Pidato Sandiaga Uno Tidak Rela Terhadap Kecurangan

0
202

JAKARTASATU.COM – Pada hari Selasa, 14 Mei 2019 pukul 14. 45 wib s.d 17.48 Wib di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, Jl. Jend. Sudirman No. 96 Jakarta saat Pidato Calon Wakil Presiden Pasangan 02, Sandiaga Uno memberikan kalimat penutup: Tidak Rela Terhadap Kecurangan. Acara Mengungkap Fakta Fakta Kecurangan Pilpres 2019, yang diselenggarakan oleh masyarakat peduli pemilu bersih dan berintegritas (MPPBB) yang dihadiri sekita 100an di ruangan dan diluar juga disediakan giant screen.

Acara dipandu Dedi “Miing” Gumelar nampak yang hadir sejumlah tokoh nasional termasuk Calon Presiden Pasangan 02, Prabowo Subianto, Djoko Santoso, Amien Rais, Madani Ali Sera, Sarwan Hamid, Rizal Ramli, Fadli Zon, Rahmawati Soekarnoputri, Titik Soeharto, Neno Warisman, Hasyim Djoyohadikusumo, Salim Assegaf, Zulfilki Hasan, Letjen (Purn) Sjafri Syamsuddin, Tejo Edi, Tyasno, Laode K, Agus Maksum, Danhil Azhar Simanjuntak, Fuad Bawazier, dll

Sandiaga Salahudin Uno memgungkapkan bahwa kita perjuangkan banyak orang, kepentingan rakyat, kepentingan umat untuk memberikan yang terbaik bukan hanya untuk negara tetapi untuk keadilan masyarakat. Hari ini paparan para ahli yang peduli terhadap bangsa ini.

Sandiaga Uno dalam acara Mengungkap Fakta Fakta Kecurangan Pilpres 2019

“Semakin nyata pilpres 2019 kali ini memprihatinkan, yang pertama adalah lebih dari 600 petugas pemilu wafat, dan 3000 yg masih terbaring sakit. Disini hadir salah satu korban ibu Eti yang ayahnya (umar hadi) wafat. Kita mencium politik uang yang tajam, salah seorang tim kampanye 01 yang tertangkap dengan barang bukti ribuan amplop yang dipersiapkan untuk Serangan fajar. Gelombang tsunami money politik yang bukan hanya oleh tim pemenangan tetapi juga aparat keamanan. Kami mengakui mencari bukti, tapi ini benar terjadi,” paparnya.

Sandi juga menyoroti bahwa sepanjang kampanye dan pungut suara banyak kejanggalan dan ketidakadilan yang terjadi, DPT bermasalah Kotak suara dari kertas yang gampang sekali hancur, 6.5 juta tidak memilih dan pengusiran serta intimidasi 02. Sulitnya perijinan, pemda memberikan tempat kampanye yang susah dijangkau, menjadi kritikan keras.

Tak luput juga media mendapat sorotan adanya kumpulkannya instrumen kontrol / media. Ada upaya penggembosan suara 02 dengan kriminalisasi ulama, penangkapan cerdik pandai, bahkan dibentuknya Tim asistensi/Tik Tok yang dibentuk Menkopolhukam. “Sistem yang menyuguhkan kesalahan kesalahan itung KPU masih tetap dilakukan,”beber Sandi.
Yang lebih tajam dari itu Sandi mengatakan, Legitimasi pemerintah yang diperoleh melalui kecurangan pasti akan menyisakan masalah.

“Makanya kita harus jaga kedaulatan rakyat, lawan kecurangan sampai titik darah penghabisan,” tandasnya. |ATA/JKST

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here