SKENARIO ALLAH DIBALIK MENANG CURANG (Refleksi Menyambut Tahun Baru Islam)

0
3278

by Tarmidzi Yusuf

Sangat tidak nyaman menang secara tidak sportif. Entah bagi yang berbuat curang atau perangkat institusi yang mendukung berbuat curang, khususnya yang mengklaim beragama Islam. Dimana Allah? Sehingga membuat gelap mata dan hati. Hati terasa jauh dari Allah Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

Menggelapkan hati pelaku kecurangan sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan yang berbuat curang. Hingga ia jatuh ke dalam syubhat, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa mereka sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Curang sebagai perbuatan maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

Apa sebenarnya skenario Allah Ta’ala dibalik “dimenangkannya” kecurangan oleh KPU dan MK:

1. Menang curang adalah musibah bagi orang beriman.

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (an-Nisa’: 79)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)

Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan keadaan para sahabat setelah musibah terjadi pada Perang Uhud:

Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badr), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran: 165)

Pasca pengumuman kecurangan yang dilegitimasi oleh MK, Indonesia makin terpuruk. Sekalipun banyak akrobat politik pasca Pilpres seperti, black out PLN, kerusuhan Papua dan wacana pindah ibu kota, tidak akan menghilangkan jejak kecurangan yang berdarah-darah dengan meninggal dunianya lebih dari 600 orang petugas pemilu dan terbunuhnya ummat Islam ketika aksi damai depan Bawaslu.

Fakta terkini Indonesia dari sekian banyak fakta:

1⃣ Utang pemerintah meroket Rp 4.603 triliun.
2⃣ Defisit APBN per 31 Juli 2019 sudah tembus Rp 183,7 triliun.
3⃣ Negara diambang disintegrasi dengan terjadinya kerusuhan Papua dan wacana pindah ibu kota yang mengancam kedaulatan negara.
4⃣ BUMN diambang kebangkrutan dan dijual seperti PLN, Pertamina dan Krakatau Steel.
5⃣ Minoritas memegang kendali sementara mayoritas Pribumi yang beragama Islam hanya menjadi objek ekonomi, politik, seni dan budaya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41).

2. Ujian Keimanan

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Demikianlah, apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan membinasakan mereka, tetapi Allâh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain [Muhammad/47: 4]

3. Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung hikmah Allâh Azza wa Jalla . Yakni, dapat dibedakan siapa Muslim yang imannya benar dengan yang tidak. Siapa yang berjuang di Pilpres 2019 kemarin untuk kemajuan negara dan kemuliaan agama. Dan siapa pula yang berjuang hanya untuk kepentingan dunia dan jabatan.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

4. Kita akan mengetahui bahwa Allahlah yang mentakdirkan semua ini.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59)

5. Kita bisa bersiap-siap untuk menghadapi ujian itu dan akan bisa bersabar serta akan merasa lebih ringan dalam menghadapinya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqoroh:286)

6. Janji Kemenangan sudah Pasti. Kemenangan itu diperoleh ketika kita sudah beriman dan beramal shalih. Ikhlas dalam beramal. Beribadah hanya kepada Allah Ta’ala tanpa ada kesyirikan sedikitpun. Serta sabar dan taqwa dalam meraih kemenangan.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55)

Perjuangan membela kebenaran tak pernah berhenti sampai ajal menemui kita.

“Barangsiapa yang terbunuh ketika mempertahankan hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh ketika mempertahankan agamanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh ketika mempertahankan darahnya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh ketika membela keluarganya, maka ia syahid” (At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih).

Selamat berjuang kawan!
Perjuangan kita belum selesai dan tidak akan pernah selesai!!

Bandung, 1 Muharram 1441/1 September 2019

Comments

comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.