Suluk Semar, Cermin Kejujuran Air

0
2280

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Satria tanpa nama telah gugur di kancah kedua belah pihak. Meninggalkan kisah kepahlawanan dalam cawan-cawan berukir indah. Para dewa di rundung keprihatinan. Awan-awan meneteskan air mata, frekuensi di langit merekam segala peristiwa dari zaman ke zaman, dengan seksama. Meski fakta sumir beterbangan dalam ruang terkunci.

Siapa pembuat kabut mengangkasa berpolemik diri. Independensi berjalan di tengah kesangsian, di pantau sangsi-sangsi. Ungkapan tak mampu mengungkap tudung saji di atas meja makan. Mata hati telah menjadi cinderamata, simbolik, terbolak-balik, bagai koin dua sisi.

Siapa kebijaksanaan, kebenaran di keadilan, ketika, makna kejujuran mengungkap badai kabut sejarah peperangan padang Kurusetra, menjadi fakta material formal, agar tak berubah rupa menjadi abstraksi strategis, berkembang di kurun waktu peradaban makhluk hidup menjadi perang bintang.

Ada, tata cara mengatur aturan pada ranah disiplin, seharusnya menjadi kearifan bersama. Berani berkata benar. Maju kedepan mengacungkan tangan. Ya, saya telah melanggar aturan, tata krama keadilan persaudaraan. Mengapa langkah itu tak punya keberanian. Apakah materialisme, telah menjerat leher hingga sulit melangkah berani.

Batara Ismaya alias Semar, keturunan dewa, kakak dari raja dewa Batara Guru, belum bersuara. Semar, menunggu hasil perundingan para dewa sejagat. Para guru langit masih sibuk membaca tanda-tanda abstraksi strategis, dengan satu tanda tanya besar.

Atas kehendak siapa, the war of universe atawa perang bintang, akan terjadi, mungkin telah tersurat dalam tersirat di kitab-kitab kebijaksanaan semesta, meski tak di perjelas benar. Oleh siapa, berkehendak menggulirkan bola api peperangan itu?

Takdir masih menjadi kambing hitam acuan jua, tampaknya. Siapa takdir? Apakah, hanya sebuah kata, dari pola intelegensi diagnostik tata laku. Semar, telah membaca winaya tanda-tanda dari Sanghyang Tunggal.

Bahkan Semar, telah bercengkerama dengan Sanghyang Langit, Semar, akan menyerahkan kosmos kepada kahyangan, jika terdesak, demi, menyelamatkan kehidupan para cucu-cucunya kelak. Matahari pun telah bersumpah dihadapan Semar, akan memberi terang seterang Sanghyang Tunggal, mencipta awalnya.

Jika di dalam terang, kami tak mampu mengungkap kebenaran, menjadi fakta material formal, kami bersedia dimusnahkan oleh Kakanda Sanghyang Langit. Demikian suara Matahari, Rembulan serta para Bintang, sangat santun, mengharukan. Semar, menyaksikan sumpah setia itu.

Semar, bersyukur dalam kalbu terbening, masih ada persaudaraan, kesetiaan, di antara mereka teramat kuat, bertekad bulat membasmi gerombolan raksasa hitam, keturunan devil lizard, penyebar racun perusak generasi, itu, tekad persaudaraan mumpuni.

The war of universe, alias perang bintang, akhirnya batal. Sebab Semar turun dari Kahyangan, menyampaikan pesan Sanghyang Langit atas restu Sanghyang Tunggal, bahwa langit tidak akan menggulung kosmos jika di antara para raja, serta para kesatria, menyadari, mengakui, bahwa telah terjadi secercah mata, pelanggaran aturan keadilan persaudaraan, di atas segala kebenaran, keadilan, kejujuran.

Setelah pesan itu disampaikan Semar. Para raja, juga para kesatria, menarik mundur pasukan masing-masing, pulang dengan damai.

Semar, menuju Karang Tumaritis tempat dia bermukim, kembali menyepikan diri, meditasi sunyi. Jika Semar, masih bertindak seperti itu. Pertanda bahwa planet Bumi masih gawat.

Hal itu adalah semacam isyarat asap api indian, bahwa mungkin masih ada gelap di antara para raja, juga di antara para kesatria, rentan dilanda penyakit kepura-puraan, serupa kepalsuan.

Lantas Semar, mengambil langkah bijaksana. Memohon pada Sanghyang Tunggal, untuk mempercepat kelahiran, Satria Akal Budi, kelak, akan mampu membasmi kelompok raksasa keturunan devil lizard, tanpa melalui ranah karma, the war of universe.

Para kesatria super sakti, antara lain, Gatot kaca, Antareja, Bimasena, cucu-cucu Semar, mendukung Gareng, Petruk juga Bagong, sebagai tim independen, pemegang hak atas mandat penuh, investigasi. Melaporkan segala bentuk pelanggaran disiplin, termasuk perkembangan cuaca secara berkala di luar sistem cuaca formal planet-planet, langsung kepada Semar di Karang Tumaritis.

Dalam diam, Semar, mendengar suara. Dalam sunyi, Semar, melihat cuaca. Dalam hening, Semar, melihat kabut hitam di batin gerombolan durjana manipulator-koruptif, raksasa hitam, keturunan devil lizard, biang kerok penyebar racun, bertujuan mengkerdilkan generasi.

Semar, bersunyi diri dengan khusyuk, terus mengumandangkan suluk doa cinta.

Bagi Semar, sebab diam adalah isyarat air. Sebab air bisa mencipta gelombang, badai tanpa suara, bersama kebenaran, nenegakkan keadilan, di kejujuran air.

Jakarta, Indonesia, October 5, 2019.
2