Kopi, Gaya Hidup dan Sejarah yang Abadi

0
1095

JAKARTASATU – Ini hanya sebuah catatan dari Lombok. Saat saya mengisi acara Workshop dalam rangkaian “Pesona Senggigi Festival 2019: Coffee & Art” pembicara para pakar kopi, saya masuk sebagai ruang lain dalam dunia kopi. Saya mengerti Kopi dan kehidupannya. Atas nama CoffeeChannel saya bicara seputar lifestyle atau gaya hidup saat ini dengan yang bersentuhan tentang kopi.

Kisah segelas kopi memang banyak dibicarakan sekarang ini. Bukan sekadar ruang kecil, ada ruang besarnya juga, bahkan ada rasa baru dari kopi yang sebenarnya begitu menyegarkan. Saat 20 September 2019 di Lombok bicara kopi,

Menjadikan kopi sebagai kebutuhan seharihari bukan sebuah hal baru. Sejak lama kopi memang akan jadi energi lain dalam tiap diskusi. Dalam satu tahun terakhir kopi lebih mencolok kuat dalam gaya hidup.

Qwadru bicara minum kopi yang baik itu tanpa gula./oasis

Pembicara Pertama  Qwadru Wicaksono dari NTB Bicara banyak pengalaman dalam dua tahun soal kopi se NTB. Ia telah meriset sejumlah kopi dan potensinya di NTB. Ia juga sedang mengkampanyekan minum kopi tanpa gula. Dan Kopi yang seutuhnya adalah minum kopi tanpa gula adalah yang sebenarnya yang benar. Qwadru sudah menjalani ini dua tahun. Ia bahkan rela melepas statusnya sebgaai pegawai negeri dan konsentrasi di Kopi. Ini memang patut dibanggakan sekaligus diaacungkan jempol nekadnya. Tapi sekali lagi kopi memang menjanjikan.

Sampai disini lalu giliran saya biacara soal secangkir kopi.  Bagi saya secangkir kopi adalah kebahagiaan karena dengan minum kopi di sebuah kafe kita bisa bertukar informasi, bahkan kerja santai dalam ruang medsos.

Pola baru secangkir kopi emamng kini menjadi luas bahkan bagian ini mungkin tak terpikirkan  dulu sejak Kopi ditemukan di Ethiopia. Tapi kini kopi sudah jadi gaya hidup. Dalam satu dekade Terakhir makin kuat terasa.

Tren Koip di soscial media menjamur, bukan sekadar jualan tentang kopinya saja, namun tampilan kemasan dan sajian menjadi cara unik dan kreatif. Kedai kopi disetting sedemikian rupa sehingga mampu se INSTAGRAMABLE  banget. Keharusan visual kuat sebuah kafe jadi tren kuat dan ini jadi usaha yang menghasilkan. Peluang pada usaha ini luas, meski sebagain orang sasarannya yang kuat adalah komunitas. Kaum millenial adalah pasar asyik.

MENJADIkan GAYA HIDUP untuk minum kopi millenial adalah pasar seksi, maka saat ini menjamurnya kedai kopi dituntut unik. Ya pola harus berjalan dengan cara market yaitu USP (Unique Selling Point).  Dengan konsep unik, kemasan tempat yang COZY, adanya spot untuk sellfi menarik adalah digandruni kaum millenial, apalagi biasanya kedai kopi ini kuatnya WIFI, adanya promo-promo dan lainnya.

Pola pembagunan kedai kopi yang harus kuat juga adalah dengan harusnya memiliki creative marketing koomunikasi sehingga bisnis ini menciptakan brand reputasi. Brand kuat akan menguatkan ngopi kita santai dan profit sasaran tercapai. Nah Kopi itu sebuah rasa dalam hidup dan memiliki manfaat baik dalam setiap seduhannya adalah cara indah yang patut diresapi. Kira-kira paparan saya seperti itu di sore itu di tanah seribu masjid Lombok.

Prawoto dan Aendra /oasis

Cerita kopi dari penulis The Road To Java Coffee Prawoto Indarto lain lagi. Ia membedah sejarah panjang kopi dimana mewarnai sejarah perjuangan bangsa  Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Kopi tak dapat dipungkiri, ada tertoreh episode sejarah sarat cerita.

Dalam  buku The Road To Java Coffee Prawoto Indarto telah mengupas kopi detail. Seluk beluk dan sejarah kopi di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Pada sore itu Prawoto membuka cakrawala luas dengan soal strategi kopi dan pokok masalah yang terjadi. Kopi Blue Mountain Jamaika yang mana kopi termahal didunia kopi yang memiliki keunikan tersendiri di rasanya yang pahit namun ringan.

Selama satu dekade terakhir, kopi ini merupakan salah satu jenis yang paling digemari dan dicari oleh banyak orang. Sekitar 80 persen produk kopi ini diekspor ke Jepang.

Personifikasinya diceritakan bahwa kasus kopi ini pernah mau tutup, namun bangkit kembali setelah tokoh dalam James Bond menyebut bahwa kopi terbaik adalah Blue Mountain Jamaika.

Gilang Ramadhan bicara kopi dari hulu ke hilir /oasis

Penabuh Drum ternama Gilang Ramadhan pun bicara kopi lebih sublim. Gilang dalam dua tahun secara khusus konsentrasi dalam dunia kopi. Namun uniknya dia dia main di hulu, ia bersama sejumlah petani, dan juga ia telah menjelajah dunia kopi ke sejumlah pelosok. Ia bicara dari hulu ke hilir dan ia paham betul. Ini soal petani kopi dan kesejahteraannya. “Mereka harus di muliakan dalam setahun panen apakaha ekonominya cukup? Kita saat ini lagi coba bantu arah itu,” jelas Gilang sore ini. Ditambahkan adakah yang peduli ke petani, misalnya dalm festival kopi itu ada petani didatangkan, nampak tak ada ya. “Petani harusnya diajak dan di manusiakan soal kopi di festival-festival,” ajaknya.

Dari paparan semua lengkap sudah ada soal kopi pencerdasan untuk paham minum kopi, ada gaya hidup, ada histori dan ada kepedulian pada para petani kopi.

Maka sekali lagi saya melihat urusan kopi ini memang bukan sekadar seacangkir seduhan, namun Kopi, Gaya Hidup dan Sejarah yang Abadi itu harusnya menjadi bagian yang disatukan. Bagaimana setujukah?

AENDRA MEDITA

20/9/2019

Facebook Comments