Beranda Catatan Jakarta Jalan “Mesra” Ragunan

Jalan “Mesra” Ragunan

0
1841
Jalan Kebagusan Menuju Jalan alternatif Ragunan

Banyak jalan menuju Ragunan. Memang mau ke Taman Margasatwa Ragunan? Bukan begitu maksudnya jika kita ke kawasan daeran Ragunan banyak jalan menuju kesitu. Saya hanya ingin bercerita saja bahwa Ragunan ini menarik. Ada sebuah jalan alternatif yang menuju Ragunan.

Jika publik umum yang suka mengakses dengan kendaraan roda dua, atau pejalan kaki pasti jalan “mesra” Ragunan ini. Kenapa jalan “Mesra” karena di jalan ini indah. Akses menuju Ragunan dari Jalan Kebagusan Raya akan tembus ke Ragunan utama atau sentra Transjakarta dan juga kawasan atlit.

Kita tahu Taman Margasatwa Ragunan didirikan pada tanggal 19 September tahun 1864 di Batavia ( kini Jakarta ) dengan nama “Planten en Dierentuin” ini pertama kali di kelola oleh perhimpunan penyayang Flora dan Fauna Batavia (Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia ). Di laman ragunanzoo.jakarta.go.id secara singkat ditulis bahwa  Taman ini berdiri di atas lahan seluas 10 hektar di Jalan Cikini Raya No 73 yang di hibahkan oleh Raden Saleh, pelukis ternama di Indonesia.

Setelah Indonesia Merdeka, pada tahun 1949 namanya di ubah menjadi Kebun Binatang Cikini. Dengan perkembangan Jakarta, Cikini menjadi tidak cocok lagi untuk peragaan satwa. Pada tahun 1964. Pada masa Gubernur DCI Jakarta Dr. Soemarno dibentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang untuk memindahkan dari Jl. Cikini Raya no 73 Ke Pasar Minggu Jakarta Selatan yang diketuai oleh Drh. T.H.E.W. Umboh.

Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 ha di Ragunan, Pasar Minggu. Jaraknya kira-kira 20 Km dari pusat kota. Kepindahan dari Kebun Binatang Cikini ke Ragunan membawa lebih dari 450 ekor satwa yang merupakan sisa koleksi terakhir dari Kebun Binatang Cikini.

Dan pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur DKI ( Daerah Khusus Ibukota ) Jakarta Mayor Jenderal Ali Sadikin Kebun Binatang Ragunan dibuka secara resmi dengan nama Taman Margasatwa Ragunan. Pada tahun 1974 Taman Margasatwa Ragunan dipimpin oleh Benjamin Galstaun direktur pertama waktu itu.

Pada tahun 1983 berubah namanya menjadi Badan Pengelola Kebun Binatang Ragunan. Pada tahun 2001 berubah lagi menjadi Kantor Taman Margasatwa Ragunan. Tahun 2009 berubah menjadi UPT ( Unit Pelayanan Teknis ) Taman Margasatwa Ragunan. Pada tahun 2010 namanya berubah menjadi BLUD ( Badan Layanan Umum Daerah ) Taman Margasatwa Ragunan. Saat ini luas Taman Margasatwa Ragunan mencapai 147 Hektar dengan koleksi satwa 2101 ekor satwa dari 220 spesies.

Pada Tahun 2015 BLUD Taman Margasatwa Ragunan berubah namanya menjadi Kantor Pengelola Taman Margasatwa Ragunan sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

Kembali ke Jalan “Mesra” Ragunan bahwa jalan ini cukup banyak manfaat karena jalur potong yang akn ke Lenteng Agung, Depok atau sebaliknya. Sepanjang jalan ini di Paving Blok, namun kini sangat buruk kondisinya. Samping kiri jika dari ragunan ke arah Kebagusan ada taman Anggrek dan kita sangat bisa lihat atas atap rumah penduduk sedang samping kanan pohon besar menjual dan dibelakang kawasan atlit ragunan, sayang saat ini sedang di pasang papan proyek. Ini jalan mesra karena jalan ini sejuk. Untuk akses kesini memang tidak 24 jam kini ditutup aksesnya jika tengah malam.

Akses kesini bayangkan  bisa ribuan kendaraan roda dua begitu besar yang mengunakan jalur ini. Saya sedang  membayangkan  jika jalur alternatif ini tertata rapih warganya akan senang dan bahagia. Tapi mungkin juga pada saat titik kebahagianya belum tercapai. Selain jalannya makin jelak jalur ini kalau malam gelap gulita.

Saya sih yakin Center for Sosial Political Economic and Law Studies merilis hasil survei yang menyebutkan warga DKI Jakarta diklaim bahagia selama dua tahun pemerintahan Gubernur Anies Baswedan yang mengatakan bahwa

“Survei memotret delapan indikator, yaitu lingkungan sosial (keamanan, kebersihan, keindahan, ketertiban dan keharmonisan); birokrasi (pelayanan, kemudahan akses); tingkat korupsi (program, pungli, suap); kemiskinan (akses pekerjaan, kelayakan hunian); serta infrastruktur (pembangunan perawatan jalan, trotoar, akses jalan lingkungan, saluran air, jembatan penyebrangan, pasar, pembuangan sampah, gelanggang olahraga, dan akses difable),” kata Ubedilah saat diskusi hasil survei Pemetaan dan Evaluasi Kinerja Dua Tahun Gubernur Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Senin, 30/9/2019.

Mungkin belum lewat jalan mesra ini. Artinya Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Publik belum optimal. Mungkin saja jalur ini juga belum pernah ditapaki Pak Anies, padahal kalau naik sepeda seru loh…?

CATATAN JAKARTA BERSAMA AENDRA MEDITA