Sarung sebagai New Lifestyle dan Masa Depannya

0
87

JAKARTASATU– Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian turut memeriahkan acara Sarungfest 2019 dengan memamerkan kain sarung dari berbagai daerah. Booth Kementerian Perindustrian juga menampilkan video animasi pembuatan sarung tradisional dan tutorial penggunaan sarung sebagai New Lifestyle.

Selain itu, Kemenperin juga hadirkan perajin sarung dari Sragen dan Sumatera Barat untuk mendemokan proses pembuatan sarung. “Pada acara SarungFest ini kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat tentang proses pembuatan sarung dari mulai benang sampai dengan produk jadi dan cara penggunaannya dalam berbagai style,” kata Direktur Jenderal IKMA Gati Wibawaningsih di GBK, Minggu (3/3/2019)

Menurut Gati, sarung merupakan salah satu busana khas Indonesia yang digunakan oleh masyarakat dalam berbagai aktivitas. “Sarung telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan dan menjadi identitas bangsa, penggunaannya untuk busana harian, ibadah, upacara keagamaan dan pesta,” ujarnya.

Gati menjelaskan, Kementerian Perindustrian mengangkat sarung sebagai new lifestyle. Hal ini dilakukan agar pemanfaatan sarung dapat lebih luas dan fashionable. “Kami berharap penggunaan sarung oleh masyarakat semakin meningkat karena hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan industri tekstil dan industri sarung khususnya, oleh karena itu kami mengusung tema sarung is my new lifestyle,” tuturnya.

Sarung sebagai new lifestyle adalah sebuah konsep yang menjadikan sarung sebagai sebuah produk fesyen yang tidak hanya digunakan saat beribadah, namun juga digunakan untuk kegiatan sehari-hari baik formal maupun informal, laki-laki maupun perempuan dengan berbagai style bebatan. Untuk mewujudkan hal ini Kementerian Perindustrian menggandeng para desainer dan membuat tutorial cara penggunaan berbagai style sarung yang sudah bisa dilihat di Youtube dan media sosial @ditjenikma.

Selain itu, ia mengatakan bahwa dalam promosikan sarung, batik adalah awal contohnya, yang ke depannya kata dia bahwa batik dan sarung bisa dipromosikan di luar Jawa juga.

Namun demikian, ternyata ia melihat bahwa di luar Jawa permintaannya datang dari Jawa juga. “Akhirnya kami berkesimpulan dan melihat potensi tenun di luar Jawa. Kami pun mulai membinanya,” kata dia.

Dan setelah itu saya lihat ternyata seluruh daerah di luar Jawa punya sarung. Makanya kita jadikan ini sebagai sarung is my new lifestyle.

Langkah kami meningkatkan produksi, yakni yang pertama kita bina sumber daya manusianya (SDM). Agar lebih pintar menenunnya dan kedua kita bantu produktifitasnya dengan teknologi.

“Di acara ini semoga akan banyak menggunakan sarung layaknya batik. Sebab sarung bukan saja digunakan untuk ibadah saja,” ia menjelaskan.

Ia yakin dan percaya bahwa sarung di tahun depan akan mulai banyak dipakai di tempat-tempat umum seperti airport.

Di lain soal mengapa ekspor sarung turun di tahun ini, ia mengatakan bahwa itu pengaruh akan pasar dunia. “Makanya Vietnam gede-gedean produktifitasnya. Subsidi besar sekali,” sampainya.

Tetapi, hal demikian tidak menyurutkan tekad dia yang yakin bahwa pasar sarung ini memiliki potensi positif dari masyarakat.

Gati mengambut baik adanya acara Festival Sarung Indonesia atau Sarungfest yang digelar pada hari Minggu, 3 Maret 2019 di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. “Kami sangat mengapresiasi acara Sarungfest yang menjadi event untuk mempromosikan sarung Indonesia dari berbagai daerah. Pada acara ini kami pun menampilkan sarung dari Donggala, Lampung, Sragen, Sumbawa, Sragen, Bali, Ende, dan Silungkang,” ungkap Gati.

Indonesia memiliki potensi industri sarung yang sangat besar. Industri sarung dibuat oleh industri skala kecil, menengah dan juga besar. Berdasarkan data Kemenperin, jumlah industri kecil dan menengah produsen sarung mencapai 16.152 unit usaha yang berlokasi di dalam maupun di luar sentra IKM. Jumlah sentra IKM yang memproduksi sarung sebanyak 389 yang tersebar di 17 Provinsi, seperti Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Sementara industri sarung skala besar sebanyak 45 unit usaha.

Acara SarungFest didukung oleh berbagai Kementerian/Lembaga, Dewan Kerajinan Nasional, produsen sarung, serta komunitas masyarakat. Acara yang bertemakan “Identitas Budaya Pemersatu Bangsa” ini dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo. Berbagai acara seperti fashion show, klinik sarung, pasar rakyat, aneka kuliner sehat, serta pameran sarung digelar untuk meriahkan kegiatan ini.

RI

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.