Pencopotan Dirut Garuda Indonesia, Konspirasi atau Cari Panggung?

0
597
Menteri BUMN Erick Thohir Mencopot Dirut Garuda terkait kasus Harley ilegal dan sepeda Brompton/Ist

JAKARTASATU.COM — Menteri BUMN Erick Thohir telah mencopot Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra alias Ari Askhara, dikarenakan ada bukti menyelundupkan komponen sepeda motor Harley Davidson dan dua sepeda Brompton.

Erick mencopot itu menyusul heboh Harley ilegal yang numpang di Airbus baru Garuda Indonesia, di dunia maya telah beredar nama-nama daftar penumpang pesawat yang terbang menggunakan pesawat Garuda A330-900 tersebut.

Pernyataan tegas Erick yang menyatakan mencopot bos Garuda tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, sore tadi (5/12/2019).

Baca keterangan lengkap Erick Thohir soal pemecatan Bos Garuda: Pecat Dirut Garuda, Erick Buktikan Bukan Sekedar Ngegas di Kata-kata

Akibat kasus ini menjadi kontroversi, JAKARTASATU.COM berhasil menghubungi dua pengamat salah satunya adalah dari Pengamat Politik Anggaran Center Budget Analysis (CBA) yaitu Uchok Sky Kadhafi yang mengatakan bahwa Erick Thohir sedang cari Panggung. “Panggung Erick sedang dimainkan, padahal banyak yang rugi besar tuh kasus Asuransi Jiwasraya yang merugikan negara sangat besar, seperti tenggelam,” ujar Uchok kepada wartawan JAKARTASATU.COM, Selasa, 10 Desember 2019 di bilangan Menteng Jakarta. 

Menurut Uchok bahwa kasus Garuda memang jadi panggung elit, disana ada Menkeu Sri Mulyani, Menteri Perhubungan Budi Karya dan yang jelas MenBUMN Erick Thohir. “
“Mestinya kasus yang merugikan Bos Samsung yang jadi korban gagal polis Jiwasraya Rp 8,2 Miliar didungkap juga, lanjut Uchok.
Lebih jauh Uchok menilai ada sejumlah korban berjatuhan akibat kasus gagal bayar polis asuransi Jiwasraya. Ini tak tertangani dengan baik, kasus ini bisa menggoyang industri asuransi Indonesia dan menjadi catatan buruk bagi pemerintahan Jokowi.

“Ini kasus  gagal bayar polis terbesar dalam sejarah di Indonesia. Bahkan korbannya tak hanya warga Indonesia semata,”paparnya.

 

Diketahui memang bahwa kasus Asuransi Jiwasraya ini terkuak dari hasil Rapat Dengar Pendapat yang digelar secara tertutup di Komisi XI DPR pada (7/11) pekan lalu, bobroknya kondisi keuangan asuransi pelat merah ini. Bukan main, seluruh indikator keuangan perusahaan berwarna merah. Jika jumlah aset Jiwasraya pada kurtal III/2019 hanya Rp25,6 triliun, sementara utangnya Rp49,6 triliun. Itu artinya, total ekuitas atau selisih aset dan kewajiban Jiwasraya minus 23,92 triliun. Jadi bisnis perusahaan ini tak bisa lagi menopang kerugian yang menyentuh angka Rp13,74 triliun per September 2019 lalu. Sebab semua premi yang dikumpulkan Jiwasaraya tergerus habis-habisan untuk pembayaran bunga jatuh tempo serta pokok polis nasabah yang tidak melakukan rollover.

Salah satu korban dari warga negara asing yang mencuat saat ini adalah yang menimpa Presiden Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Korea Selatan di Indonesia yang sekaligus bos atau VP Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun. Telah menjadi nasabah Jiwasraya sejak 2017, Lee mengeluh dananya macet di sana hingga mencapai Rp 8,2 Miliar.

“Mestinya Menteri BUMN bergerak cepat, dan menteri Sri Mulyani juga, jangan hanya cari panggung urusan Garuda,” tegas Uchok.

Kembali ke pencopotan Ari Askara dari kursi Dirut Garuda Indonesia Irwan Suhanto, aktivis  juga sekaligus pengamat politik mengatakan bahwa kasus Dirut Garuda Indonesia sarat konspirasi & penuh dengan intrik. “Mencopot atau memindahkan Direksi BUMN itu perkara ringan & lumrah, baru sekarang, untuk mencopot seorang Dirut BUMN sampai harus “menciptakan skandal” persoalannya bukan di Ari, tapi di Erick,” ujar Irwan kepada JakartaSatu.com Selasa, 10 Desember 2019 dibilangan Thamrin Jakarta Pusat.
Ditampahkan Irwan bahwa pemberitaan yang masif dan di framing sedemikian rupa membuat Ari langsung jadi pesakitan. Bayangkan, pencopotan Ari yang sebenarnya perkara ringan oleh Menteri BUMN, sampai haruss dilalui dengan jalan konspirasi, “Memaksa Ari mundur karena alasan ‘skandal palsu’. Baru setelah itu dicopot Dibuat amat dramatik,” ujarnya.
Ditambahkan Irwan bahwa ‘Skandal palsu’ yang dipakai gebuk Ari ialah tentang “harley davidson” yang diberitakan sebagai tindak pnyelundupan, berita muncul awal Desember, padahal barang sudah sampai di Jakarta sejak 17 November, artinya 2 minggu sebelum pemberitaan Bea cukai  sudah tahu, ada penyelundupan yang dilihat bea cukai terbuka?
“Berita tentang skandal itu dibuat seakan-akan  benar sudah terjadi penyelundupan, kalo itu penyelundupan & bea cukai tau tapi tidak menindak, maka seharusnya kepala bea cukai jug harus dicopot, masa ada penyelundupan dibiarkan terjadi di depan mata,” bebernya.
Masih kata Irwan bahwa skandal penyelundupan diperlengkap dengan kisah tentang seorang bernama putri, seorang pramugari Garuda, yang dikabarkan merupakan ‘gundik’ Ari.
“Bumbu panyedapnya adalah cerita bahwa untuk biaya makeover wajah putri, Ari menggunakan uang negara. Kisah karangan paling norak yang dibuat untuk mnghancurkan Ari, soal gundik, selain masalah privat, praktik itu juga kerap dimiliki banyak pejabat, dari zaman Indonesia merdeka juga sudah ada pejabat yang piara gundik banyak kok pejabat laki punya gundik, pejabat perempuan punya gundik laki, bahkan ada pejabat laki pnya gundik laki sekali lagi itu soal privat,” jelasnya.
Irwan juga mengkritisi Menkeu Sri Mulyani yang katanya betapa lucu, sekelas Sri Mulyani sampai mau-mauan konpres cuma mau ngomong itu pnyelundupan, sedangkan dua minggu sebelumnya anak buahnya di bea cukai justru hadir saat barang datang.
“Kenapa saat itu gak langsung pecat Dirjen bea cukai kerena abai biarkan pnyelundupan? Penyelundupan kok dihadiri bea cukai,” ungkapnya.
Akhirnya timbul pertanyaan apaakh kasus yang gede sekelas gagal bayar pembayaran polis dan pokok Jiwasraya masih belum ada kabar beritanya.  Atau memang kasus Garuda di goreng matang agar Jiwasraya yang kasusnya lebih besar dari kasus Century dikubur?
Padahal VP Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun pernah mengaku telah mengunjungi Kementerian BUMN maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tanpa hasil yang jelas. Nah loh…
Jika pemerintah tidak turun tangan dengan benar, kasus Jiwasraya ini bisa menjadi duri bagi Menteri BUMN Erick Tohir dan mencoreng citra pemerintahan Jokowi. Jadi lebih baik drama segera dihentikan sajja drama konspirasi atau cari panggung ini. |TIM REDAKSI/RED |AM/WAW/HER
Facebook Comments