Jagain Ibu Kota, Anies Siaga 24 Jam

0
121

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

21 Mei Ibukota pecah. Enam demonstran meninggal di hari pertama. Kabarnya, seseorang tertembus peluru di dadanya. Seorang lagi tertembak di leher. Ada juga yang ditabrak motor.

Hari kedua, korban jiwa infonya sudah belasan orang. Tujuh ratusan orang lebih yang terluka. Ratusan pula yang diamankan polisi. Tepatnya, ditangkap.

Peluru tajamkah? Polisi tak dibekali peluru tajam, begitu kata pihak kepolisian. Tapi sejumlah demonstran menemukan ratusan, mungkin ribuan peluru tajam dalam sebuah kotak kayu. Diduga dari salah satu mobil yang berplat polisi. Tapi, itu baru dugaan. Jangan dulu membuat kesimpulan. Harus ada investigasi serius peluru itu milik siapa.

Polisi, juga Moeldoko bilang: ada pihak ketiga. Pihak perusuh. Bukan dari massa yang demo. Bukan! Kata Moeldoko. Bukan juga dari FPI, kata Kapolres Jakbar. Wiranto sudah mengantongi dalangnya. Tapi belum disebut. Kita tunggu Pak Wiranto bongkar-bongkar si dalang itu.

Masing-masing pihak harus menahan diri. Terutama pihak aparat. Tak boleh lepas tembakan. Kecuali ke atas, atau sekedar gas air mata. Maksimal peluru karet. Itupun jika sangat terpaksa. Rakyat juga tak boleh terprovokasi. Bahaya!

Lepas kontroversi soal peluru, korban sudah terlalu banyak. Cukup! Cukup! Cukup! Jangan terulang, kata Anies Baswedan, gubernur DKI. Semua harus menahan diri dan bersikap bijak. Sama-sama ciptakan suasana yang sejuk.

Demonstran adalah rakyat yang hari ini sedang mencari keadilan. Mereka dilindungi undang-undang. Polisi juga dilahirkan oleh rakyat. Bapak-ibunya adalah rakyat. Digaji juga oleh pajak dari rakyat. Tugas utama mereka melindungi dan mengayomi rakyat. Kedua belah pihak sama-sama dari rakyat. Mestinya tak terjadi benturan. Rakyat dan polisi tak boleh jadi korban. Rakyat mati, nama polisi jadi rusak. Keduanya harus diselamatkan.

Saat ini, fokus aja pada para perusuh. Sekelompok kecil orang yang sedang dimainkan oleh pihak ketiga (03) untuk menunggangi dan merusak hajatan demokrasi. Kejar aktor dan sutradaranya! Tangkap mereka! Adili mereka! Tentu dengan hukum yang berlaku.

Ini Jakarta. Ibu kota. Barometer keamanan nasional. Jatuhnya korban, apalagi jumlahnya belasan, telah mengusik rasa aman masyarakat Jakarta khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya. Ini ujian bagi bangsa Indonesia. Khususnya, ujian dan kerja ekstra buat gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Mendengar situasi Jakarta yang mulai tegang, Anies pulang. Membatalkan semua kegiatannya di Tokyo Jepang. Acara U20 Mayors Summit 2019.

Meski acara U20 Mayors Summit 2019 selesai tanggal 22 malam, Anies pulang ke Indonesia lebih awal. Ini sudah direncanakan, mengingat di Jakarta lagi terjadi pertunjukan demokrasi, yaitu unjuk rasa. Anies harus standby dan memantau situasi di lapangan. Ini prioritas!

Jauh sebelumnya Anies sudah prepare. Pertama, menyiagakan seluruh rumah sakit dibawah Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan pelayanan secara gratis (non BPJS) jika ada masalah kesehatan terkait demonstrasi. Siapapun harus mendapatkan pelayanan yang baik. Langkah antisipatif jika terjadi sesuatu di luar kendali. Selain siagakan rumah sakit, Anies menyiapkan tim AGD (Ambulan Gawat Dharurat), Tim dari Dinas Kebakaran dan Tim dari Dinas Kebersihan yang bekerja 24 jam. Kedua, selalu memantau situasi lewat sekda, walikota dan para staf Pemprov. Satpol PP juga disiagakan untuk membantu para petugas dari Pemprov DKI.

Ketika bentrok pecah, Anies segera menuju ke Jl. Thamrin dan Petamburan, dua lokasi terjadinya bentrokan. Habis subuh Anies sudah berada di dua lokasi itu. Begitulah semestinya seorang pemimpin. Setiap saat mesti siaga dan berjaga untuk warganya.

Tidakkah ini terkait sengketa pilpres? Mestinya presiden sebagai kepala negara yang tangani dong? Rakyat sedang menunggu statemen dan pidato presiden di televisi. Mesti bersabar! Presiden pasti sedang sibuk. Mungkin lagi beresin tol untuk persiapan mudik lebaran. Mungkin juga lagi fokus di ekonomi yang lagi menghawatirkan. Neraca perdagangan lagi betul-betul sakit. Terparah di sepanjang sejarah Kita tunggu saja!

Yang jelas, lokasi kerusuhan, tepatnya lokasi bentrok antar aparat dengan demonstran ada di Jakarta. Ini teritorial gubernur DKI. Kok bentrok? Bukannya itu pengejaran dan penyerbuan? Tanya sejumlah demonstran. Sedang dalam proses investigasi! Jangan buru-buru menyimpulkan. Supaya tak salah! Tetap, jaga situasi agar kondusif.

Anies turun langsung ke lapangan, lihat situasi, jenguk yang sakit, bahkan ikut angkat keranda janazah. Ini kesekian kali Anies ikut angkat keranda janazah warganya yang meninggal karena musibah. Sebelumnya, Anies juga angkat jenazah pegawai kebersihan yang meninggal setelah tabrak lari. Angkat keranda tidak akan bisa menghidupkan kembali mayat itu. Betul! Begitu juga karangan bunga duka yang dikirim Anies. Tapi setidaknya, ini bisa sedikit menghibur keluarga almarhum. Begitulah semestinya seorang pemimpin. Hadir di saat rakyatnya berduka. Bersama-sama dan ikut merasakan duka itu.

Melalui wawancara TV One, Anies mengabarkan bahwa Jakarta dalam situasi tenang, aman, damai dan teduh. Hanya di jalan Thamrin, itupun tidak sepanjang ruas jalan, dan Jl. KS. Tubun yang sempat ada sedikit ketegangan. Itu juga tak lama. Wilayah Jakarta secara umum tenang, aman dan damai. Yang bekerja tetap menjalankan aktivitasnya sebagaimana biasa.

Anies menghimbau kepada masyarakat Jakarta untuk tetap tenang, bijak dan proporsional menghadapi situasi saat ini. Bersama-sama menjaga situasi agar tetap kondusif. Rasa aman jadi kebutuhan bersama, karena itu harus secara bersama-sama terus dijaga, imbuh Anies.

Tanggung jawab! Itu kesan yang bisa diambil dari sikap dan siaganya Anies. Tentu sesuai porsinya sebagai gubernur. Bukan sebagai presiden atau instruktur keamanan. Anies hadapi, dan tidak melempar tanggung jawab. Tidak pula salahkan orang lain. Begitulah semestinya seorang pemimpin menghadapi masalah. Menenangkan situasi dan fokus orientasinya pada solusi.

Anies sudah benar. Jalankan tugasnya sebagai gubernur. Melayani warganya dengan semaksimal mungkin, baik ketika masih hidup, atau saat kematian menjemput. Berupaya menjaga situasi yang kondusif dan terus siaga untuk antisipasi adanya kemungkinan yang tak diharapkan. Tapi, tersisa satu pertanyaan dari rakyat: siapa yang harus bertanggung jawab terhadap belasan nyawa yang kabarnya melayang itu?

Jakarta, 25/5/2019

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.