Chairman Grup Lippo Sebut Tak Kuat Bakar Uang, CEO OVO Bantah Diakuisisi SCTV

0
580
Setiap bulan OVO disebut menghabiskan US$50 juta (Rp 700 miliar) untuk bakar uang/Ist

JAKARTASATU.COM – Kabar santer yang berhembus belakangan ini menyatakan bahwa Lippo Group akan menjual sahamnya yang ada di OVO dan dibeli oleh  PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMT) yang merupakan induk dari perusahaan dari SCTV.

Menanggapi info yang beredar tersebut, CEO OVO Karaniya Dharmasaputra membantah kabar tersebut. Karaniya menekankan bahwa sampai saat ini belum ada perjanjian apapun dengan perusahaan yang merupakan induk SCTV tersebut.

“Enggak bener itu. Faktanya ya, sampai sekarang belum ada perjanjian apapun yang ditandatangani,” ujar Karaniya di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2019).

Secara tegas ia menyatakan bahwa pembahasan terkait pembelian saham oleh pemilik dompet digital DANA itu masih dalam tahap pembicaraan belaka.

“Kami selalu bicara dengan semua pihak, termasuk DANA. Kami tunggu tanggal mainnya saja,” ungkapnya.

Memang, kabar santer terkait pembelian saham OVO oleh EMTK ini ramai kembali dibicarakan, usai Lippo Group melepas dua pertiga kepemilikan sahamnya di dompet digital milik Grab Holding tersebut.

Adapun pelepasan sebagian saham tersebut diutarakan langsung oleh sang pendiri sekaligus Chairman Grup Lippo Mochtar Riady dalam acara Indonesia Digital Conference (IDC), Kamis (28/11/2019).

Mengenai alasannya, Mochtar mengatakan, Lippo melepas sebagian sahamnya karena tak kuat terus membakar duit untuk kegiatan promosi.

“Terus bakar uang, bagaimana kita kuat?” tutur Mochtar mengakui.

Menurut seorang sumber yang tak mau disebutkan namanya, tiap bulan OVO menghabiskan US$50 juta (Rp 700 miliar). Tentunya jumlah itu bukanlah nilai yang kecil.

Selanjutnya OVO dan DANA santer dikabarkan bakal menggabungkan dompet usahanya bersama. Sayangnya sampai saat ini, kedua belah pihak belum pernah memberikan jawaban pasti terkait rencana itu dan apalagi nilai kesepakatan yang menyertainya.

Lalu dengan melepas sahamnya di OVO apakah Lippo Group merugi? Menurut pengamat hal itu belum pasti. Pasalnya belum diketahui apakah tujuan Lippo melepaskan sahamnya agar tak terus terjebak ke dalam lubang yang lebih panjang? Atau sebaliknya, Lippo malah mendapatkan untung karena ia telah menempatkan modalnya lebih awal. Pasalnya tak bisa dipungkiri OVO saat ini telah berhasil meraih status unicorn yakni memiliki valuasi atau bernilai di atas US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun (kurs Rp 14.000). |WAW