Menanti Keajaiban 7 Bintang Milenial Bergaji Rp51Juta Perbulan yang Bertabur di Istana

0
747

JAKARTASATU.COM – Beberapa hari kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi), telah memilih dan sekaligus mengumumkan jajaran staf khusus Presiden yang akan membantunya dalam menjalankan pemerintahan periode kedua selama lima tahun ke depan.

Ternyata pilihan Jokowi diberikan kepada bintang-bintang muda yang tengah bergelora dan moncer sinarnya.

Hal ini terlihat ketika Jokowi memperkenalkan ketujuh staf khususnya tersebut kepada publik pada Jumat (22/11/2019) lalu.

Yang jelas, seperti yang dilansir kompas dotcom (22/11/2019), dengan jabatan itu, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 144 Tahun 2015, para Staf Khusus tersebut akan mendapatkan hak bulanan sebesar Rp 51 juta.

Tentunya info ini sangat benar karena memang Perpres tersebutlah mengatur tentang besaran hak keuangan bagi Staf Khusus Presiden, Staf Khusus Wakil Presiden, Wakil Sekretaris Pribadi Presiden, Asisten dan Pembantu Asisten.

Di dalam pasal 5 beleid tersebut dijelaskan, hak keuangan yang dimaksud merupakan pendapatan keseluruhan yang diterima dan sudah termasuk di dalamnya gaji dasar, tunjangan kinerja, dan pajak penghasilan.

Lalu siapa saja dan seperti apa rekam jejak bintang-bintang milenial yang bertabur di istana untuk membantu Jokowi tersebut?

Anak muda yang terpilih ini umumnya adalah entrepreneur, sociopreneur, dan edupreneur yang notabene memang sangat merepresentasikan eksistensi generasi Milenial atau generasi Z (gen-z).

Anak-anak muda tersebut adalah Angkie Yudistia, Aminuddin Maruf, Adamas Belva Syah Devara, Ayu Kartika Dewi, Putri Indahsari Tanjung, Andi Taufan Garuda Putra, dan Gracia Billy Mambrasar.

Lalu apa saja kemampuan mereka selama ini sehingga bisa memikat hati presiden Jokowi? Seperti yang dilansir tirto dotid (22/11/2019) inilah detail rekam jejak mereka selama ini.

Pertama bintang milenial dari bidang entrepreneur. Di sini ada Putri Indahsari Tanjung.

Gadis usia 23 tahun ini merupakan putri dari pengusaha sukses Chairul Tanjung. Seorang baron media lewat konglomerasi CT Corp. Lulusan Academy of Art University di San Francisco, California, ini dipilih Jokowi dalam kapasitasnya sebagai pendiri Creativepreneur Event Creator.

Dituliskan di dalam laman websitenya, Putri Indahsari telah mendirikan Creativepreneur saat baru berusia 17 tahun, yang kemudian berkembang sebagai salah satunya “agensi kreatif bagi perusahaan di Indonesia yang ingin merambah pasar milenial.”

Selain Putri, masih ada lagi staf khusus dari kalangan entrepeneur yang lainnya. Dialah Andi Taufan Garuda Putra. Anak muda usia 32 tahun ini merupakan pendiri dan CEO Amartha. Sebuah perusahaan teknologi finansial peer-to-peer landing. Alumnus Institut Teknologi Bandung dan lulusan Harvard Kennedy School ini mendirikan Amartha pada 2010. Lewat perusahaan fintek itulah dirinya mampu menghubungkan investor dengan pengusaha mikro perempuan di perdesaan.

Kemudian dari bidang edupreneur ada Adamas Belva Syah Devara. Anak muda usia 29 tahun ini merupakan lulusan Massachusetts Institute of Technology, Stanford University, dan Harvard university, secara berturut-turut. Pada 2014, Belva Devara bersama koleganya Iman Usman mendirikan Ruang Guru. Sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada layanan berbasis pendidikan.

Dari laman websitenya, terlihat bahwa platform edukasi Ruang Guru disebut telah menggaet lebih dari 6 juta pengguna serta “mengelola lebih dari 150.000 guru yang menawarkan jasa di lebih dari 100 bidang pelajaran.” Belva Devara dan Iman Usman dipilih sebagai pengusaha sukses di bawah 30 tahun melalui ‘Forbes 30 under 30’ untuk teknologi konsumen di Asia.

Masih di bidang edupreneur ini, muncul juga sosok Gracia Bily Mambrasar. Anak muda usia 31 tahun ini berasal dari Papua yaitu suku Biak. Dia sukses mendirikan Kitong Bisa. Yaitu sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan inisiatif sosial dalam bidang pendidikan. Mambrasar, yang studi di Oxford ini, mendirikan Kitong Bisa pada 2009 demi membantu anak-anak Papua mendapatkan “pendidikan yang layak, yang mampu sukses dan terangkat dari garis it’s kemiskinan,” tulis laman di sebuah website yang dikutip tirto dotid (22/11/2019).

Selanjutnya dari bidang sociopreneur munculah sosok yang sangat menarik dan unik. Dialah Angkie Yudiatia, anak muda usia 32 tahun yang merupakan penyandang disabilitas tunarungu sejak usia 10 tahun. Pada 2011, Angkie mendirikan Thisable Enterprise yang berfokus “memberdayakan disabilitas Indonesia secara ekonomi di dunia kerja.

Sukses mengembangkan Thisabel sejak 8 tahun lalu, Angkie mengatakan “sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas, tetapi kita dianggap setara. Membentuk lingkungan inklusi.

Ia juga menambahkan, ” dengan melalui staf khusus presiden, mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih baik.”

Selanjutnya dari bidang Filantropi dan Santri ada Ayu Kartika Dewi, 36 tahun, yang merupakan pendiri SabangMerauke. Ini adalah program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia dengan tujuan menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Kartika Dewi juga adalah direktur pelaksana Indika Foundation, lembaga filantropi PT Indika Energy Tbk, anak usaha Indika Group. Ia juga pernah membantu Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Nama lain di bidang ini adalah Aminuddin Maruf. Pemuda usia 33 tahun ini merupakan mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (2014-2017) yang dikenal sebagai organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan kalangan nahdliyin dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Lulusan Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Trisakti ini juga pernah menjabat Sekjen Solidaritas Ulama Muda Jokowi.

Setidaknya ketujuh staf khusus muda yang dipilih Jokowi di atas memang memiliki rekam jejak yang tidak biasa.

Jika selama ini kita telah mengenal cerita tentang adanya tujuh bidadari yang akhirnya mengubah nasib Joko Tarub menjadi lebih sejahtera, semoga saja hadirnya tujuh anak muda di atas mampu membawa keajaiban bagi Indonesia. (WAW)