POLITIK TRIBAL

0
505
Radhar Tribaskoro

Oleh Radhar Tribaskoro

Amy Chua adalah profesor hukum lulusan Harvard dan sekarang mengajar di Yale. Dia suka menulis. Salah satu tulisannya, berjudul Political Tribes, memiliki relevansi dengan Indonesia. Oleh karena itu saya tuangkan di sini.

Inspirasi penulisan buku itu berasal dari maraknya politik identitas di seluruh dunia. Bahkan di Amerika yang terkenal dengan melting potnya, muncul suara yang makin keras dari kalangan White Left, umumnya kaum pekerja berkulit putih, bahwa mereka semakin ditinggalkan. Donald Trump diyakini berhasil menunggangi majoritas miskin yang menginginkan disingkirkannya minoritas-pendominasi-ekonomi (market-dominant-minority).

Chua menganggap kaum white left itu sebagai tribal (suku) dalam politik. Tribal selalu bersaing dengan tribal lain terutama dalam bidang ekonomi. Ketidak-puasan membengkak bahkan bisa berubah menjadi kemurkaan bila dominasi ekonomi jatuh di tangan minoritas.

Dalam konteks amerika, kaum pekerja kulit putih (yang umumnya berada di pedalaman Amerika) memberontak kepada kaum coastal elite (kelompok elit yang umumnya tinggal di wilayah pantai) karena menganggap mereka sebagai market-dominant-minority.

Tribal coastal-elite ini umumnya berpendidikan universitas, berpandangan kosmopolitan dan berasal dari kelas menengah. Umumnya berafiliasi ke partai Demokrat, namun ada juga simpatisan partai Republik yang dianggap sudah “kehilangan jiwa Amerikanya”.

Kedua tribal itu telah bangkit, saling terus bertukar serapah, dan semakin dalam menghayati identitas tribalnya.

Tribalisme di Dunia

Di seluruh dunia, ketegangan diantara tribal-tribal politik kerap mendidih menjadi pertentangan kekuasaan. Market-dominant-minority – yaitu kelompok tribal yang menguasai sebagian besar sumberdaya negara sekalipun minoritas – adalah sumber utama ketegangan di semua negara. Tribal-tribal itu bisa berbeda karena agama atau suku, namun perbedaan yang paling menentukan adalah perbedaan kekayaan.

Orang kulit putih asal Eropa di Venezuela adalah market-dominant minority. Namun mereka memihak Hugo Chavez politikus yang mewakili majoritas berkulit gelap.

Afghanistan adalah contoh lain. Di sana kelompok minoritas Tajik yang kaya raya ditumbangkan oleh Taliban. Orang menempatkan Taliban sebagai musuh karena fundamentalis dan fanatik. Lepas dari kenyataan itu, Taliban ternyata adalah organisasi militer orang Pashtun, suku majoritas di Afghanistan.

Demikian juga di Iraq. Perang yang berkobar antara rejim Bashad melawan pembangkang-pembangkangnya gagal mengungkap realitas tribal di dalamnya. Di bawah tebalnya asap mesiu, konflik sebenarnya terjadi diantara kaum Suni yang minoritas dominan kaya, melawan kaum Shiah yang majoritas miskin.

Politik luar negeri AS di Afghanistan dan Iraq di kedua negara itu telah menemui kegagalan. Amerika mungkin berkemauan baik, tetapi kegagalan menyadari realitas tribal membuat mereka mengalami kerugian yang sangat besar. Ambil contoh Vietnam. Amerika melihat di negara itu terjadi konflik antara komunisme vs kapitalisme. Tetapi itu bukan realitas konflik sesungguhnya.

Dalam kenyataannya, tujuan orang Vietnam adalah untuk membebaskan diri mereka dari minoritas dominan ekonomi. Di Vietnam minoritas itu adalah orang Cina. Ketika Ho Chi Minh merebut kekuasaan di Vietnam Utara, ratusan ribu orang Cina melarikan diri ke selatan. Amerika Serikat segera turun tangan membantu sekutu “kapitalis”nya, keputusan yang justru membuat mereka terasing dari kebanyakan rakyat Vietnam.

Andaikata Amerika menyadari bahwa orang Vietnam lebih committed mendukung tribalnya ketimbang kapitalisme, mungkin Amerika akan mendekatkan diri kepada majoritas. Amerika mungkin bisa memperoleh dukungan lebih kuat.

Tribalisme di Indonesia

Menurut Chua, tribalisme adalah insting manusia paling tua dan paling kuat. Tribalisme memusat atas dasar banyak faktor. Bisa karena kesamaan suku, agama, ras, keyakinan politik, kepentingan bersama, dll. Tribalisme mempengaruhi bahkan mengubah cara pandang anggota-anggotanya tentang dunia di sekitar mereka. Tribal saling bersengketa berebut dominasi. Sengketa tidak akan terelakkan bila kelompok minoritas mendominasi ekonomi.

Dalam video di bawah ini (lihat menit 2:34), Chua melihat potensi konflik tribal di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa 3% minoritas Cina di Indonesia menguasai 70% ekonomi Indonesia.

Bagi Chua, kenyataan tribal di Indonesia dengan fenomena market-dominant minority yang sangat kental, ibarat bisul yang suatu ketika akan pecah.

Pertarungan kedua tribal telah pecah. Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019 adalah palagan tempat dimana tribal majoritas miskin berjuang untuk mengalahkan kandidat yang didukung oleh tribal minoritas cina.

Keduanya telah saling mengalahkan tetapi pertarungan ini akan terus berlanjut. Semakin lama akan semakin tajam.

Pemerintah nampaknya bergerak ke arah yang salah. Jokowi menganggap akar masalahnya adalah radikalisme dan intoleransi. Karena kesalahan ini ia akan kehilangan banyak dukungan.***

Facebook Comments