya, masih memiliki kekuatan massa yang layak diperhitungkan.

Aksi pengrusakan atribut Partai Demokrat secara sporadis dan urakan diprediksi akan semakin menguatkan peran dan kerja SBY dan Demokrat untuk memenangkan Prabowo-Sandi. Apalagi, keprihatinan SBY mendapatkan sambutan dan dukungan langsung dari Prabowo. “Bahwa pengrusakan terhadap atribut Partai Demokrat bukan hanya melukai Demokrat, tapi melukai semua partai koalisi Prabowo-Sandi.”

Pengrusakan atribut Demokrat telah menyatukan dua jenderal. Maka, yang dihadapi Jokowi di pilpres kali ini bukan lagi hanya Prabowo, tapi juga SBY, presiden dua periode yang tak diragukan pengalaman dan kelihaian strategi politiknya. Bagaimana hasil pertarungan dua jenderal ini melawan Jokowi? Tunggu 2019.

Jakarta, 18/12/2018

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.